Simalungun, (Tagar 30/6/2018) – Masa pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun diperpanjang tiga hari mendatang hingga Selasa 3 Juli 2018. Tim Relawan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia ikut turun ke lapangan membantu dapur umum dan menemani keluarga korban.

"Kami berada di Tigaras sejak hari Sabtu, 23 Juni 2018. Tim relawan GMKI berjumlah 20 orang,” kata Koordinator Posko GMKI Martin Siahaan, di Posko Terpadu, Tigaras, Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (30/6).

Tim Relawan GMKISebanyak 20 orang tim relawan GMKI yang berasal dari GMKI cabang Medan, Pematang Siantar Simalungun, dan Bengkulu mendirikan Posko berupa tenda prisma sebagai tempat tidur dan logistik. (Foto: Dok/GMKI)

Martin Siahaan menyebutkan, para relawan tersebut berasal dari GMKI cabang Medan, Pematang Siantar Simalungun dan Bengkulu. Tim relawan mendirikan Posko berupa tenda prisma sebagai tempat tidur dan logistik.

“Rencana awal kami juga akan membangun Posko Simanindo, namun kemudian difokuskan hanya di Tigaras yang menjadi Posko Terpadu Pencarian Korban KM Sinar Bangun," imbuhnya.

Musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin, 18 Juni 2018 di perairan Danau Toba yang menelan 186 korban hilang, 18 orang selamat, dan tiga orang korban meninggal dunia, mengundang keprihatinan dan simpati GMKI untuk turut memberikan bantuan.

Atas peristiwa memilukan di perairan Danau Toba itu, sejak Jumat, 22 Juni 2018, Pengurus Pusat GMKI memutuskan untuk membentuk Posko dan Tim Relawan. Tim diterjunkan langsung ke Tigaras hingga seluruh proses pengangkatan kapal selesai dilakukan atau operasi pencarian dihentikan.

Terlebih lagi PP GMKI sempat mendapat kabar yang simpang siur, sehingga melakukan koordinasi terus menerus dengan beberapa orang anggota GMKI yang ada di Tigaras untuk melakukan observasi dan pemantauan.

Tugas Relawan GMKISelama berada di Tigaras, relawan GMKI melakukan aktifitas di dapur umum membantu personel TNI dan Dinas Sosial Kabupaten Simalungun. Tugas para relawan GMKI mempersiapkan konsumsi bagi para personel gabungan pertolongan dan pencarian korban kapal Sinar Bangun dan keluarga korban. (Foto: Dok/GMKI)

Martin menyampaikan, selama berada di Tigaras, relawan GMKI melakukan aktifitas di dapur umum untuk membantu personel TNI dan Dinas Sosial Kabupaten Simalungun. Tugas para relawan GMKI adalah mempersiapkan konsumsi bagi para personel gabungan pertolongan dan pencarian korban kapal Sinar Bangun dan keluarga korban.

"Selain di dapur umum, relawan yang lainnya membaur dengan keluarga korban yang bertahan di dermaga Tigaras. Sebagai catatan, tidak semua keluarga korban yang bertahan di dermaga Tigaras, ada yang bertahan di rumah-rumah warga, masjid dan hotel atau penginapan," ujar Martin yang juga merupakan Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan Pengurus Pusat GMKI.

Martin mengungkapkan, aktifitas melakukan trauma healing lebih banyak dilakukan di malam hari. Hal ini dikarenakan sepanjang pagi hingga sore menjelang malam, keluarga korban terkonsentrasi di dermaga untuk menunggu perkembangan terbaru dari tim pencari dan penolong yang terus bekerja.

Di lokasi yang sama, Yudhi Simorangkir, Koordinator Logistik Posko GMKI menjelaskan, "Selain aktifitas sosial, relawan GMKI juga menyalurkan 38 helai selimut, 40 helai tikar plastik kecil, 50 pasang kaos kaki, lima lusin pakaian dalam perempuan, dan tiga lusin pakaian dalam laki-laki. Barang-barang ini berasal dari anggota dan senior GMKI dan disalurkan langsung kepada keluarga korban yang tersebar di beberapa tempat sekitar dermaga Tigaras."

Dalam pencarian korban, Rabu (28/6), Tim SAR Gabungan telah menemukan KM Sinar Bangun dan para korban di kedalaman 450 meter.

"Saat ini sedang diupayakan proses evakuasi kapal dan korban, namun karena lokasi kapal yang berada di kedalaman 450 meter, dibutuhkan alat pengangkat yang harus dibawa dari luar Sumatera Utara," kata Yudhi.

Yudhi yang juga merupakan fungsionaris Pengurus Pusat GMKI mengatakan, beberapa keluarga korban sudah pulang dan menunggu info lebih lanjut dan akan segera datang jika sudah dilakukan evakuasi. Karena selama 10 hari menunggu kepastian, ada keluarga korban yang sudah jatuh sakit.

"Namun sebagian besar masih di Tigaras dan menunggu kepastian evakuasi. Mereka berharap cemas untuk bisa melihat keluarga mereka yang menjadi korban untuk terakhir kalinya," lanjutnya.

Martin menambahkan, pada hari kesepuluh pencarian, Basarnas memperpanjang tiga hari masa pencarian. "Hari ini, 30 Juni 2018 sudah memasuki 12 hari masa pencarian. Keluarga korban dan relawan GMKI berharap pemerintah dapat memperpanjang kembali proses evakuasi ini sampai 5-7 hari ke depan hingga proses evakuasi kapal dan korban dapat dilakukan," tuturnya. (yps)