Penyebaran Covid-19 Tak Terkendali Tanpa Tes Massal

Kasus konfirmasi positif Covid-19 terus bertambah, sedangkan tes massal Covid-19 hanya dijalankan secara parsial di beberapa daerah
Pejalan kaki memakai masker untuk melindungi dari penyebaran virus corona di jalan-jalan di Taipei, Taiwan, Selasa, 31 Maret 2020. (Foto: koreatimes.co.kr/AP).

"Tes, tes, tes." Inilah yang berkali-kali dikatakan oleh Tedros Adhanom Ghebreyesus, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO), kepada negara-negara yang memerangi pandemi virus corona baru (Covid-19) pada konferensi pers tanggal 16 Maret 2020.

Kok tes?

Tentu saja tes. Tes lagi. Lagi-lagi tes. Kalangan ahli yang menyimak dan menyibak keberhasilan Korea Selatan (Korsel) menghadang pandemi Covid-19 menunjukkan hal itu terjadi karena Negeri Ginseng itu menjalankan tes massal yang terorganisir dan sistematis dengan skala nasional.

1. Korea Selatan Jalankan Tes Sebelum Ada Kasus Covid-19

Dalam bahasa lain Tedros mengatakan: Bagaimana Anda bisa memadamkan api dengan mata tertutup? Artinya, bagaimana sebuah negara bisa mengendalikan penyebaran Covid-19 tanpa ada peta penyebaran virus. Mustahil.

Angka kasus terbanyak Covid-19 di Korsel hanya berasal dari satu komunitas keagamaan yaitu 5.000 kasus dari 9.300 warga Korsel yang mengikuti acara keagamaan tsb. Wabah ini terjadi tanggal 18 Februari 2020 yang berawal dari seorang peserta keagamaan dengan kode “pasien 31” terdeteksi positif Covid-19. Dengan jumlah kasus sampai tanggal 6 April 2020 sebanyak 10.237 itu artinya kasus murni yang penularannya terjadi di masyarakat hanya 5.237.

ilus2 opini 6 apr 20Wanita pakai masker berjalan di sekitar pusat kota Barcelona, Spanyol. (Foto: thesun.ie/EPA).

Yang paling jitu adalah langkah negeri itu memutuskan tes massal yang setiap hari bisa mencapai 20.000 setiap hari di 633 anjungan tes dengan skala nasional. Sampai 6 April 2020 Korsel sudah mengetes 461.233 dari 52 juta warga. Ini menjadikan proporsi tes 8.996 per 1 juta penduduk.

Selain itu keputusan tepat dilakukan negara yang semula diperkirakan akan jadi episentrum corona setelah China adalah menjalankan tes corona walaupun belum ada kasus yang terdeteksi. Kasus pertama Covid-19 dilaporkan tanggal 20 Januari 2020 yaitu salah satu anggota sekte keagamaan. Tapi, tes sudah dijalankan negara itu sejak tanggal 2 Januari 2020.

Episentrum corona global justru ‘menyeberang’ ke Eropa, dalam hal ini Italia. Episentrum lagi-lagi ‘menyeberang’, kali ini ke Amerika Serikat (AS). Italia sendiri disalip Spanyol dalam jumlah kasus positif Covid-19.

“Senjata” Korsel dalam “berperang” dengan pandemi Covid-19 bukan bedil, tapi perangkat lunak tes Covid-19. Negara itu tiada henti melakukan tes Covid-19 kepada warganya sejak tanggal 2 Januari 2020, padahal di negaranya belum ada kasus konfirmasi positif Covid-19. Tapi, kerja keras negara itu membuahkan hasil. Episentrum corona melangkahi negara itu dan sekarang pun posisi Korsel jauh dibawah negara-negara Eropa dengan kasus konfirmasi positif corona lebih dari 30.000.

2. Banyak Daerah yang Tidak Jalankan Tes Massal

Dari tabel di bawah ini bisa disimak langkah beberapa negara dalam menegakkan tes Covid-19. Ada korelasi yang berarti antara jumlah tes serta proporsinya dengan jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19.

ilus tes covidJumlah dan proporsi tes Covid-19 di beberapa negara. (Foto: Tagar/Syaiful W Harahap).

Maka, amatlah tidak masuk akal penanggulangan Covid-19 di Indonesia tidak menegakkan tes Covid-19 secara massal. Yang terjadi hanya parsial, seperti di Jakarta dan beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat, serta Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ketika ribuan warga mudik dari berbagai daerah ke berbagai daerah di Nusantara merupakan waktu yang pas untuk melakukan tes Covid-19 sambal mereka menjalani isolasi mandiri selama 14 hari.

Namun, menjalankan tes massal pun sudah jauh dari langkah yang dilakukan Korsel karena tes di Indonesia baru dimulai setelah pandemi menyebar. Kasus konfirmasi positif Covid-19 dari tanggal 2 Maret 2020 sampai tanggal 6 April 2020 pukul 12.00 WIB dilaporkan sebanyak 2.491 dengan 209 kematian dan 192 sembuh.

Banyak daerah yang tidak menegakkan tes massal Covid-19 karena tidak ada kasus yang terdeteksi. Tapi, ini perlu dipertanyakan: Apa yang dilakukan oleh daerah-daerah (provinsi, kabupaten dan kota) itu dalam mendeteksi kasus Covid-19 positif?

Kalau hanya menunggu warga berobat ke fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas dan rumah sakit, itu disebut pasif. Ketika ada warga yang terdeteksi positif Covid-19 itu artinya sudah ada kontak dengan warga lain. Jika contact tracing tidak dilakukan segera, maka penyebaran virus corona secara horizontal antar penduduk akan jadi ‘bom waktu’ ledakan Covid-19. [] 

Berita terkait
Jakarta Bisa Jadi Episentrum Corona di Indonesia
Salah satu langkah yang konkret untuk mengatasi penyebaran virus corona (Covid-19) adalah tes Covid-19 yang sistematis terhadap warga
Ridwan Kamil di Trek yang Benar Penanganan Covid-19
Kasus Covid-19 banyak terdeteksi di Jawa Barat merupakan langkah yang tepat karena banyak kasus terdeteksi kian banyak rantai penyebaran diputus
Melihat Proporsi Tes Covid-19 di Beberapa Negara
Ketika pandemi virus corona (Covid-19) berkecamuk di Wuhan banyak yang berpikir Korea Selatan giliran selanjutnya, kenyataan itu tidak terjadi
0
Politikus PDIP Jagokan Andika Perkasa Jadi Panglima TNI
Politisi PDIP Effendi Simbolon menjagokan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa menjadi Panglima TNI mengantikan Hadi Tjahjanto.