UNTUK INDONESIA
PJJ Dikritik, Orang Tua Siswa: Kuota Habis Jadi Masalah
Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai menuai kritik dari orang tua siswa.
Seorang siswa belajar secara daring dengan akses internet gratis dari Pemprov DKI Jakarta di Kantor RW 02 Kampung Internet, Galur, Jakarta, Kamis, 3 September 2020. Pemprov DKI Jakarta melalui program JakWifi menargetkan 9.000 titik akses internet gratis di seluruh Ibu Kota dalam dua bulan ke depan untuk membantu akselerasi transformasi digital di seluruh sektor terutama pendidikan, ekonomi, pemerintahan dan komunikasi masyarakat. (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

Jakarta - Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai menuai kritik dari orang tua siswa. Salah satunya muncul dari Muhammad Idris, orang tua siswa asal Makassar, Sulawesi Selatan. 

Ia mengeluh harus mengeluarkan dana tambahan untuk membeli kuota internet. Padahal, situasi perekonomian sedang sulit imbas pandemi Covid-19.

"Sejak bulan bulan April itu kita sudah mulai berusaha untuk beli kuota setiap bulannya, apalagi anak saya ada dua yang masih sekolah," kata Idris dalam webinar Tagar, Senin, 7 September 2020.

Agar kedua anaknya bisa mengikuti pembelajaran daring, mau tidak mau ia mengeluarkan dana tambahan sekitar Rp 150.000 setiap bulan. "Taruh lah satu anak butuh Rp 75.000 untuk kuota perbulan, jadi kurang lebih segitulah perhitungan kasarnya untuk dana kuota perbulannya," tuturnya.

Selain dana tambahan untuk membeli kuota internet, Idris mengeluh terkait ketersediaan jaringan internet di wilayah tempatnya tinggal. Sebab, tak semua provider memiliki jaringan internet yang bagus untuk mendukung proses PJJ kedua anaknya.

"Jika suatu saat anak-anak ada tugas dan kuota habis, itu jadi masalah. Belum lagi kalau ada kendala pada jaringan. Tidak semua operator di lokasi saya punya jaringan bagus, hanya ada beberapa operator saja. Sedangkan kebanyaka operator seluler disini sinyalnya lelet," ujarnya.

Internet GratisSiswa SD melakukan pembelajaran jarak jauh menggunakan kuota internet secara gratis di Warung Internet Covid-19, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 7 Agustus 2020. Warung Internet gratis tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat yang disediakan untuk membantu pelajar dan orang tua murid yang terkendala dalam pembelajaran jarak jauh secara daring pada masa adaptasi kebiasan baru dengan tetap membatasi jumlah anak dan menerapkan protokol kesehatan. (Foto: Antara/Novrian Arbi)

Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo mengatakan sebaran jaringan internet di Indonesia hingga saat ini masih belum merata. Jika dilihat melalui aplikasi Opensignal, wilayah Jawa bagian utara kata dia memiliki ketersedian sinyal yang mumpuni.

Tapi, jika turun sedikit ke bagian selatan Jawa, kondisi sinyal di wilayah tersebut dinilai masih kacau. "Untuk wilayah yang susah sinyal masih sangat banyak. Kalau kita lihat di Sumatera, kondisinya sinyal masih sedikit parah," tuturnya.

"Wilayah yang mulai parah kondisi sinyal ada di Kalimantan kemudian Sulawesi. Untuk wilayah yang paling parah tentunya di Maluku hingga ke Papua," kata Onno.

Demi mendukung kelancaran proses PJJ Kemendikbud, salah satu provider di Indonesia, yakni Telkomsel mengaku sedang mempersiapkan diri, baik dari segi pelayanan hingga jangkauan jaringan di wilayah-wilayah pelosok daerah.

"Kami telah memersiapkan dukungan dalam bentuk optimalisasi jaringan dan penyediaan kuota internet khusus, seperti memberikan kuota internet sebesar 10 GB hingga Desember 2020 demi kelancaran kegiatan PJJ selama pandemi Covid-19," kata Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro.

Selain itu, perusahaan operator pelat merah tersebut menyatakan telah melakukan percepatan pembangunan BTS (Base Transceiver Station) di area-area residensial. Hal tersebut dilakukan demi memastikan engalaman para pelajar dan pendidik dalam menjalankan proses pembelajaran jarak jauh secara daring.

"Hingga kuartal tiga tahun ini, Telkomsel telah melakukan percepatan pengoperasian tambahan 21.000 unit BTS 4G LTE baru yang berfokus di area residensial guna mendukung aktivitas digital masyarakat dari rumah," ucap Vice President Corporate Communications Telkomsel Denny Abidin kepada Tagar, Senin, 7 September 2020.

Pemerintah melalui Kemendikbud mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9 triliun untuk uang kuota internet. Anggaran tersebut diperuntukkan bagi tenaga pengajar dan peserta didik dalam menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama tiga hingga empat bulan ke depan.

Program ini diketahui akan memberikan kuota internet gratis sebesar 42 GB bagi tenaga pengajar, 35 GB untuk siswa, dan 50 GB bagi dosen dan mahasiswa.[]

Berita terkait
Telkomsel Siap Dukung Program Subsidi Kuota Internet
Telkomsel menegaskan bakal mendukung kerja pemerintah dalam program subsidi kuota internet bagi dunia pendidikan
Intip Kesiapan Telkomsel Dukung Program PJJ Kemendikbud
Perusahaan operator Telkomsel telah mempersiapkan dukungannya terhadap program PJJ yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dana Kuota Rp 9 T dan Dua Keunggulan Telkomsel
Perbandingan 5 provider komunikasi seluler i Indonesia, mencakup Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, 3 Tri, dan Smartfren. Siapa lebih unggul?
0
Menkes Terawan Bongkar Pasang Posisi, Achmad Yurianto Terimbas
Achmad Yurianto diketahui mendapat jabatan baru berdasarkan pemilihan yang dilakukan Menkes Terawan Agus Putranto.