Perempuan Afghanistan yang Ditembak Suami Bicara di Kanada

Perempuan Afghanistan yang ditembak wajahnya oleh suaminya bicara di hadapan publik di Kanada mengajak dunia memerangi KDRT
Perempuan Afghanistan, Shakila Zareen, korban kekerasan dalam rumah tangga, kini tinggal di Kanada. (Foto: voaindonesia.com/VOA)

Jakarta – Sekitar 52% perempuan di Afghanistan pernah mengalami kekerasan di rumah mereka (dikenal luas sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga/KDRT). Ini menurut Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO). Seorang perempuan Afghanistan, Shakila Zareen, dibikin cacat oleh suaminya, tetapi kini memiliki kehidupan yang lebih baik sekaligus membela hak-hak perempuan.

Pada usia 15 tahun, Shakila Zareen menikah di negara asalnya, Afghanistan. Ketika berusia 16 tahun, suaminya menembak wajah Shakila sehingga cacat seumur hidup

“Terkadang saya ingin terbangun untuk mendapatkan suatu keajaiban jika wajah saya kembali seperti semula. Akan tetapi saat bangun, saya sadar tidak ada keajaiban."

Perempuan Afghanistan itu tidak berhenti berjuang untuk keamanan, kebebasan dan kehidupan yang lebih baik. Pada tahun 2013, Zareen mendapat suaka di Kanada di mana ia mewujudkan mimpinya

perempuan kanadaPerempuan Afghanistan, Shakila Zareen, korban kekerasan dalam rumah tangga, kini tinggal di Kanada. (Foto: voaindonesia.com/Courtesy)

“Saya dilarang pergi ke sekolah. Tapi, setelah mendapatkan suaka di Kanada, impian saya terwujud untuk kembali ke sekolah. Hari pertama sekolah, ketika duduk di samping teman sekelas, saya menangis. Namun, itu adalah air mata kebahagiaan," tutur Zareen.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, bertemu Zareen dan menjanjikan dukungan sepenuhnya.

“Selain banyak hal, bantuan terbesar pemerintah Kanada adalah untuk perawatan wajah saya. Mereka membiayai 15 operasi sejauh ini," kata Zareen.

Zareen mengungkapkan meski suaminya melakukan beberapa tindakan yang kejam, pendapatnya tidak dinilai penting di Afghanistan. Sekarang, ia memperjuangkan ribuan suara yang tak terdengar dengan berbicara di hadapan publik.

shakilaShakila Zareen, perempuan Afghanistan yang ditembak suaminya di wajah, bersama Perdana Menteri Kanada. (Foto: voaindonesia.com/Courtesy)

“Di Kanada, saya tampil sebagai seorang pembicara di depan umum. Menuntut keadilan bagi kaum perempuan yang menghadapi kekerasan, saya menceritakan kisah yang menyakitkan dalam hidup saya, dan kehidupan perempuan Afghanistan lainnya yang sama seperti saya, kepada seluruh dunia," kata Zareen.

Zareen mendapat dukungan dari kelompok-kelompok yang juga memerangi kekerasan dalam rumah tangga termasuk Dr. Lauryn Oates.

“Kami memberinya dukungan terkait upaya mempersiapkan presentasi dan membuatnya sangat aktif di bidang itu. Ia sangat berani menceritakan kisahnya, tidak hanya di Kanada melainkan di negara-negara lain di seluruh dunia. Ia berbicara tentang masalah kekerasan terhadap perempuan dan dampaknya dalam hidupnya sendiri," kata Dr. Lauryn Oates.

Zareen mengatakan masyarakat harus bersatu untuk memerangi masalah global tersebut.

“Shakila tidak dapat mengubah dunia sendirian. Semua perempuan yang menghadapi kekerasan itu harus bersatu. Kita tidak boleh menangis dan tetap tinggal di rumah saja karena itu tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, kita harus bersatu melawan mereka yang terlibat dalam kekerasan terhadap perempuan." (mg/lt)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
10 Juta Anak-anak di Afghanistan Berisiko Alami Kelaparan
Organisasi kemanusiaan katakan sekitar 10 juta anak di Afghanistan yang dilanda perang berisiko tidak memiliki makanan pada 2021
Wartawan Perempuan di Afghanistan Ditembak Mati
Malala Maiwand, jurnalis perempuan dan aktivis hak-hak sipil di Afghanistan ditembak mati dalam perjalanana ke kantornya di Jalalabad, Afghanistan
0
Ditemukan 215 Kerangka Anak-anak Penduduk Asli di Kanada
PM Kanada sebut penemuan lebih dari 200 kerangka anak-anak yang dikubur di bekas sekolah asrama penduduk asli bukan insiden terpisah