UNTUK INDONESIA
Pangeran Diponegoro Komandan Perang Jawa
Pangeran Diponegoro merupakan salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia yang memiliki nama asli Mustahar.
Pangeran Diponegoro. (Foto: Wikipedia)

Jakarta - Pangeran Diponegoro merupakan salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia yang memiliki nama asli Mustahar. Dia lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta pada 11 November 1785. dari pasangan Sultan Hamengkubuwana III, raja ketiga Kesultanan Yogyakarta dan selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan.

Semasa kecilnya, Pangeran Diponegoro bernama Bendara Raden Mas Antawirya namun setelah usia dewasa dia akrab dipanggil Bendara Pangeran Harya Dipanegara.

Namanya dikenal luas karena pernah memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa pada 1825-1830 melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. Pangeran Diponegoro dipercaya meninggal ketika dalam pengasingan di Makassar pada 8 Januari 1855.

Ketika menginjak dewasa sang ayahanda, Sultan Hamengkubuwana III ingin mengangkat dia sebagai raja. Namun keinginan tersebut ditolak karena menyadari kedudukannya sebagai putra selir bukan permaisuri.

Kendati hidup di lingkungan keraton, Diponegoro tidak tertarik pada urusan politik pemerintahan. Dia lebih senang bergelut pada dunia keagamaan dan merakyat. Hal tersebut membuatnya memilih tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, Gusti Kangjeng Ratu Tegalrejo, daripada di keraton. 

Diponegoro melakukan pemberontakan terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana V (1822). Ketika itu, Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Kondisi pemerintahan dengan perwalian seperti ini tidak disetujuinya.

1. Perang Diponegoro (1825-1830)

Pecahnya Perang Diponegoro berawal ketika pemerintah Belanda memasang patok di tanah miliknya di desa Tegalrejo. Saat itu, sudah merasa jenuh dengan kebijakan Belanda yang tidak mengindahkan adat istiadat setempat serta pajak yang sangat membebani rakyat.

Diponegoro secara terbuka menentang Belanda hingga sikapnya mendapat simpati dan dukungan rakyat. Kemudian, atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. 

Ilustrasi Perang DiponegoroIlustrasi Perang Diponegoro. (Foto: Wikipedia)

Semangat perang yang didengungkan Diponegoro kemudian pengaruhnya semakin meluas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Tidak hanya itu, salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kiai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong. Kiai Mojo yang lahir di Desa Mojo di wilayah Pajang, dekat Kota Surakarta tertarik berjuang bersama Pangeran Diponegoro karena Pangeran Diponegoro ingin mendirikan kerajaan yang berlandaskan Islam. 

Kiai Mojo merupakan seorang ulama besar yang masih memiliki tali kekerabatan dengan Diponegoro. Ibu Kyai Mojo, R.A. Mursilah, adalah saudara perempuan dari Sultan Hamengkubuwana III. Akan tetapi, Kyai Mojo yang aslinya bernama Muslim Mochamad Khalifah semenjak lahir tidak mencicipi kemewahan gaya hidup keluarga istana. 

Hunngan kekeluargaan inilah yang membuat keduanya kian erat setelah Kyai Mojo menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman dari Diponegoro. Tak heran, Diponegoro memanggil Kyai Mojo dengan sebutan "paman" meski relasi keduanya adalah saudara sepupu.

Perjuangan Diponegoro juga mendapat dukungan dari Sunan Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya Bupati Gagatan. Meski demikian, pengaruh dukungan Kyai Mojo terhadap perjuangan Diponegoro begitu kuat karena dia memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat. 

Sepanjang perang ini pihak belanda mengalami kerugian sekitar 15.000 tentara dan 20 juta gulden. 

2. Meninggal di Pengasingan

Pangeran Diponegoro melakukan perundingan dengan Jenderal de Kock di Magelang. Dalam perundingan itu, Belanda menuntut Pangeran Diponegoro menghentikan perang, namun ditolak mentah-mentah.

Diponegoro ditangkap dan ditahan ke Ungaran, Semarang, ke Gedung Karesidenan Semarang. Pada 5 April 1839, Diponegoro dibawa ke Batavia menggunakan kapal Pollux. Pada 30 April 1830, Belanda memutuskan Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado bersama dengan istrinya keenamnya yakni Raden Ayu Ratna Ningsih, serta Tumenggung Dipasana dan istrinya.

Namun pada tahun 1834, Diponegoro dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. Disinilah Diponegoro menghabiskan hidupnya hingga meninggal pada tanggal 8 Januari 1855 di usia ke-69. Makamnya terletak di Jalan Diponegoro, Makassar. []

Berita terkait
Rencana Prabowo Gagal, TNI Tak Akan Pindahkan Makam Pangeran Diponegoro
"Pemindahan makam itu tidak perlu, biarlah makam Diponegoro ini tetap berada di Makassar,” ujar Wuryanto.
Kodam IV/Diponegoro Uji Kemampuan Tempur Perwiranya
Kesiapsiagaan operasi tempur ratusan dansat dilihat dari kemampuan mereka menembak secara perorangan menggunakan senapan serbu SS1 dan pistol. Tak hanya tembak statis dengan sasaran lisan, mereka juga diharuskan menembak sasaran bergerak atau uji tembak reaksi dengan obyek balon.
Pangkalan Kompi Air Kodam IV/Diponegoro Dialihkan ke Jepara
Selama ini pangkalan Kompi Air meminjam tempat di Pelabuhan Tanjung Emas. Sementara, kapal-kapal milik kompi air berada di Makodam IV/Diponegoro Semarang.
0
Relaksasi Kredit, Bank di Daerah Masih Saja Menagih
Presiden Jokowi membuat kebijakan relaksasi kredit saat pandemi Covid-19, praktiknya petugas bank milik negara masih ada yang menagih bunga kredit.