UNTUK INDONESIA
Perusahaan Rokok AS Bikin Vaksin Virus Corona
Perusahaan raksasa rokok di Carolina Utara, Amerika Serikat (AS), Reynolds American, sedang membuat vaksin virus corona dari tembakau.
Anggota staf kesehatan dengan pasien di Wuhan, China. (Foto: businessinsider.sg/THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO/via REUTERS)

Jakarta - Perusahaan raksasa rokok di Carolina Utara, Amerika Serikat (AS), Reynolds American, sedang mengembangkan vaksin virus corona dari tembakau.

Perusahaan rokok ini sedang menginfeksi tanaman tembakau dengan virus corona yang dimodifikasi secara genetik untuk melihat apakah dapat memproduksi antibodi yang mungkin bisa dijadikan vaksin.

Mengutip dari situs web Politico, Senin, 17 Februari 2020, hal itu merupakan ide lama yang dilakukan perusahaan di balik merek Camel, Newport dan Pall Mall itu. Sebelumnya, Reynolds America mencoba mengembangkan hal yang sama selama krisis Ebola pada 2015.

Pekerjaan perusahaan rokok itu masih pada tahap yang sangat awal, artinya wabah bisa saja mereda sebelum vaksin itu berhasil dikembangkan dengan sempurna, dan beberapa vaksin mungkin tidak 100 persen efektif terhadap semua jenis penyakit, seperti halnya dengan Ebola. Faktor-tersebut telah menjauhkan sebagian besar perusahaan obat besar dari bisnis vaksin.

Pengembangan di balik upaya industri tembakau masa lalu untuk bercabang menjadi obat, tidak selalu sesuai dengan kondisi hari ini. Meskipun nikotin terbukti meningkatkan daya ingat pada pasien pre-demensia, sebuah pengobatan yang sangat dipuji gagal dalam empat uji klinis.

Beberapa upaya untuk memperluas penelitian ke kondisi lain juga belum membuahkan hasil. Dua vaksin Ebola nabati ditemukan lebih efektif daripada pengobatan yang Reynolds kerjakan, yang belum pernah disetujui oleh lembaga obat dan makanan Amerika (FDA).

Perusahaan-perusahaan tembakau masih terus maju, selain Kentucky BioProcessing, anak usaha Reynolds yang sedang menguji virus corona, Philip Morris telah mengambil 40 persen saham di Medicago, perusahaan yang menggunakan teknologi pertumbuhan tembakau yang sama untuk mencoba mengembangkan vaksin flu.

"Orang bisa bersikap sinis. Tetapi kenyataannya adalah bahwa kami mungkin dapat membantu," kata Hugh Haydon, CEO Kentucky BioProcessing.

Perusahaan telah menghubungi departemen kesehatan pemerintahan Donald Trump tentang pekerjaan yang terkait dengan virus corona itu dan mengatakan dapat memberikan sampel kepada pemerintah pada awal Maret 2020.

Kenneth Palmer, ahli mikrobiologi di Universitas Louisville yang fokus pada vaksin nabati menerangkan tidak menerima pendanaan dari industri tembakau, tapi universitas telah membayar Kentucky BioProcessing untuk penelitian tembakau pada masa lalu.

"Sebagai seorang ilmuwan dan peneliti, saya tidak antusias dengan bisnis memproduksi dan menjual produk-produk tembakau," kata Palmer. 

"Tetapi saya pikir perusahaan-perusahaan tembakau mungkin mengambil banyak pengalaman. Mungkin logis dan indah bahwa perusahaan tembakau ikut terlibat," ujarnya. []

Berita terkait
Corona Belum Usai, Virus Misterius Muncul di Brasil
Seorang ilmuwan telah mengidentifikasi virus misterius yang genomnya tampak seluruhnya baru bagi ilmu pengetahuan.
Lagi, 70 Orang di Kapal Pesiar di Jepang Kena Corona
Sebanyak 70 orang yang berada di kapal pesiar yang dikarantina di Jepang, dinyatakan positif mengidap virus corona.
Korban Tewas Virus Corona di China Terus Bertambah
Jumlah korban tewas akibat wabah virus corona di China hingga Sabtu (15/2/2029) total mencapai 1.665 orang.
0
Pengakuan Menantu Bunuh Sadis Mertua‎ di Pemalang
Pembunuhan menantu terhadap mertua di Pemalang terungkap jelas. Sang menantu akhirnya membeber penyebab ia menggorok leher mertuanya.