Oleh: Denny Siregar*

"Kelak 50 tahun lagi negeri ini akan punya masalah besar."

Kata Soekarno ketika ia dipaksa memasukkan agama dalam kurikulum pendidikan. Sejarah ini diceritakan seseorang yang sangat mengerti awal mula bagaimana pelajaran agama masuk kurikulum di sekolah negeri. Masuknya pelajaran agama pada waktu itu untuk melawan paham komunis yang berkembang semakin besar.

Apa yang dikhawatirkan Soekarno, Presiden pertama Indonesia terbukti. Pada masa sekarang, sekolah-sekolah lebih banyak berbicara agama daripada melahirkan para ilmuwan hebat. Bahkan banyak di sekolah negeri, sudah memaksakan identitas agama sebagai penanda keimanan seseorang.

Singapura sudah mengetahui masalah ini sejak lama.

Tahun 1984, waktu itu sekolah di Singapura memasukkan pelajaran agama di sekolah. Lima tahun kemudian, PM Lee Kuan Yew mencabut kebijakan itu. Ketika ditanya kenapa ia melakukan itu, Lee Kuan Yew menjawab, "Agama merupakan suatu hal yang sebaiknya dibiarkan berada dalam kawasan pribadi."

Meski melarang pelajaran agama di sekolah, nilai-nilai agama seperti budi pekerti, adab dan akhlak dimasukkan dalam pelajaran.

Guru-guru agama pun disertifikasi dan didaftar di lembaga pendidikan guru agama. Mereka terus dites supaya memenuhi kriteria oleh MUI nya Singapura. Kalau gagal, mereka tidak boleh mengajarkan agama di mana pun juga di Singapura.

Beranikah kita bertindak seperti Malaysia, atau malah seekstrem Singapura?

Dan sekarang, kita melihat Singapura adalah negara hebat yang fokus pada ekonomi.

Malaysia juga sudah mulai khawatir dengan situasi "mabuk agama" di negaranya. Mahathir Mohammad, PM Malaysia, mengumumkan akan mengurangi secara bertahap silabus agama di sekolah negeri.

Lalu, bagaimana Indonesia?

Membahas masalah penghapusan mata pelajaran agama di Indonesia ini bisa jadi sangat sensitif. Bisa habis dituding kafir, anti Islam, PKI dan segala macam tuduhan negatif tanpa mau melihat gambaran besarnya. Dan belum ada satu pun pemimpin yang berani membahas masalah ini secara terbuka apalagi mengambil kebijakan.

Padahal mereka tahu akar masalahnya di mana dan bagaimana cara mengatasinya dengan belajar pada negara tetangga. Tapi untuk melangkah ke arah sana, berat sangat. Takut ini, takut itu dan rasa takut itu semakin besar sehingga kebijakan yang diambil selama ini tidak menyentuh akar masalah.

Seorang tokoh intelijen, AM Hendropriyono, dalam sebuah diskusi mengatakan bahwa permasalahan pendidikan kita selama ini bahwa kebijakannya tidak terpusat. Kebijakan di pusat, belum tentu dipatuhi daerah. Celah inilah yang dimasuki kelompok radikalis sehingga mereka bisa berkembang cepat dan membesar tanpa kita mampu mencegahnya.

Situasi ini sama seperti ketika kita tahu bahwa tubuh kita terkena kanker, tapi takut mengobatinya. Akhirnya kanker itu berkembang dan kelak akan memakan seluruh tubuh kita.

Beranikah kita bertindak seperti Malaysia, atau malah seekstrem Singapura?

Wah, kaum monaslimin bisa dapat celah proyek untuk demo besar lagi kalau ini dilakukan secepatnya.

Seruputtt....

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: