TAGAR.id, Bireuen, Aceh - Setelah jembatan Bailey Teupin Mane viral diduga sejumlah baut jembatan itu dilepas oleh orang tidak dikenal (OTK) beberapa hari yang lalu, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dapil Aceh, Sudirman Haji Uma, ikut mengecek jembatan tersebut.
Kedatangan anggota DPD itu tidak sendiri, komedian yang akrab disapa Haji Uma dengan membawa sejumlah wartawan ke lokasi jembatan, pada Kamis (2/1/2026).
Saat melihat baut pada jembatan tersebut, sambil divideokan Haji Uma menjelaskan berbagai dugaan, di antaranya, baut jembatan tersebut pendek dan diduga tidak dilepaskan, melainkan terlepas oleh guncangan jembatan tersebut.
Alhasil, video Haji Uma menyebar di berbagai akun media sosial (Medsos). Namun, sangat disayangkan karena dimanfaatkan oleh penggiat media sosial (Medsos) berbagai asumsi dengan pelintiran, terkesan seperti disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, salah alias tidak benar.
Hal tersebut turut mendapat respon dari seorang Babinsa Koramil 05/Juli, Kodim 0111/Bireuen. Serma Hasanuddin yang bertugas sebagai Babinsa di Desa Teupin Mane. Dia pun menyayangkan inisiatif anggota DPD itu hadir tanpa koordinasi dengan perangkat desa.
Proses pekerjaan pembangunan jembatan Bailey Compack di KM 57 Wih Pase, Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Bener Meriah, Aceh, oleh para prajurit TNI pada malam hari pada Rabu (17/12/2025). (Foto: TAGAR/Dok/Fotografer Laung).
Serma Hasanuddin mengatakan, tak mengetahui kedatangan Haji Uma untuk mengecek jembatan. Bahkan, Serma Hasanuddin mengetahuinya tanpa sengaja setelah melihat ada sejumlah orang di jembatan membuat dia mendatangi kerumunan.
“Awalnya saya tidak tahu ada anggota DPD, Haji Uma, ke lokasi mengecek jembatan Bailey Teupin Mane. Kebetulan setiap sore saya ngopi di warkop sekitar jembatan. Melihat ada sejumlah orang di lokasi, saya pun menghampiri, terlihat ada Haji Uma sedang mengecek jembatan,” ujar Babinsa.
Serma Hasanuddin menyebutkan, sesampai di lokasi, Haji Uma bertanya. “Bapak siapa? Warga di sini, apa jabatan Bapak di kampung ini? Sebut Babinsa menirukan perkataan Haji Uma.
“Saya Babinsa di sini, ada apa Pak,” ujarnya. Haji Uma pun menanyakan, sebagai Babinsa, bagaimana bisa kejadian di jembatan ini, sedangkan jembatan ini dijaga 24 jam. “Tidak ada penjagaan Pak, setelah kejadian baru dijaga, itu pun patroli sekali dua jam,” terang Babinsa.
Haji Uma pun menanyakan kembali tentang kendaraan lalu lalang yang melintas di jembatan itu. Kendaraan hanya melintas satu per satu.
Serma Hasanuddin pun menjelaskan, kendaraan yang melintas di jembatan tidak ada masalah, mereka lewat seperti biasa sendiri, begitu pun antrean bergantian sendiri, Artinya kondisi mulai berangsur normal.
Selanjutnya, Haji Uma mengajak Babinsa dan diikuti sejumlah wartawan, untuk ditunjukan bagian jembatan yang more atau baut yang dibuka.
“Saya tunjukan beberapa komponen yang dibuka dan yang sudah diganti, termasuk beberapa Bendera Merah Putih yang terpasang di jembatan tersebut juga dicopot dan ada yang dipotong oleh orang tidak dikenal itu (OTK),” ujar Serma Hasanuddin.
“Karena kejadian itu hampir bersamaan, jumlah bendera merah putih yang kita pasang di jembatan ada sekitar tiga puluh empat bendera, tetapi yang dicopot sekitar sepuluh,” ungkapnya lagi.
Selanjutnya, Serma Hasanuddin pun mengajak Haji Uma dan rombongan ke warung kopi yang ada di sekitar depan ujung jembatan.
Pada saat di warung kopi, Haji Uma kembali bertanya. “Jadi Bapak sebagai Babinsa di sini yakin nggak itu orang yang mencuri atau yang merusak.” Serma Hasanuddin menjawab: Yakin. “Karena yang membuat laporan itu saya,” terangnya.
Haji Uma juga menanyakan, apakah betul Pak Babinsa yang membuat laporan ke Kasad? “Iya betul laporan dasarnya dari saya. Saya Babinsa disini, walaupun laporan melalui atasan,” tegasnya.
Lalu, Haji Uma mengungkapkan kepada Babinsa. “Bapak tahu enggak ini marwah kita, orang Aceh ini sudah rendah seperti ini. Kesannya kita ini semuanya pencuri ataupun penjahat seperti dibilang Kasad itu. Jadi ini harus kita buat berita bahwa tidak benar kejadian seperti ini,” ujar Haji Uma kepada Babinsa.
Serma Hasanuddin mengatakan. “Begini Pak, kita ini dari kecil lahir dididik, beragama Islam, berpendidikan umum sampai sekarang sudah dewasa, sudah bekerja di negara, sudah jadi orang tua. Kenapa pola pikir kita ini mau membela yang salah dan mau menyalahkan yang menyampaikan berita yang benar,” katanya dengan tegas.
Seharusnya, sambung Serma Hasanuddin, kita menyalahkan orang yang berbuat salah. Jadi bukan sebaliknya.
Lantas Haji Uma pun mengatakan, “Pak Babinsa tau tidak politik.” Babinsa tersebut menjawab, “Oh Bapak mau berpolitik di sini, silahkan Bapak berpolitik, tapi saya tidak ikut-ikutan, saya ini tentara, saya satu Komando, tegas dari bawah ke atas jelas,” ujar Serma Hasanuddin.
“Kalau Bapak mau berpolitik, sambung Serma Hasanuddin, silahkan, saya tidak ikut-ikutan, tetapi dengan saya, fakta apa adanya, dan orang di sini yang sangat tegas terhadap benar dan salahnya segala sesuatu, sayalah orangnya,” tegas Babinsa.
Serma Hasanuddin mengatakan, dalam pembahasan ini, salah satu tokoh masyarakat, M. Nasir Hamid, dan juga seorang ASN di Kabupaten Bireuen memberikan pendapat. Bagi Serma Hasanuddin mereka menceritakan yang sesuai dengan kemauan dan sependapat dengan Haji Uma.
Namun, Babinsa itu langsung angkat bicara. “Bapak jangan seperti itu, di kampung ini, Bapak lahir di sini dan sampai tua di sini, dan saya jadi Babinsa juga sudah lama di sini,” ujar Serma Hasanuddin.
Babinsa itu pun menjelaskan, bahwa berkaitan dengan kejadian ini, bukan dia yang melihat pertama, akan tetapi, yang melaporkan kepadanya adalah seorang ketua ormas pemuda. Kebetulan keberadaanya saat itu di Kota Bireuen, lalu dia melaporkan kepada piket di Koramil setempat, kemudian petugas piket bersama ketua ormas pemuda tadi ke lokasi.
“Sesampai petugas piket dan ketua pemuda di jembatan, melihat dan menyaksikan banyak mur dan baut yang sudah terbuka. Jadi, malam itu, ketua pemuda dan piket Koramil memasang kembali sejumlah baut walaupun dalam gelap,” ujar Serma Hasanuddin.
Sekitar pukul 07.00 WIB dia mendatangi lokasi dan mendokumentasikan sejumlah titik baut yang dilepaskan dari jembatan, termasuk membuat laporan. Serma Hasanuddin membuat berita berupa imbauan kepada Grup Desa Teupin Mane dan Grup BKM Mesjid Baitulhuda, agar kejadian itu tidak terulang kembali.
Selain itu, Serma Hasanuddin menyebutkan, Haji Uma mengajak saya beserta beberapa rombongan wartawan balik ke jembatan. Di jembatan, Haji Uma diwancarai oleh sejumlah wartawan, dia juga turut diwawancarai.
“Nah, hasil wawanca Haji Uma itu saya lihat di Medsos Facebook dan berita media online dan TV, sedangkan hasil wawancara saya itu tidak ada, bisa saja tidak dipostingkan, mengapa?” ungkapnya.
Menurut Serma Hasanuddin, Haji Uma mau mengajak saya biar sepakat dengan beberapa tokoh masyarakat, untuk membuat berita, bahwa yang disampaikan Kasad itu salah. “Menurut saya, arah tujuanya ke situ, agar marwah diri orang Aceh tidak ada perbuatan seperti itu,” sebutnya.
“Begitu pun yang disampaikan seorang ASN, M. Nasir Hamid, saat itu juga diwawancarai, bahwa dia juga tidak sepakat seperti yang disampaikan Kasad, Jenderal TNI Maruli, bahwa ada orang merusak jembatan segala macam.
Menurut Babinsa, apa yang disampaikan M. Nasir Hamid juga sesuai dengan kemauan Haji Uma. Padahal dia juga tidak tahu tentang kejadian itu, dan setahunya Pak Nasir di kampung, dia adalah seorang tokoh kritis, tetapi dia PNS.
“Pada saat Haji Uma datang mengecek itu, saya langsung sudah paham, ini maksut tujuannya ke mana. Maka pertanyaan dia saya pangkas semua,” ujar Serma Hasanuddin.
Foto bersama. Personel TNI jajaran Kodam Iskandar Muda foto bersama di atas jembatan Bailey Teupin Reudep di Gampong Cot Bada, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, pada Kamis (18/12/2025). (Foto: TAGAR/Dok/Fotografer Laung).Pertanyaan Haji Uma tentang menjaga jembatan 24 Jam
Babinsa menerangkan, pada saat pekerjaan pembangunan jembantan, secara otomatis dijaga, baik TNI dan polisi. Tetapi, setelah pembangunan jembatan selesai, dan peresmian boleh digunakan, itu tidak ada lagi penjagaan, karena arus lalu lintas sudah berangsur normal.
“Arus lalu lintas Bireuen - Takengon, jumlah kendaraan yang lewat tidak sama seperti jalan Medan - Banda Aceh seperti di Kuta Blang. Jadi mungkin Haji Uma ini beramsumsi dan mengatakan bahwa ada penjagaan siang dan malam. Mungkin dia dengar dari media sosial, bukan melihat fakta di lapangan,” tegas Serma Hasanuddin.
Respon Masyarakat Jembatan Bailey Rampung Dibangun
Babinsa menyebutkan, bahwa masyarakat sangat senang, justru warga mengatakan sangat berterima kasih kepada semua pasukan TNI Zipur yang membangun. Bekerja siang dan malam.
Sampai ada pernyataan ibu-ibu warga setempat yang mengungkapkan, “Untung ada tentara-tentara itu yang membangun jembatan, kalau tidak kita bagaiman mau lewat kesana-kemari, kan terisolir kita disini,” ujar Serma Hasanuddin menirukan ungkapan warga.
Serma Hasanuddin menilai, dugaan baut-baut itu sengaja dibuka, tidak dibuang, dan diletakan di atas badan jalan jembatan, mungkin asumsi mereka, pada saat kendaraan berat lewat itu harus jatuh.
“Begitu jembatan tumbang atau rusak, jadi kalau rusak, tentara yang membangun ini agar citranya jelek, seolah-olah kerjanya tidak bagus. Kalau cuma diganggu ‘kan mur dan baut itu pasti dibuang,” ujar Serma Hasanuddin.
Babinsa Serma Hasanuddin pun menyayangkan, seharusnya saat kehadiran Haji Uma beserta rombongan mengecek jembatan tersebut, agar diinformasikan terlebih dahulu.
“Seharusnya hadirkan baik yang membangun orang Zipur yang paham, dari Koramil dengan Polsek hadir, beserta tokoh masyarakat juga dihadirkan. Baru kita nanti di situ sama-sama menyampaikan berita apa adanya,” imbuh Serma Hasanuddin.
“Kalau dia tujuan datangnya untuk kebaikan. Tapi kalau datangnya secara diam-diam bawa media, yang masing-masing mengambil dokumentasi. Saya menilai, dengan kehadiran saya, tiba-tiba di situ, mereka merasa risih, tidak sesuai dengan harapannya. Dia tidak bebas membuat berita. Bahkan lebih aneh lagi, mengapa saya sudah di wawancarai, tetapi hasilnya tidak terbit beritanya di media,” ujar Serma Hasanuddin dengan penuh tanda tanya. (Laung). []