Jakarta - Hilang sudah kesempatan gelandang Arsenal, Henrikh Mkhitaryan, melawan Chelsea di final Liga Europa yang digelar di Baku, Azerbaijan. Mkhitaryan tak bisa tampil di laga puncak gara-gara soal politik antara dua negara, Azerbaijan dan Armenia, negara asal pemain berusia 30 itu.

UEFA mungkin tak menyadari saat menetapkan final di Azerbaijan akhirnya memunculkan masalah. Ini menjadi noda bagi sepak bola Eropa karena seorang pemain tidak bisa bertanding karena persoalan politik. Peperangan di masa lalu saat terjadi konflik Nagorno-Karabakh membuat hubungan Azerbaijan dan Armenia masih belum akur. Kedua negara itu juga tak memiliki hubungan diplomatik.

Padahal, ini bukan yang pertama bagi Mkhitaryan tidak bisa masuk ke Azerbaijan. Saat masih membela Borussia Dortmund, dia juga tidak dibawa ke Azerbaijan saat klubnya menghadapi Gabala pada 2015. Begitu pula di penyisihan grup Liga Europa musim ini, Arsenal tak menyertakan Mkhitaryan saat menghadapi Qarabag.

Kegagalan eks gelandang Manchester United ini berlaga di Azerbaijan seharusnya sudah menjadi peringatan bagi UEFA untuk meninjau kembali penunjukan Stadion Olympic, Baku, untuk laga final. Atau mungkin UEFA mengabaikan peluang Arsenal lolos ke final Liga Europa.

Setelah mempertimbangkan semua opsi, kami mengambil keputusan berat, yaitu saya tidak ikut skuat ke final Liga Europa

Ternyata Arsenal lolos ke final dan berdampak absennya Mkhitaryan melawan Chelsea pada 29 Mei 2019. Dia memutuskan tidak tampil di pertandingan final karena mengkhawatirkan keselamatannya.

"Setelah mempertimbangkan semua opsi, kami mengambil keputusan berat, yaitu saya tidak ikut skuat ke final Liga Europa," kata Mkhitaryan.

"Saya akui ini memang pertandingan yang jarang saya ikuti. Ini tentu mengecewakan karena saya melewatkan kesempatan ini," ujarnya lagi.

Arsenal menyesalkan kegagalan pemainnya tampil di final. Meski demikian, klub tetap memahaminya. "Kami sudah menyampaikan kepada UEFA terkait situasi yang kami alami." Demikian pernyataan dari Arsenal.

"Kami sudah berusaha mencari berbagai opsi agar Micki tetap bisa masuk skuat. Namun setelah berdiskusi dengan Micki dan keluarganya, kami setuju bila dia tidak ikut dengan kami."

Mkhitaryan tetap waswas dengan keselamatan diri meski mendapat jaminan bisa masuk Azerbaijan. Pasalnya dia termasuk tokoh populer di Armenia dan bisa menjadi sasaran kelompok-kelompok politik yang tidak menyukai Armenia. []

Baca juga: