UNTUK INDONESIA
Perjalanan Buruh Pabrik di Tangerang Meraih Mimpi
Seorang buruh pabrik di Tangerang yang mengisahkan perjalanan hidupnya mulai saat awal merantau hingga saat ini mendapatkan jabatan di kantornya.
Renita Komalasari, perempuan asal Lampung yang sempat menjadi buruh pabrik dan menyelesaikan kuliahnya di Tangerang. (Foto: Tagar/instagram @renita_k.s)

Tangerang – Perempuan berusia 27 tahun itu berpenampilan cukup modis dengan hijab yang menutup kepalanya. Lesung pipit pada pipi kirinya menambah manis senyuman yang tersungging. Kulitnya yang putih bersih menambah kesan cantik Renita Komalasari, nama perempuan itu.

Perempuan yang kini menempati jabatan yang cukup tinggi di salah satu pabrik elektronik di kawasan industri Jatiuwung, Kota Tangerang ini dulunya merupakan buruh wanita di pabrik tempatnya bekerja.

Renita yang berasal dari Lampung ini menginjak Tangerang setelah meyelesaikan sekolahnya di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Lampung, tepatnya pada tahun 2012.

Dia mencoba mengadu nasib di kota berjuluk 1001 industri, seperti ratusan bahkan ribuan perantau lain yang datang ke Tangerang.

"Buat saya, meninggalkan kampung halaman tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi karena itu sudah pilihan saya, jadi harus saya jalanin," kata Renita kepada Tagar, Selasa 20 Oktober 2020.

Perjuangan Meraih Mimpi

Perjuangan Renita untuk meraih mimpinya dimulai saat dia tiba di Tangerang. Waktu itu dia hanya membawa satu tas ransel di punggungnya dan dua tas jinjing berisi pakaian dan perlengkapan sehari-hari.

Bus yang ditumpanginya berhenti tidak jauh dari salah satu kawasan industri di Tangerang. Pikiraan Renita saat itu adalah mencari tempat tinggal. Dia yakin di sekitar kawasan industri pasti banyak tempat kos atau kontrakan.

Kebetulan waktu itu, Bus yang saya tumpangi berhentinya tidak jauh dari salah satu kawasan industri, dan saya yakin di sekitar sana pasti banyak kontrakan. Saat itu saya naik ojek sambil mencari kontrakan yang bisa saya singgahi.

Kala itu Renita mencari tempat tinggal dengan harap-harap cemas. Dia melihat cukup banyak rumah kontrakan atau tempat kos, tapi ternyata tidak mudah mendapatkan tempat tinggal yang cocok dengan keinginan dan uang di kantong.

Selain itu, banyak rumah singgah yang memiliki ruang tiga sekat (kontrakan) maupun yang hanya satu petak (tempat kos) sudah dihuni oleh buruh yang sejak lama merantau.

"Saya habiskan waktu kira-kira sekitar dua jam dan akhirnya saya dapat kontrakan yang lumayan nyaman," kata Renita mengenang.

Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Renita mendapatkan tempat tinggal berupa rumah singgah berukuran 3x9 meter yang mempunyai tiga sekat ruangan. Pemilik kontrakan mematok harga Rp 800 ribu per bulan.

"Kalau sekarang sudah naik, kontrakannya aja udah Rp 1 juta, ditambah listrik sama air, ya satu bulan bisa habis sekitar Rp 1,3 jutaan. Lumayan nguras gaji, hahaha," ujarnya.

Setelah mendapatkan tempat tinggal dan menata barang bawaannya, Renita memberi kabar pada keluarganya yang ada di Tangerang, sekaligus bertanya tentang informasi lowongan kerja.

"Ya jadi waktu itu sepuluh surat lamaran itu saya sebar ke seluruh pabrik sesuai informasi yang diterima dari beberapa saudara. Soalnya pabrik sendiri jarang membuka lowongan pekerjaan secara terbuka. Jadi lamaran saya titipkan di pos satpam saja," kenang Renita.

Dari beberapa surat lamaran yang dikirimkan, ada satu pabrik elektronik yang memintanya hadir untuk mengikuti tes.

Kesempatan emas tersebut tidak disia-siakan oleh Renita. Setelah melewati sejumlah prosedur baku dari perusahaan, wanita yang saat itu berusia 19 tahun pun bisa langsung bekerja sebagai buruh pada keesokan harinya.

"Allhamdulillah saat itu bisa diterima kerja, dan sampai saat ini aku masih kerja di sana," kata Renita.

Sebagai buruh pabrik, Renita termasuk salah satu perempuan yang beruntung. Sebab, jadwal kerjanya tidak berubah, atau nonshift. Sehingga jadwal kesehariannya pun tetap teratur.

Cerita Buruh Tangerang (2)Renita Komalasari (kanan), saat mengabadikan moment wisuda bersama keluarga tercinta. (Foto: Tagar/instagram @renita_k.s).

"Ya jadi selama ini, aku bangun pagi, berangkat kerja. Pulang kerja sore. Kalau tidak ada kegiatan lain saya habiskan waktu di kontrakan aja," ujar Renita.

(QC). Tempat yang jauh dari pekerjaan kasar, kotor, bau, ataupun bising. Pekerjaannya hanya melakukan pengecekan dari hasil produksi.Renita ditempatkan di bagian quality control (QC). Tempat yang jauh dari pekerjaan kasar, kotor, bau, ataupun bising. Pekerjaannya hanya melakukan pengecekan dari hasil produksi.

"Kerja saya mengontrol barang hasil produksi. Barang yang bagus bisa langsung dipacking. Yang jelek langsung direject atau dibuang," ungkapnya.

Beli Motor dan Kuliah

Pada awal bekerja, Renita berangkat dan pulang kerja menggunakan jasa ojek. Hal itu berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Dia pun berpikir bahwa akan lebih hemat jika dirinya membeli sepeda motor sebagai alat transportasi dan membayar ojek setiap hari.

KebetulanRenita memiliki tabungan sebesar Rp 2 juta dari hasil kerjanya. Dia pun memberanikan diri untuk membeli sepeda motor secara kredit atau mencicil.

"Jadi saya punya tabungan sekitar Rp 2 jutaan, nah yang Rp 1 juta saya jadikan dp (down payment atau uang muka) untuk kredit motor. Lalu cicilannya Rp 600 ribu per bulan selama 3 tahun. Kalau dihitung, saya jauh lebih untung dari pada naik ojeg setiap hari. Nah sekarang motor saya yang saya parkir itu sudah lunas mas," kata Renita sambil menunjuk bebek skutik yang digunakannya selama delapan tahun.

Setelah membeli sepeda motor, satu per satu peralatan rumah tangga dan alat elektronik dibelinya, mulai dari televisi, kulkas, kompor gas, mesin cuci, dan beberapa peralatan lainnya.

"Satu-satu itu aku cicil dari hasil uang gajian. Soalnya itu barang-barang yang dipake sehari-hari. Jadi saya ga usah ke laundry, makan tinggal masak sendiri, ya buat kebutuhan di rumah yang masih sendiri begini buatku cukup lah," ucapnya.

Setelah dua tahun menjadi buruh di pabrik, Renita kembali mencoba memperbaiki nasib. Kali ini dia berniat untuk melanjutkan pendidikannya. Renita mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta di Tangerang.

Salah satu tujuannya adalah ingin meningkatkan kariernya di perusahaan tempatnya bekerja. Terlebih perusahaan itu cukup bonafit.

"Aku berpikir karir ku ini harus menanjak. Apalagi perusahaan ini terbilang cukup bonafit dan membuka peluang bagi karyawan yang memiliki prestasi lebih. Makanya aku ingin kuliah buat menopang skill dan kemampuanku," kata Renita melanjutkan.

Setelah diterima menjadi mahasiswi, otomatis kegiatannya pun bertambah banyak. Dia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja sebagai buruh pabrik.

Saat pagi Renita harus menyiapkan kebutuhannya sebagai buruh pabrik, kemudian sore hari sepulang kerja, dia harus pulang, mandi, dan berangkat ke kampus. Hampir tidak ada waktu luang untuk Renita, kecuali saat hari libur.

"Jadi aku berangkat kerja jam 07.30 wib, pulangnya jam 16.00. Aku pulang ke kontrakan sebentar buat mandi. Abis itu sekitar jam 17.30 wib aku berangkat kuliah hingga kembali ke kontrakan sekitar setengah sebelasan," ucapnya kembali mengenang.

Aktivitas yang begitu padat tersebut, tidak hanya menguras fisik Renita. Uang gajianya pun ikut terkuras dalam untuk membiayai kuliahnya. Dirinya harus membayar uang kontrakan setiap bulan, cicilan sepeda motor, uang kuliah, serta harus membeli segala perlengkapan dan kebutuhan harian.

Namun tekadnya yang kuat dan kegigihannya berjuang untuk meraih mimpi membuatnya mampu melewati segala kesulitan itu. Setelah berhasil menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar sarjana ekonomi, kariernya pun menanjak.

Renita bahkan bisa mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung halaman. Hal itu merupakan kebanggaan dan kegembiraan tersendiri untuknya.

"Jadi setelah aku meraih gelar sarjana ekonomi, karierku di pabrik juga menanjak. Dengan jabatanku sekarang, aku bisa ngirimin rezeki untuk keluarga di Lampung," kata dia. [] (PEN)

Berita terkait
Harapan Besar Pembuat Keripik Pisang Kepok di Bantaeng
Seorang pemuda di Bantaeng, Sulawesi Selatan memroduksi keripik pisang kepok dari bahan lokal di daerahnya. Ini harapannya pada pemkab setempat.
Kucing Mahal Milik Mantan Relawan Tsunami Aceh
Kucing menjadi hewan peliharaan favorit sebagain warga Aceh, termasuk seorang mantan relawan kemanusiaan saat tsunami tahun 2004.
Kue Bolu Permintaan Anak Aceh yang Dibunuh Pemerkosa Ibu
Rangga, anak berusia 9 tahun yang dibunuh oleh pemerkosa ibunya di Aceh Timur ternyata memiliki permintaan terakhir yang tak sempat dipenuhi.
0
Perjalanan Buruh Pabrik di Tangerang Meraih Mimpi
Seorang buruh pabrik di Tangerang yang mengisahkan perjalanan hidupnya mulai saat awal merantau hingga saat ini mendapatkan jabatan di kantornya.