UNTUK INDONESIA
Penyebaran Islam di Thailand Melalui Masjid Al Husein
Masjid Wadi Al Husein merupakan saksi bisu masuknya Islam ke Thailand.
Masjid Wadi Al Husein adalah salah satu peninggalan dalam sejarah penyebaran Islam di Thailand bagian selatan, tepatnya di Provinsi Narathiwat, Selasa (3/9/2019). (Foto: Antara Foto/Syaiful Hakim)

Jakarta - Masjid Wadi Al Husein merupakan saksi bisu masuknya Islam ke Thailand. Masjid ini salah satu peninggalan dalam sejarah penyebaran Islam di Thailand bagian Selatan, tepatnya di Provinsi Narathiwat.

"Masjid ini dibangun pada 1014 Hijriah. Saat itu nama daerah ini masih di Teluk Manok," kata Khatib Masjid Wadi Al Hussein, Yusuf (54) di Lubuk Sawo, Bachok, Narathiwat, Thailand, dilansir dari Antara, Selasa, 3 September 2019.

Dia menuturkan usia masjid tersebut telah mencapai lebih dari 300 tahun. Dan, seiring berjalannya waktu, masjid itu telah dua kali mengalami perbaikan pada bagian fondasi masjid.

"Pertama kaki-kaki masjid yang dari kayu diperbaiki, namun karena termakan usia dan lapuk, pondasi kaki masjid ditambahi semen pada 1357 Hijriah," ujar pria kelahiran di Pattani, Thailand ini.

Yusuf yang telah mengurusi masjid selama 25 tahun ini mengemukakan, penamaan masjid yang memiliki luas kurang lebih 180 meter persegi itu diambil dari nama orang yang membangun pertama kali.

"Dibangun oleh Wadi Al Hussein, alim ulama di sini pada masa dulu," kata Yusuf.

Imam masjid saat ini adalah Ramli Talokding (63), yang merupakan generasi ketujuh Wadi Al Hussein.

Menurut dia, ada kedekatan emosional antara Wadi Al Hussein dengan salah satu wali nusantara yakni Sunan Ampel. Wadi Al Hussein konon ceritanya sepupu dengan Sunan Ampel dari Demak.

"Masjid ini pernah didatangi (katanya) Sultan Demak, Sultan Palembang. Dari Malaysia macam datuk-datuk datang untuk melihat," ujarnya.

Masjid yang terbuat dari kayu itu terjadi terkesan sederhana dan mirip rumah panggung yang di atap sudut masjid dipasang beberapa kipas angin.

"Bangunan masjid menggunakan kayu yang orang Melayu sebut kayu cengah. Ada kolaborasi budaya Melayu dan China (di segi arsitektur masjid). Budaya Melayu nampak pada ukiran bunga yang ada di ujung-ujung atap. Budaya Cina nampak pada atap masjid," ujar Yusuf.

Yusuf menuturkan sempat terbersit niat memugar masjid agar lebih besar dan menampung lebih banyak umat, tetapi tidak jadi lantaran akan mengurangi keaslian arsitektur masjid.

"Mau (dibangun) lebih besar juga. Tapi lebih baik tetap menjaga keaslian. Untuk menjaga masjid ini diperlukan sifat sabar, kepandaian, bersatu padu, sifat ikhlas," ucap Yusuf. []

Berita terkait
Masih Ada Indonesia di Masjid Cempaka Putih
Hari ini hati saya meleleh. Sebuah foto indah tiba-tiba tersaji di depan mata. Umat Kristen melakukan ibadah di sebuah masjid di Jakarta.
Masjid Sriwedari Solo Representatif jadi Islamic Center
Menko Kemaritiman Republik Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan meninjau lokasi lahan untuk membangun masjid hadiah dari Putra Mahkota Arab Saudi.
Masjid Raya Sumatera Barat Kian Ramah Disabilitas
Masjid Raya Sumatera Barat telah menjadi rumah ibadah ramah disabilitas dengan tersedianya empat buah kursi roda.
0
Wagub Sulsel Minta Pasien Corona Dirawat di Makassar
Wagub Sulsel meminta kepada seluruh kabupaten/kota yang memiliki ODP, PDP dan OTG serta pasien positif Covid-19 agar dirujuk ke Makassar.