Indonesia
Permohonan Pengemis Modus Kaki Buntung Sebelum Digelandang Dinsos Jaksel
Pria berusia 29 tahun itu tak berkutik ketika diciduk di Taman Hang Tuah, Jaksel.
Dinsos Jaksel dan Satpol PP menangkap pengemis modus kaki buntung, Ismail (kaos abu-abu dengan jeans). (Foto: Dinsos Jaksel)

Jakarta, (Tagar 28/11/2018) - "Jangan tangkap saya pak, saya hanya mau cari makan."

Serak suara Ismail ditirukan petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, bernama Hendro. Pria berusia 29 tahun itu ditangkap petugas gabungan karena mengemis dengan modus kaki buntung.

Ismail tak berkutik ketika diciduk di Taman Hang Tuah, Jaksel, pada Selasa (27/11), sekitar pukul 09.00 WIB. Dia bingung ke mana akan lari, dikelilingi jejeran petugas P3S, serta Satpol PP yang telah mengambil ancang-ancang jika Ismail berani kabur.

Sekejab Ismail dinaikan ke mobil Dinsos Jaksel. Mukanya menunduk tak berdaya di dalam mobil berwarna biru-oranye yang dilapisi jendela berkerangkeng besi itu.

Setibanya di Kantor Dinsos Jaksel yang duduk sama dengan Walikota Jakarta Selatan, Ismail tetap tak mengeluarkan kaki kanannya yang dilipat, disembunyikan dalam celana jeans panjang miliknya.

Dia turun mobil, berpijak lantai halaman kantor Dinsos, masih menggunakan satu kaki. Tak lama kemudian petugas memberikan instruksi agar Ismail mengeluarkan kaki kanannya yang berada dalam pakaian.

Hendro menyebut, Ismail mengemis dengan modus kaki buntung untuk mendapat belas kasihan orang yang ditemuinya. Dengan cara duduk ditopang kedua tangan, Ismail menyeret tubuhnya ke sana ke mari sambil meminta-minta.

"Pengemis itu berjalan pura-pura ngesot, dan meminta-minta pada setiap orang yang melintas di jalan," urai Hendro kepada Tagar News, Rabu (28/11).

Pria Palembang mengaku berdomisili di Tangerang itu telah diintai petugas Dinsos Jaksel setelah ada laporan warga yang melintas ditempatnya mangkal, pada Senin (26/11). "Kita sudah dapat laporan hari Senin, dari warga yang melintas di sekitaran Hang Tuah dan Al Azhar Kebayoran," tambahnya.

Ismail kini tak lagi bisa menipu, dia menjadi warga binaan Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya I, Kedoya, Jakarta Barat sejak hari ini, Rabu (28/11). Namun, ada kemungkinan persoalan Ismail ini diserahkan ke pihak berwajib.

"Setelah itu adalah ranah panti untuk diserahkan ke pihak berwajib atau bagaimana," ujar Hendro.

Dinsos Jaksel memang kerap mendapat laporan warga sebelum bertindak terkait penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Diikuti upaya penertiban setiap hari. Petugas Dinsos Jaksel Suhardi mengaku pihaknya melakukan penyisiran setiap hari guna menjaring PMKS bermasalah, seperti pengemis, gelandangan, orang dengan masalah kejiwaan, orang sakit hingga pedagang asongan.

"Kami hanya menjalankan Perda No.8 tahun 2007 tentang penertiban umum," jelasnya.

Suhardi mengklaim, data PMKS di wilayah Jaksel cenderung menurun dalam 3 tahun terakhir. Tahun 2016 tercatat masih ada 1.938 jiwa yang menggelandang di  seputar Jaksel, tahun 2017 ada 1.492 jiwa, sementara tahun 2018 hingga Oktober tercatat ada 1.026 jiwa.



Berita terkait
0
Syed Saddiq Ajak Masyarakat Malaysia Maafkan Zakir Naik
Menpora Malaysia Syed Saddiq mengajak masyarakat di negaranya untuk lapang dada memaafkan kesalahan Zakir Naik atas ucapan kontroversialnya.