PLN: Solusi Energi Hijau, Warga Ende Memasak Lebih Murah

PLN hadirkan solusi energi hijau lewat pengolahan sampah, kini warga Ende NTT memasak lebih murah. Co-Firing PLTU Ropa manfaatkan sampah biomassa.
PLN hadirkan solusi energi hijau lewat pengolahan sampah, kini warga Ende memasak lebih murah. Co-Firing PLTU Ropa memanfaatkan sampah biomassa dari Desa Keliwumbu. (Foto: Tagar/PLN)

Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur - Ada yang berubah dalam kehidupan warga Desa Keliwumbu, Kecamatan Morolole, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bila sebelumnya warga memakai minyak tanah atau kayu bakar untuk memasak, kini mereka memakai pelet hasil olahan sampah biomassa yang diusahakan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Mereka senang berkat memakai pelet kini memasak jauh lebih hemat. Dengan memakai pelet, dapat sekaligus menjaga kebersihan lingkungan serta mengurangi emisi karbon.

Tak hanya itu, pelet dari Desa Keliwumbu juga telah dimanfaatkan untuk co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Ropa yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Desa Keliwumbu.

Stefanus Retang, seorang anggota pengolahan sampah Desa Keliwumbu, begitu semangat bercerita tentang hadirnya pengolahan sampah di desanya. 

“Sejak Desember 2020 di desa saya telah dibangun tempat pengolahan sampah. Saya dan teman-teman sangat antusias membantu tim PLN untuk segera membangun pengolahan sampah,” ujar Stefanus, Kamis, 24 Juni 2021.

Bagi Stefanus kehadiran pengolahan sampah benar-benar membawa angin segar yang sangat dibutuhkan warga. Pengolahan sampah menjadi solusi paling jitu mengatasi krisis energi di desanya. Selama ini, kata Stefanus, warga Desa Keliwumbu memakai banyak kayu bakar dan minyak tanah untuk memasak.


Sejak memakai pelet jadi jauh lebih hemat.


PLN EndePLN hadirkan solusi energi hijau lewat pengolahan sampah, kini warga Ende memasak lebih murah. Co-Firing PLTU Ropa memanfaatkan sampah biomassa dari Desa Keliwumbu. (Foto: Tagar/PLN)


“Harga minyak tanah di sini itu lumayan mahal. Kami mesti membeli satu jerigen isi 5 liter itu Rp 35.000, Rp 7.000 per liter dan setiap bulannya kami bisa menghabiskan biaya Rp 200 ribu sampai Rp 700 ribu. Malah, bila sedang langka harganya bisa mencapai Rp 10 ribu per liter. Sejak memakai pelet jadi jauh lebih hemat,” tutur Stefanus.

Sejak PLN hadir di desanya, Stefanus dan 7 rekannya menjadi pengelola pengolahan sampah diberikan pelatihan untuk pembuatan pelet dengan memanfaatkan sampah biomassa. Di antaranya sampah rumah tangga dan rumput yang memang melimpah di wilayahnya. 

“Kontur daerah kami ini savana ladang rumput. Bila rumput diambil, seminggu berikutnya sudah tumbuh lebat, jadi kami tidak akan kekurangan materi sampah untuk dijadikan pelet,” ujar Stefanus.

Tak hanya itu, para warga di sini sekarang memanfaatkan sampah biomassa yang sebelumnya terbuang sia-sia. 

“Kami bisa mengumpulkan sampah rumah tangga, sisa pertanian, perkebunan, dan lainnya. Pastinya kami tidak menebang pohon. Para warga desa perlahan mulai menyadari manfaat sampah dan kami juga lebih peduli pada lingkungan sekitar kami. Ada banyak manfaat yang sangat berguna dari sampah,” tutur Stefanus.

Stefanus bercerita dalam satu hari total sampah yang dihasilkan sebanyak 5 ton, yang jika diolah melalui proses peletisasi dengan konsep pengolahan sampah, dari sampah segar ini menyusut menjadi 2 ton.

“Pelet yang dihasilkan sebanyak 80 persen diserap untuk bahan bakar pembangkit PLTU Ropa dan 20 persen untuk kebutuhan memasak warga.” ujarnya.


Saya dan teman-teman sangat antusias membantu tim PLN untuk segera membangun pengolahan sampah.


PLN EndePLN hadirkan solusi energi hijau lewat pengolahan sampah, kini warga Ende memasak lebih murah. Co-Firing PLTU Ropa memanfaatkan sampah biomassa dari Desa Keliwumbu. (Foto: Tagar/PLN)


Saat ini pemakaian pelet pada warga memang terkendala pada kompor. Namun, sekali lagi PLN telah punya solusi. Saat ini sedang dikembangkan kompor buatan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Ende.

Mereka dilatih PLN membuat kompor pelet dengan teknik downdraft gasification jadi gasifikasi kompor (gasification stove). Kompor ini akan diluncurkan pada Jumat, 25 Juni 2021, bersamaan dengan acara Launching Continuous Firing Run. 

Bupati Ende memberikan kompor gratis untuk 35 kepala keluarga (KK) di Desa Keliwumbu.

Tak hanya itu, PLN juga telah melatih pengrajin ke desa keramik yang berhasil membuat kompor pelet dari tanah liat yang lebih murah.

“Karena akan percuma kalau ada pelet tapi warga tidak dapat memakainya karena tidak ada kompor. Semakin banyak warga yang memakai kompor pelet ini, warga banyak terbantu,” kata Stefanus.

Sebagai anggota pengolahan sampah di Kabupaten Ende, Stefanus akan tetap semangat mengembangkan pelet ini. “Saya dan warga merasa pelet ini menguntungkan. Selain itu, pengolahan sampah ini menjadi solusi bagi pengelolaan sampah di desa-desa.”


Secara tidak langung kami juga membantu pemerintah menurunkan jumlah subsidi minyak tanah.


PLN EndePLN hadirkan solusi energi hijau lewat pengolahan sampah, kini warga Ende memasak lebih murah. Co-Firing PLTU Ropa memanfaatkan sampah biomassa dari Desa Keliwumbu. (Foto: Tagar/PLN)


Efek Domino

Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi ketiga termiskin di Indonesia. Masalah ketersediaan energi yang terjangkau itu menjadi salah satu pemicu angka kemiskinan di wilayah ini.

Kehadiran shelter pengolahan sampah sejak Desember 2020 di Desa Keliwumbu, Kabupaten Ende, menjadi solusi jitu untuk menyediakan energi bersih pengganti minyak tanah warga.

Manager PLN UPK Flores, Lambok Renaldo Siregar, bercerita, tujuan awal PLN membangun pengolahan sampah di Desa Keliwumbu adalah untuk membantu mengelola sampah biomassa dengan mengolahnya menjadi pelet di tempat pengolahan sampah. Pelet tersebut kemudian dijadikan bahan bakar pengganti di PLTU Ropa.

“Namun ternyata dari hasil penelitian kami menemukan pelet sampah yang kita hasilkan sangat bermanfaat untuk masyarakat. Karena masyarakat di sini masih memakai kayu bakar atau minyak tanah saja. Minyak tanah mahal, sedang asap kayu bakar berbahaya. Sehingga kami uji coba dan ternyata pelet itu bisa dipakai untuk memasak. Dan juga lebih bersih karena menggunakan teknologi gasifier,” ujarnya.

Masih banyaknya penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak, Pemerintah Kabupaten Ende mendukung upaya PLN untuk mencegah penebangan hutan untuk memenuhi kebutuhan memasak. Bersama Pemerintah Kabupaten Ende, PLN menyederhanakan program co-firing untuk mendorong ketersediaan energi untuk rakyat.

“Jadi, secara tidak langung kami juga membantu pemerintah menurunkan jumlah subsidi minyak tanah. Bupati Ende ambisinya agar pada tahun 2030 di NTT itu subsidi bahan bakar minyak tanah itu bisa turun 50 persen,” tutur dia.

Dengan penggunaan pelet diharapkan bisa membantu meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Jika daya beli masyarakat membaik tentu saja pertumbuhan penjualan listrik juga bisa terdongkrak.

“Kami sudah hitung selisih BPP (Biaya Pokok Produksi) dengan pemakaian pelet itu sekitar Rp 130 juta per tahun. Tapi dengan tumbuhnya UMKM, pembuatan pelet, produksi kompor, penjualan listrik PLN bisa meningkat mencapai Rp 2,1 miliar,” tutur Lambok.


PLN EndePLN hadirkan solusi energi hijau lewat pengolahan sampah, kini warga Ende memasak lebih murah. Co-Firing PLTU Ropa memanfaatkan sampah biomassa dari Desa Keliwumbu. (Foto: Tagar/PLN)


Kearifan Lokal

Sementara itu, ada hal unik yang ditemui saat PLN membangun shelter pengolahan sampah di desa ini. “Di sini PLN tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu besar. Ini lantaran program pengolahan sampah itu sejalan dengan kebutuhan warga di sini. Harga minyak tanah begitu mahal, ” ujar Lambok.

Selain itu, jelas Lambok, ada nilai budaya atau kepercayaan masyarakat di Kabupaten Ende ini tentang api. Api bagi warga Ende memiliki makna mandalam bahkan menjadi simbol kehidupan. Api merupakan sumber kekuatan yang mampu mengusir roh jahat. Tak hanya itu, api juga dipandang sebagai simbol kejayaan dan kerja keras (gotong royong).

“Bahkan api adalah simbol dari musyawarah untuk mufakat di mana api dapat memberikan kehangatan di tengah dinginnya suasana musyawarah. Sehingga Mosalaki selaku pemimpin adat dapat menyelesaikan permasalahan sedang dihadapi masyarakat,” ujar Lambok.

Terkait dengan pengolahan sampah, Lambok melanjutkan, adanya budaya tentang ‘api’ yang berwarna merah inilah yang menjadi ‘penyambung” komunikasi dan edukasi pengolahan sampah, Ende. Karena bagi masyarakat Ende ‘api’ merupakan salah satu sumber kehidupan. Oleh karenanya pengolahan sampah, Ende mudah diterima masyarakat.


PLN EndePLN hadirkan solusi energi hijau lewat pengolahan sampah, kini warga Ende memasak lebih murah. Co-Firing PLTU Ropa memanfaatkan sampah biomassa dari Desa Keliwumbu. (Foto: Tagar/PLN)


Edu Wisata

Dalam pengembangan pengolahan sampah, di Desa Keliwumbu ini, muncul gagasan untuk membuka eduwisata, kata Lambok. “Eduwisata merupakan suatu program gabungan antara edukasi dan wisata yang dikemas menjadi satu untuk menjual inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat kurang mampu.”

Jadi para pengunjung bisa datang untuk melihat dan belajar langsung tentang proses pengolahan sampah. Tak hanya itu, peserta dapat ke PLTU Ropa, melihat pembuatan kompor buatan SMK Negeri Ende, kunjungan ke ACIL yang mengolah sampah kantong-kantong plastik kresek untuk dibuat menjadi sofa, batako, dan paving block. Selain itu pengunjung bisa menikmati alam, budaya, dan sejarah yang ada di Ende.

Eduwisata ini juga akan diluncurkan Jumat, 25 Juni 2021, ditandai dengan kunjungan batch pertama bersamaan dengan launching continuous firing run.

Teknis persiapan pengolahan sampah sudah berlangsung satu tahun. Diharapkan para wisatawan yang berwisata ke Labuan Bajo, juga akan berkunjung ke Ende. Keunikan pengolahan sampah di Kabupaten Ende yang merupakan kabupaten pertama di Indonesia yang melaksanakan program pengolahan sampah, secara lengkap.

Lambok menambahkan, sampah merupakan isu dunia dan belum ada satu teknologi yang benar-benar universal untuk membersihkan sampah secara menyeluruh. Selama satu tahun pengolahan sampah, mampu mensinergikan semua komponen daerah Ende untuk mengolah sampah menjadi produk kreatif dan menjadi energi kerakyatan.

"Pelaksanakan eduwisata yang dilaksanakan 4 hari ke depan dan hanya bisa dibatasi 15 peserta. Tentu saja kami melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Kami terbuka untuk daerah yang ingin mereplika konsep ini silakan berkunjung ke Ende dan belajar langsung," ujar Lambok. []


Baca juga: PLN Kucurkan Rp 20,8 Miliar Terangi 18 Desa Terpencil di NTT




Berita terkait
Listrik Andal! PLN Dukung Bisnis dan Tambang di Kalimantan
Memiliki ketersediaan daya listrik yang andal PLN siap mendukung pelaku bisnis, industri, dan investasi hingga pertambangan di Kalimantan.
Strategi PLN Amankan Listrik Blok Rokan Jaga Produksi Migas
Bob Saril, mengatakan, pihaknya berkomitmen menjaga keandalan pasokan listrik dan uap untuk mendukung pengoperasian Blok Rokan.
Solusi PLN Atasi Masalah Sampah di Surakarta
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Irwansyah Putra, mengatakan pembelian ini bentuk dukungan PLN mengatasi permasalahan sampah.
0
Wapres Minta Papua dan Papua Barat Terlayani Program Tol Langit
Wapres Ma’ruf Amin minta agar program Tol Langit sampai hingga ke seluruh penjuru Tanah Air, termasuk Papua dan Papua Barat