UNTUK INDONESIA
Pasir Terselip di Baju Pramuka SMPN 1 Turi Sleman
Nisa meninggal dalam musibah susur sungai SMPN 1 Turi. Ayahnya sangat sedih menemukan butiran pasir sungai saat mencuci baju Pramuka anaknya.
Dedi, ayah Nisa tampak sedang merapikan bunga-bunga di pusara usai Nisa dimakamkan di pemakaman umum Desa Girikerto, Kecamatan Turi. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Sleman - Khoirunnisa Nurcahyani Sukmaningdyah, atau lebih akrab disapa Nisa, salah satu dari 10 pelajar SMPN 1 Turi Sleman yang meninggal dunia saat kegiatan Pramuka susur sungai Sempor, Jumat 21 Februari 2020. Kesedihan masih menggelayut bagi keluarga.

Dedi, ayah Nisa, menceritakan kesedihan itu. Dedi mencuci baju Pramuka yang dipakai Nisa saat susur sungai itu. Air mata Dedi terus bercucuran. "Banyak pasir-pasir dan kotoran yang terselip di baju Nisa," ucapnya kepada wartawan di rumah duka di Dusun Karanggawang, Desa Girikerto, Kecamatan Turi pada Minggu, 23 Februari 2020.

Bahkan Dedi masih menemukan uang yang diberikan untuk membeli buku lembar kerja siswa (LKS) di sekolah. "Ada uang 50 ribu rupiah di kantung Nisa saat saya mencuci seragamnya. Uang itu bakal dia pakai untuk beli buku LKS," katanya.

Sebelum Nisa meninggal dalam tragedi tersebut, Dedi merasakan firasat yang tidak mengenakkan. Hari itu, Dedi sempat melarang Nisa untuk tidak ikut susur sungai karena kondisi cuaca yang akhir-akhir ini sering hujan. Namun Nisa tetap ikut karena Pramuka merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti para siswa dan siswi di sekolahnya.

Saat ayah Nisa sedang bekerja di Magelang, Jawa Tengah juga merasakan firasat. Badannya mendadak menggigil kedinginan. Dedi akhirnya memutuskan pulang ke rumah.

Sebelum pulang, pandangan Dedi melongok di bagian atas Gunung Merapi yang sudah sangat gelap gulita. Beberapa kali kilatan petir terlihat di atas gunung itu. Saat itu pula, Dedi teringat dan terus memikirkan Nisa yang sedang berkegiatan susur sungai.

"Sambil mengikat tali sepatunya sebelum Nisa berangkat ke sekolah itu, saya bilang kondisi kaya gini (musim hujan) malah susur sungai kepie toh sekolah. Yo kepie meneh yah (ya mau gimana lagi yah)," katanya.

Nisa Dimakamkan di Hari Ulang Tahunnya

Dedi, ayah Nisa, mengenang bagaimana putri pertamanya menjalani hidup sampai di usia 13 tahun pada 22 Februari 2020. Nisa ditemukan tidak bernyawa dalam tragedi ektrakurikuler di sekolahnya.

Dedi, ayah Nisa SMPN 1 Turi SlemanDedi, ayah Nisa tampak sedang merapikan bunga-bunga di pusara usai Nisa dimakamkan di pemakaman umum Desa Girikerto, Kecamatan Turi. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Dedi menceritakan, seminggu sebelum putrinya pergi selamanya, meminta kado ulang tahun. Nisa minta dibelikan buku cerita kesukaannya. Nisa mengoleksi apapun yang berbau dengan Boy Band asal Korea XO. "Nisa suka sekali dengan XO. Dia minta itu di hari ulang tahunnya yang ke-13 tahun," katanya.

Namun sebelum hadiah itu diberikan, Nisa justru lebih dahulu dipanggil oleh Sang Pencipta. Dedi merasa bersalah dan menyesal belum memberikan buku yang diminta putrinya.

Dalam kejadian nahas itu, Nisa ditemukan sudah henti nafas dan henti nadi oleh relawan sekitar 21.00 WIB malam dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan pendataan kemudian diserahkan kepada keluarga.

Sehari berselang, Sabtu, 22 Februari 2020 siang, keluarga langsung memakamkan di tempat pengistirahatan terakhir di Karanggawang, girikerto, Turi, Sleman. "Nisa di kubur tepat di mana dia ulang tahun pada 22, Februari," ucap ayah Nisa sembil menahan kesedihannya.

Dedi mengatakan, dia dan putri pertamanya itu lahir di bulan yang sama, Februari. Tanggal lahir keduanya hanya selisih satu angka. Dedi lahir pada 21 Februari, Nisa lahir pada 22 Februari. Seperti layaknya ayah dan anaknya, keduanya sering becanda dalam kesehariannya.

Nisa yang duduk di kelas satu SMP itu sempat menawarkan memberikan kado untuk sang ayah. "Ayah minta kado apa? Saya jawab gak usah. Kalau aku minta dibelikan buku ya Yah," kata Dedi menirukan percakapan mereka.

Dedi mengaku sedih yang mendalam. Menurutnya, Nisa adalah anak yang ditunggu-tunggu. Sebelum Nisa lahir, istrinya sempat mempunyai anak atau kakak Nisa, namun sayangnya harus meninggal karena keguguran. Sehingga Nisa menjadi anak pertama saat ini.

Saat Nisa lahir juga prematur dengan badat hanya 1,7 kilogram dengan cara sesar. Begitu pun adik Nisa yang akrab dipanggil Ais lahir prematur dengan berat 1,6 kilogram. "Nisa itu anak ke-2. Ais anak ke-4. Tapi anak pertama dan ketiga keguguran," ucapnya.

Saat mengisahkan, Nisa itu tidak pernah menuntut apa-apa kepada kedua orangtuanya. Nisa tidak pernah meminta uang jajan. Dalam kesehariannya di sekolah, Nisa selalu membawa bekal makanan dari rumah. Kebiasaan bawa bekal sudah dilakukan sejak dia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Tak Ada Pemberitahuan Kegiatan Susur Sungai

Tidak seperti susur sungai pada umumnya, orang tua wali tidak mengetahui secara pasti di mana lokasi susur sungai dilaksanakan. Dedi hanya tahu memang ada kegiatan itu melalui Grup WhatsApp sekolah. Seharusnya minimal ada surat edaran satu minggu sebelum kegiatan, di mana lokasi susur sungai diadakan.

Tapi pemberitahuan itu tidak ada. "Ini tidak ada sama sekali. Jumlah siswa dan pembina tidak seimbang juga ternyata. Kalau secara itung-itungan, masa 7 berbanding 200-an peserta," katanya.

Keluarga Nisa SMPN 1 Turi SlemanKeluarga Nisa, korban susur sungai SMPN 1 Turi Sleman, sangat sedih atas musibah yang menimpa anaknya. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Dedi mengaku keluarganya sudah mengiklaskan kepergian Nisa untuk selamanya. Dedi hanya meminta agar musibah ini menjadi pembelajaran di setiap sekolah agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Siapa yang harus bertanggung jawab dalam musibah ini? Dedi enggan menjawab. Dedi menyerahkan semuanya ke pihak berwajib. "Itu polisi yang mengurus kejadian ini. Saya hanya mau ke sekolah, menanyakan masih adakah tanggung Nisa yang belum selesai. Itu saja," kata Dedi []

Baca Juga:

Berita terkait
10 Nama Korban Hanyut SMPN 1 Turi Sleman
Total 10 pelajar SMPN 1 Turi yang hanyut di sungai Sempor ditemukan. Operasi pencarian dihentikan. Tim SAR dikembalikan ke kesatuan masing-masing.
Sudarwanto Penyelamat Siswa SMPN 1 Turi Sleman
Nama Sudarwanto mendadak viral setelah berhasil menyelamatkan sejumlah siswa SMPN 1 Turi, Sleman, termasuk keponakannya yang juga hanyut.
Latifah Zulfa Siswi SMPN 1 Turi Sleman Kandas di Sungai Maut
Latifah Zulfa, siswi SMPN 1 Turi Sleman, cita-citanya kandas di sungai maut, terkubur selamanya bersama tragedi pramuka susur sungai.
0
Dampak Corona, Bank Apresiasi Pelonggaran Kebijakan
Pelaku industri perbankan merespon positif pelonggaran kebijakan pada sektor finansial pasca merebaknya virus corona jenis COVID-19.