Indonesia
Pasca Teror Tsunami Badak Bercula Satu Punah?
Hingga saat ini belum ada yang mengetahui secara pasti, apakah badak jawa turut menjadi korban keganasan tsunami.
Badak Cula Satu salah satu hewan yang hampir punah. (Foto: Istimewa)

Bekasi, (Tagar 6/1/2019) - Taman Nasional Ujung Kulon merupakan daerah hutan hujan tropis yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa, sekaligus menjadi tempat berkembang biak mamalia terlangka di bumi ini, yaitu badak jawa atau badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus).

Terpaan Tsunami Selat Sunda yang memporak-porandakan wilayah pesisir Banten dan Lampung Selatan. Hingga saat ini belum ada yang mengetahui secara pasti, apakah badak jawa turut menjadi korban keganasan bencana yang lahir di penghujung tahun 2018.

Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Mumu Muawalah mengatakan, dalam waktu dekat ini pihaknya bersama dengan WWF akan mengkaji kembali populasi badak jawa yang mendiami hutan TNUK. 

Untuk itu, sesegera mungkin ia akan mengecek habitat hewan berkulit tebal itu, yang saat ini statusya tergolong dalam kategori sangat kritis, apalagi pasca diterjang keganasan Tsunami Selat Sunda.  

"Minimal perlu 1 bulan biar kita tahu kejelasannya seperti apa. Badak berada di sebelah mana, apakah memang ada badak yang terkena dampak tsunami lalu mati, apakah memang habitatnya saja yang rusak atau justru ekosistem-nya. Bila tidak ada korban, apakah habitat badak terganggu atau tidak. Ini kita mungkin baru Selasa (8/1) berangkat untuk menganalisa itu semua," ucap Mumu Muawalah saat dihubungi Tagar News, Jumat (4/1).

Mumu menuturkan, untuk survey kondisi badak cula satu di semenanjung Ujung Kulon Utara yang tanahnya terkikis gelombang tsunami hingga ratusan meter, pihaknya saat ini belum bisa bertindak dan bergerak secara serampangan. Mengingat harus mematuhi juga imbauan dari pemerintah agar warga tetap menjauh dari pesisir pantai dalam radius yang telah ditetapkan sebelumnya.

"Ada imbauan orang tidak boleh berada di radius 500 meter dari pesisir pantai yang kemarin terkena dampak tsunami. Jadi, kami saat ini masih konsentrasi di darat. Kemarin, Krakatau juga ada letusan lagi kan sebanyak 3 kali, saat pagi, siang dan sore. Lalu ada patahan longsor, yang dikhawatirkan itu mengakibatkan terjadi tsunami lagi," tukasnya.

Untuk diketahui, habitat satwa badak jawa adalah di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah, dataran banjir besar, alang-alang yang dekat sungai, dan daerah basah yang banyak kubangan lumpur. Apabila tidak terserang penyakit ataupun terkena efek bencana tsunami atau gunung meletus, badak jawa diprediksi dapat hidup hingga 30-45 tahun.

Pada tahun 2017, kata Mumu, di wilayah TNUK saja terdapat 67 ekor badak bercula satu. Sekitar 37 diantaranya berjenis kelamin jantan dan 30 betina, sementara 14 lainnya berusia remaja serta 54 dalam golongan dewasa.

Ia melanjutkan, untuk populasi badak di TNUK tahun 2018 akan diumumkan dalam beberapa bulan ke depan. 

"Setelah kita hitung populasi badak selama 1 tahun dengan berbagai macam kegiatan, khususnya dari video trap, baru setelah itu ditemukan data akurat. Selanjutnya akan kami umumkan populasi badak  jawa bersama WWF, Pengelola Taman Nasional Ujung Kulon, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kita sama-sama mengolah data dan merilis, biasanya pada bulan Februari atau Maret," jelasnya.

Badak jawa merupakan spesies hewan langka dan masuk kategori critical endangered dalam daftar Red List Data Book yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN). 

Menyusutnya populasi badak jawa secara drastis diakibatkan oleh perburuan untuk diambil cula nya, yang sangat berharga dalam pengobatan tradisional Tiongkok, dengan harga $30.000 per kilogram di pasar gelap. []

Berita terkait
0
Ephorus HKBP: Mengasihi Bukan Hanya kepada Seagama
Ephorus HKBP yang tiba di kompleks gereja disambut alim ulama, tokoh Betawi dan para pemuda Betawi yang merupakan warga daerah sekitar gereja.