UNTUK INDONESIA

Pengantin ISIS Ancaman Keamanan Serius Bagi Inggris

Seorang perempuan yang bergabung dengan ISIS di Suriah akan menimbulkan "ancaman yang jelas dan nyata" terhadap keamanan nasional Inggris
Shamima Begum di Bandara Gatwick, Inggris, 2 Februari 2015. (Foto: Dok/voaindonesia.com/AP).

London - Seorang perempuan yang bergabung dengan ISIS di Suriah akan menimbulkan "ancaman yang jelas dan nyata" terhadap keamanan nasional Inggris, apabila dibolehkan kembali ke Inggris untuk mengajukan banding atas keputusan untuk mencabut kewarganegaraannya. Hal ini disampaikan oleh pemerintah Inggris kepada Mahkamah Agung, 23 November 2020.

Pemerintahan berhaluan konservatif itu telah meminta pengadilan tertinggi di negara itu untuk memutuskan apakah Shamima Begum, 21 tahun, boleh pulang untuk mengajukan banding secara tatap muka atas keputusan pada tahun 2019 yang mencabut kewarganegaraan Inggrisnya.

Pengadilan banding mengabulkan gugatannya pada Juli 2020, tapi pemerintah langsung mengajukan kasasi. Pemerintah bersikeras bahwa Begum masih "beraliansi" dengan kelompok ISIS.

"Memaparkan publik kepada risiko terorisme tidak dapat dibenarkan atau pantas dalam kasus ini atas dasar keadilan," kata James Eadie, pengacara yang mewakili Kementerian Dalam Negeri Inggris, kepada panel yang beranggotakan lima hakim itu.

"Yang kami tegaskan adalah mereka yang melakukan perjalanan (ke Suriah) .... menimbulkan ancaman jelas dan nyata, terutama sekembalinya (mereka)," jelasnya.

Begum berusia 15tahun ketika dia dan dua siswi lain dari Bethnal Green, London timur, lari dari rumah untuk bergabung dengan kelompok ekstremis itu pada 17 Februari 2015.

Dia mengklaim menikah dengan seorang mualaf asal Belanda, setibanya di wilayah yang dikuasai ISIS itu. Begum ditemukan dalam keadaan hamil sembilan bulan di sebuah kamp pengungsi Suriah pada Februari tahun lalu.

Bayinya meninggal dunia tak lama setelah dia melahirkan. Dua anak Begum lainnya juga telah meninggal dunia di bawah kekuasaan ISIS. Menteri Dalam Negeri, ketika itu Sajid Javid, tahun lalu mencabut kewarganegaraan Inggrisnya atas dasar keamanan nasional.

Begum menempuh jalur hukum, berargumen bahwa keputusan itu membuatnya tak memiliki kewarganegaraan dan membuatnya berisiko mengalami kematian atau perlakuan tidak manusiawi dan merendahkan.

Perempuan kelahiran Inggris itu merupakan keturunan Bangladesh. Tapi menteri luar negeri Bangladesh telah mengatakan tidak akan mempertimbangkan untuk memberinya kewarganegaraan (vm/ ka)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Teroris di Inggris Tulis Rencana Kegiatan di Surga
Teroris Mohiussunnath Chowdhury, 28 tahun, menuliskan daftar kegiatan yang akan dilakukannya di surga kelak bila mati
Donald Trump Tuduh London Kecolongan Teror Bom, PM Inggris Sewot
Perdana Menteri Inggris Theresa May sewot dengan komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut teror bom di kereta bawah tanah, London dilakukan teroris pecundang. Pernyataan Trump, mengisyaratkan Inggris telah kecolongan teror bom
0
Pengantin ISIS Ancaman Keamanan Serius Bagi Inggris
Seorang perempuan yang bergabung dengan ISIS di Suriah akan menimbulkan "ancaman yang jelas dan nyata" terhadap keamanan nasional Inggris