UNTUK INDONESIA
Perubahaan Perayaan Galungan di Bali saat Pandemi
Perayaan Galungan di tengah pandemi sangat berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Protokol kesehatan menjadi paling utama.
Masyarakat Hindu Bali merayakan Hari Raya Galungan dengan sembahyang di Pura dan menerapkan protokol kesehatan. (Foto: Tagar/Nila Sofianty)

Denpasar - Umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan yang jatuh setiap 210 hari sekali pada Rabu Kliwon Wuku Dungulan, menurut kalender Bali. Galungan yang dimaknai sebagai hari kemenangan kebaikan melawan kejahatan, untuk kali ini dirasa berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Warga Buleleng, Bali, Gede Apgandhi Pranata mengaku perbedaan perayaan Hari Raya Galungan tahun ini benar-benar terasa. Sejumlah rangkaian kegiatan untuk menyambut Hari Raya Galungan seperti Panampahan dengan memotong babi ada yang tidak dilakukan.

Meski prihatin keuangan, kami sekeluarga tetap menyembelih babi yang harganya tetap saja lebih tinggi dari biasanya sekitar Rp 200 ribu per kilogram.

Umumnya di Bali, babi selalu menjadi sarana saat Penampahan Galungan. Memotong babi saat Penampahan, memiliki makna untuk mengalahkan sad ripu atau enam sifat buruk dalam diri manusia.

“Meski prihatin keuangan, kami sekeluarga tetap menyembelih babi yang harganya tetap saja lebih tinggi dari biasanya sekitar Rp 200 ribu per kilogram,” ujar Apgandhi.

Meski di tengah pandemi Covid-19, dirinya tetap berangkat ke Pura untuk sembahyang. Hanya saja, saat di Pura ada perubahan dibandingkan sebelumnya.

“Kalau di Pura ada pembatasan orang terkait jumlah. Masing-masing beda, tergatung kapasitas dari pura itu sendiri. Protokol kesehatan tetap dijalankan, krama yang mau ke Pura wajib cuci tangan dan ukur suhu badan serta pakai masker,” kata dia.

Ia juga menjelaskan bahwa biasanya saat Galungan, keluarga besar mengawali Hari Raya dengan bersembahyang di sanggah (pura keluarga). Lalu Tirta Yatra ke Pura tertentu. Seusainya baru mereka bersilahturahmi ke sanak keluarga.

“Nah kondisi seperti sekarang Tirta Yatra jadi pertimbangan, karena pandemi ini. Sedangkan kalau silahturahmi masih seperti biasa. Tapi kalau ketemu orang lain, bahkan keluarga yang di luar utama masih dihindari,” kata dia.

Ia bersyukur keluarga besar sangat mematuhi bahayanya penyebaran pandemi ini. Ia mengungkapkan semua keluarga sangat paham dan saling mengingatkan.

“Palingan siaga pakai video call sebagai alternatif,” tuturnya.

Ia berharap pandemi Covid-19 bisa segera berakhir dan kehidupan bisa kembali normal.

"Kita semua masih prihatin dengan pandemi Covid-19. Karenanya saat berdoa tadi, selain meminta diberikan kesehatan, keselamatan dan kelancaran segala urusan, kami juga menyisipkan doa agar corona ini cepat berlalu di Bali,” ujar Gede Apgandhi.

Dandim 1617/Jembrana, Letnan Kolonel Hasrifuddin Haruma mengatakan perayaan Galungan di Jembrana, Bali berlangsung secara khidmat meski di tengah pandemi Covid-19. Ia mengaku ada pemantauan yang dilakukan di setiap Pura di Jembrana, khususnya terkait pelaksanaan protokol kesehatan.

"Saat Hari Raya Galungan dalam melaksanakan persembahyangan di beberapa Pura yang tersebar di wilayah Jembrana, akan menimbulkan terjadinya mobilitas orang dalam jumlah besar sehingga perlu adanya pemantauan serta pengecekan secara langsung terkait penerapan protokol kesehatan," ucapnya.[] 

Berita terkait
Budi Hartono Tolak PSBB, Ekonom: Jangan Balik Logika
Peneliti Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai ada yang salah dengan pandangan Bos Grup Djarum, Robert Budi Hartono soal PSBB.
Kisah di Balik Mahasiswa Menipu Rental di Yogyakarta
Mahasiswa Lampung melakukan penipuan dan penggelapan motor rental di Yogyakarta. Begini kisahnya.
Pemkab Bekasi Kembali Berlakukan WFH untuk ASN
Pemkab Bekasi, Jabar, kembali memberlakukan aturan work from home (WFH) untuk aparatur negeri sipil (ASN) yang bekerja di lingkungan Pemkab Bekasi
0
Perubahaan Perayaan Galungan di Bali saat Pandemi
Perayaan Galungan di tengah pandemi sangat berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Protokol kesehatan menjadi paling utama.