UNTUK INDONESIA

Berteman Gerobak Rujak Buah Hadapi Pandemi di Jakarta

Seorang penjual rujak buah di Pasar Baru, Jakarta, menceritakan bagaimana pandemi membuat omzet dagangannya menurun drastis.
Khodar sedang memotong-motong buah yang akan dijadikannya rujak buah. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Jakarta – Rintik hujan siang itu memaksa segerombolan orang berlari mencari tempat berteduh. Mereka memanfaatkan selasar pertokoan yang beratap di Pasar Baru, Jakarta Pusat, tidak jauh dari seorang pria renta yang berdiri di samping gerobak birunya.

Pria renta itu sedang membereskan dagangannya, agar tak basah oleh percikan air yang jatuh. Meski gerobaknya telah dipasangi payung, namun butiran air masih membasahi sebagian gerobak tempat buahnya.

Di bawah payung berwarna pelangi berdiameter cukup besar, Khodar, nama pria tua itu, dengan telaten mengupas dan memotong buah, kemudian melumurinya dengan gula merah cair.

Khodar mulai menjual rujak buah di Jakarta sejak tahun 1982. Pria kelahiran Cirebon tahun 1953 ini mengaku setiap hari berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Kaki tuanya masih cukup kuat berjalan dan mendorong gerobak itu menemui para pelanggan.

Lelaki yang hari itu mengenakan topi cokelat sebagai pelindung dari terik matahari dan tetesan hujan terlihat menyusun plastik mika tempat rujak buahnya.

Pesaing Tergulung Pandemi

Meski cuaca hari itu cukup dingin akibat hujan yang mengguyur, rujak buah yang dijual Khodar masih diminati pembeli. Dia tetap bercerita sambil melayani pesanan beberapa orang pembeli.

Dulu Khodar mangkal di Tanah Abang 1, dekat kantor wali kota dan di sekitar Pasar Sawah Besar. Tapi, saat ini dia tinggal di rumah kontrakannya di Karang Anyer dan menjual di sekitar Pasar Baru. 

Jauh juga, tapi kalau lagi nyari duit mau gimana lagi karena keharusan.

Biasanya Khodar berangkat dari rumah kontrakannya sekitar pukul 10.30 WIB, dan tiba di Pasar Baru kira-kira jam 11.00. Dia pulang saat toko-toko di Pasar Baru sudah tutup. Kadang saat azan Magrib berkumandang dia mulai membereskan dagangannya dan bersiap pulang.

Menurut Khodar, selama pandemi Covid-19, jumlah penjual rujak buah di Pasar Baru menurun. Padahal sebelum pandemi ada beberapa penjual rujak buah seperti dirinya. Selain sebagai rekan, mereka juga pesaing karena menjual dagangan yang sama.

Cerita Rujak Buah (2)Sejak pandemi Covid-19 melanda, beberapa pedagang rujak buah lain di Pasar Baru berhenti menjual. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

“Lagi pandemi ini, anak-anak nggak pada dagang, biasanya di sono ada, di situ ada. Sekarang udah pada jarang yang dagang di sini, cuma Bapake doang yang dagang,” ucap Khodar yang akrab dipanggil dengan nama Bapake.

Rujak buah yang dijual oleh Khodar dibanderol dengan harga Rp 15 ribu per bungkus. Isinya beragam jenis buah. Namun jika pembeli hanya menginginkan satu jenis buah, harganya berbeda. Jambu air merah, misalnya, dijual dengan harga Rp 20 ribu per bungkus karena harganya sedang melonjak tinggi. Sementara buah mangga harganya agak lebih murah karena menurutnya sedang musim.

“Di sini kan nggak ada, lagi pada kosong jadi semalem nyari-nyari karena persediaan juga sudah hampir habis,” tuturnya sambil menunjuk ke arah jambu yang ada di depannya.

Biasanya Khodar membeli buah untuk bahan rujak di Pasar Angke atau Pasar Induk mengendarai sepeda motor pinjaman.

Khodar menambahkan, sebelum pandemi dirinya berbelanja setiap hari. Namun saat pandemi buah yang biasanya habis terjual dalam sehari terpaksa harus dihabiskan dalam waktu tiga hari atau lebih. Biasanya dia membeli hingga 20 kilogram buah.

Jika telah lebih dari tiga hari, kadang ada buah yang busuk. Buah busuk itu tidak bisa lagi dijual atau digunakan.

“Saya buang. Kalau enggak bisa dimakan ya dibuang. Gitu, Neng, kalau orang dagang mah rasanya sudah kurang enak mau nggak mau harus dibuang.”

Tidak jarang dia dan rekan-rekannya saling bertukar buah yang sudah dikupas saat senja mulai menyapa. Sebab buah-buah yang sudah dikupas tidak bisa digunakan kembali keesokan harinya.

“Kadang kasih ke temen yang lain, kayak tuker-tukeran saja gitu,” ucapnya.

Agar kesegaran buah di dalam etalase kecil berukuran 120 x 100 cm itu terjaga, dia meletakkan sebongkah es batu di dalamnya.

Dalam sehari ia bisa menghabiskan setengah hingga tiga per empat es balok. Jika esnya masih tersisa saat dia tiba di rumah, es itu akan dimasukkan ke dalam boks es bersama buah-buah yang masih segar. Setengah balok es dibelinya dengan harga Rp20 ribu atau Rp 40 ribu untuk satu balok esnya.

Rahasia Pembuatan Sambal Rujak

Selain buah segar dan es batu, bahan lain yang dibutuhkan adalah sambal rujak. Untuk membuat sambal rujak yang enak, Khodar menggunakan gula merah, cabai rawit, asam Jawa, dan garam, dengan takaran tertentu. Biasanya dia menggunakan lima kilogram gula merah.

“Sekarang ya, Neng, dagang lagi sepi, ukuran ember penuh ini sebesar lima kilogram sudah lima hari juga nggak habis. Biasanya segini dua hari sudah habis, sekarang kadang seminggu juga nggak habis, masih nyisa.”

Sementara, untuk sambal serbuk, dia menggunakan garam yang ditumbuk bersama cabai rawit sehingga warnanya putih bercampur merah.

Cerita Rujak Buah (3)Khodar menuangkan sambal rujak pada buah yang telah dipotongnya. Untuk membuat sambal, dia memiliki resep khusus. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Khodar mengaku memiliki banyak cerita suka maupun duka dalam menjual rujak buah. Dulu dia tak hanya menjual rujak tetapi juga bermacam buah, tergantung pada musimnya. “Kalau lagi musim jambu, dagangnya jambu, kalau rambutan dagang rambutan dulu bapak ingat banget ada yang borong.”

Sekarang ia mengaku fisiknya sudah melemah dan tidak bisa segesit dulu mencari buah yang ingin dijual saat musimnya tiba.

Cobaan dalam menjual rujak buah, kata Khodar, adalah saat musim hujan tiba. Dulu, mau tidak mau dia harus berteduh jika hujan turun, sebab dia menjual dengan gerobak pikul. Tapi sejak beberapa tahun lalu dia menggunakan gerobak dorong, sehingga cukup dirinya saja yang berteduh, gerobak dan dagangannya aman. “Paling neduh nih sebentar lagi, karena ada Neng aja ngajak ngobrol,” ujarnya.

Untuk bisa menjual dengan mangkal di Pasar Baru, Khodar mengaku harus membayar uang sewa, bayar parkir, dan uang untuk keamanan per hari Rp 10 ribu. Padahal pendapatannya dari menjual rujak buah tersebut tidak menentu.

“Namanya kita usaha buat makan, sama bayar ke pak RT Rp 5 ribu sehari.”

Uang hasil berdagang rujak buah bisa digunakannya untuk menyekolahkan kedua anaknya, yang saat ini keduanya sudah berumah tangga dan memberinya cucu.

Alhamdulillah anak saya dua-duanya dapat sekolah. Sekarang saya sudah mempunyai dua cucu. Anak saya yang laki-laki anaknya laki-laki, yang perempuan anaknya perempuan.”

Meski sudah memiliki anak dan cucu, Khodar tinggal sendirian di Jakarta. Istri dan anak perempuannya tinggal di Cirebon. Sementara anak laki-lakinya tinggal di Bekasi.

“Saya di sini kalau sudah sebulan pulang, cuma sekarang sudah sebulan lebih belum pulang karena belum dapat duit. Bulan ini saja baru ngasih duit ke istri Rp 200 ribu dan Rp 150 ribu. Sekarang dagang untungnya cuma buat makan bapake doang sama kebutuhan sehari-hari kayak rokok.”

“Yang penting kita bisa usaha, intinya kita masih bisa usaha terutama dikasih kesehatan dululah, kalau sudah sehat kita bisa apa aja gitu,” kata Khodar. []

(Sarah Rahmadhani Syifa)

Berita terkait
Mitos Buaya Putih dan Hantu Selong di Bendungan Menganti
Bendungan Menganti di perbatasan Cilacap dan Ciamis menjadi lokasi penemuan mayat. Ada mitos tentang buaya putih dan hantu Selong di sana.
Kisah Orang Kristen Kebaktian di Masjid
Nabi mengizinkan orang Kristen kebaktian di masjid. Tidak seperti Rizieq Shihab tanya bidan Yesus siapa, atau UAS bilang ada jin kafir di salib.
Buruh Wanita Tangerang Jadi Pondasi Keluarga di Masa Pandemi
Seorang buruh wanita di Tangerang menjadi tulang punggung keluarga di masa pandemi. Selain beerja di pabrik, dia juga membuka warung bersama suami.
0
Berteman Gerobak Rujak Buah Hadapi Pandemi di Jakarta
Seorang penjual rujak buah di Pasar Baru, Jakarta, menceritakan bagaimana pandemi membuat omzet dagangannya menurun drastis.