UNTUK INDONESIA
Pandemi dan Ketulusan Hati Nur'ani di Yogyakarta
Seorang perempuan pemilik toko pakaian pengantin di Yogyakarta tidak menutup tokonya demi karyawan yang sudah bertahun-tahun membantunya.
Nur\'aini Hadi, 73 tahun, pemilik BHD Lavania, salah satu toko busana pengantin di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, di depan jualannya, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Mata perempuan berusia 61 tahun itu berkaca-kaca. Sedikit isak mulai terdengar di antara suaranya ketika bercerita. Tapi Sur, nama sapaannya, berusaha agar butiran air tidak meluncur turun dari ujung kelopak matanya.

Sur duduk di belakang tumpukan pakaian pengantin di toko BHD Lafania, penjual busana dan peralatan pengantin di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Di sekelilingnya, beragam pernak-pernik pengantin tertata rapi dalam etalase kaca, mulai dari gelang hingga semacam mahkota untuk perempuan.

Beberapa meter dari tempat Sur, perempuan pemilik toko bernama Nur'aini Hadi, 73 tahun, duduk di belakang meja kasir, tidak jauh dari berdirinya beberapa manekin di sudut toko, dekat etalase kuluk atau topi raja Jawa.

Perempuan karyawati toko itu mengisahkan kesedihannya akibat pandemi Covid-19, walaupun secara langsung, pandemi ini tidak banyak berdampak pada penghasilannya.

Sebagai seorang karyawati, Sur mendapatkan penghasilan dari gaji yang diberikan oleh pemilik toko. Artinya, selama toko tersebut buka, maka Nur dan teman-temannya tetap menerima gaji, walau tak ada seorang pun pembelinya.

Biasanya paling sepi Rp 10 juta, Rp 20 juta, Rp 30 juta. Sehari seratus juta juga pernah. Begitu pandemi ini 200 ribu, 300 ribu, paling tinggi sejuta. Jauh banget.

Selama pandemi Covid-19, toko BHD Lavania hanya dua kali tutup. Selebihnya toko itu selalu buka, meski pembelinya menurun drastis. Bahkan, beberapa kali sama sekali tidak ada pembeli dalam sehari. Sehingga pemilik toko harus tombok untuk menggaji para karyawan.

Kondisi itu sebenarnya membuat para karyawan merasa sungkan dan tidak enak hati. Sebab, mereka paham bahwa penurunan omzet merosot sangat drastis, dari puluhan juta rupiah per hari, menjadi ratusan ribu rupiah.

"Dengan menurunnya omzetnya ibu (pemilik toko), ya kita kasihan sama ibu. Biasanya kan omzetnya banyak njuk (terus) sekarang kan pemasukannya ibu nggak ada, cuma sedikit. Ibu harus mengeluarkan untuk biaya karyawan, untuk ibu sendiri, listrik karcis dan lain-lain. Kita sebagai karyawan juga ikut prihatin," jelasnya saat ditemui, Jumat, 17 Juli 2020.

Meski merasa sedih dan kasihan melihat kondisi itu, para karyawan hanya bisa menghibur pemilik toko dengan mengatakan bahwa dampak pandemi ini bukan hanya dirasakan olehnya. namun juga semua pedagang di pasar. Bahkan ada yang kondisinya lebih parah.

Pakaian

Sur, 61 tahun, seorang karyawati Nur\'aini yang mengisahkan kesedihan selama pandemi dengan mata berkaca-kaca, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Para karyawan pernah mengusulkan agar pemilik toko menutup sementara tokonya sampai kondisi kembali normal. Tetapi Nur'aini enggan menutupnya. Dia merasa kasihan pada karyawan-karyawannya, yang menggantungkan penghasilan dari situ.

"Tapi ibu mboten kerso. Ibu nggak mau. Katanya nggak apa-apa, karena kasihan anak-anak (karyawan). Kan anak-anak buat tumpuan keluarga, buat makan anak-anak. Akhirnya ibu memutuskan nggak tutup, tapi ya itu, ibu berjuang dan tombok terus," urainya dengan mata yang mulai terlihat berair.

Gaji untuk masing-masing karyawan, kata Sur, sebesar Rp100 ribu, itu sudah termasuk uang makan. Padahal, penjualan barang-barang di toko pernah hanya Rp 15 ribu sehari.

"Sehari pernah dapat Rp 15 ribu. Padahal untuk gaji karyawan itu satu orang kan seratus per hari, komplit sama uang makan. Tomboknya kan banyak," ulangnya.

Penjelasan Sur dibenarkan oleh Nur'aini, ibu pemilik toko. Perempuan yang sudah mulai berdagang sejak tahun 1970 itu mengatakan, penghasilannya tinggal 10 persen dari hari-hari sebelum pandemi, bahkan pernah di bawah 10 persen.

Tokonya sempat tutup selama dua hari, tapi dia kembali membukanya. Dia tidak peduli ada pembeli atau tidak, sebab yang ada dalam pikirannya adalah rasa kasihan pada para pegawai jika tokonya tutup.

"Laku ndak laku saya tetap buka. Soale ada karyawan. Kasihan juga kan. Karyawan kan hidupnya dari gaji dari Ibu. Kalau Ibu prei (libur) dia otomatis nggak dapat penghasilan kan. Saya pertahankan soale kasihan," katanya.

PakaianNur\'aini, 73 tahun (paling kanan), bersama empat karyawatinya. Mereka saling menguatkan dan peduli di saat pandemi, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Meski tetap buka, pandemi ini memaksanya untuk mengurangi jumlah karyawan dari 10 orang menjadi empat. Karyawan yang tersisa adalah karyawan yang sudah lama bekerja padanya.

"Ini aja udah tombok banyak banget. Bayar (gajinya) anak-anak aja udah tombok. Tempo hari waktu sepi-sepinya sehari dapat Rp 200 ribu. Biasanya paling sepi Rp 10 juta, Rp 20 juta, Rp 30 juta. Sehari seratus juta juga pernah. Begitu pandemi ini 200 ribu, 300 ribu, paling tinggi sejuta. Jauh banget. Drastis," kata Nur'aini.

Dulu uang yang digunakan untuk membayar gaji karyawan adalah hasil keuntungan dari berjualan. Tetapi sejak adanya Covid-19, bukan hasil keuntungan yang digunakan, melainkan menjual baju untuk menggaji karyawan.

"Sekarang jual baju untuk bayar karyawan. Itu bedanya. Baju sehari payon (laku) sejuta misalnya, habis untuk bayar anak-anak sama operasional, listrik dan lain-lain. Itu sak pokoke (dengan modalnya), bukan untungnya," beber Nur'aini.

Kondisi ini, menurutnya tidak terlalu membuat dirinya putus asa atau stres. Sebab dia yakin bahwa Allah SWT yang maha kaya pasti akan menolong hambanya.

Menjelang penerapan adaptasi kebiasaan baru atau new normal, kondisi penjualan masih cukup sepi. Padahal, beberapa waktu lalu sudah sempat mulai kembali ramai. Tapi sejak adanya kabar tentang tenaga kesehatan yang positif Covid-19 di Solo, pembeli kembali berkurang.

"Harus sabar. Ini anak-anak (karyawan) juga sabar. Mereka bilang kasihan Ibu, ya saya bilang nggak apa-apa. Dulu kan untung, sekarang tombok ya lumrah," tuturnya.

Berawal dari Jualan Roti

Salah satu karyawan yang terlama bekerja padanya adalah Sur. Waninta ini sudah membantunya sejak awal berdagang sekitar tahun 1970. Saat itu, Nur'aini masih menjual beragam kue kering.

"Ini 40 tahun ikut saya. Saya masuk pasar tahun 1970. Umur Ibu sekarang udah 73. Awalnya saya jualan kue kering, terus toko grosiran, karyawan saya ada 55, mobil truk ada 20. Zaman dulu. Ibu orangnya seperti cowok, jadi kalau keliling itu naik truk ke mana-mana itu biasa. Saya bawa sendiri," paparnya mengenang masa lalu.

Sekarang jualan alat pengantin, namanya juga orang bisnis toh. Dulu di sini isinya roti.

Waktu itu, kata Nur'aini, dia sering berpenampilan seperti cowok, yakni bercelana jins, kaus oblong, dan jaket. Dengan penampilan seperti itu, dia berkeliling ke beberapa daerah di Jawa, sampai ke Surabaya dan kota lain.

"Soale suami saya pasif. Kalau saya nggak cari duit njuk (lalu) siapa untuk anak-anak?".

Setelah beberapa tahun menjual kue kering, akhirnya dia berhenti. Sebab, saat itu program Listrik Masuk Desa dimulai. Banyak orang yang kemudian bisa membuat roti dan kue sendiri.

Sekitar 10 tahun lalu, Nur'aini bernuiat untuk berhenti berjualan. Toko miliknya pun ditawarkan untuk dikontrak. Terlebih anaknya sudah memintanya untuk pensiun (berhenti menjual).

PakaianPemilik toko busana dan perlengkapan pengantin di Pasar Beringharjo, Yogyakarta Nur\'aini Hadi, 73 tahun, menata barang jualannya, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

"Nggak taunya yang menawar (toko) pengantin semua. Njuk (lalu) aku jalan-jalan ke tempat pengantin. Udah, nggak jadi dijual. Sekarang jualan alat pengantin, namanya juga orang bisnis toh. Dulu di sini isinya roti," tuturnya mengisahkan.

Kini, hampir semua jenis busana dan perlengkapan pengantin tersedia di tokonya. Mulai dari setelan busana pengantin komplit, perhiasan, beskap, bahkan seragam untuk keluarga pengantin pun tersedia.

Beberapa waktu setelah pandemi melanda, barang dagangannya yang paling laku adalah gaun putih untuk ijab kabul pengantin.

Saat kondisi normal, busana dan perlengkapan pengantin banyak dicari pada bulan-bulan tertentu, yakni Syawal, Besar, Rajab, pada kalender hijriyah itu laris. Sementara kostum untuk arak-arakan anak-anak biasanya laris pada bulan April dan Agustus.

Tapi, yang paling laris adalah seragam. Nur'aini sempat menerima pesanan seragam sebanyak seribu pasang, tapi kemudian dibatalkan akibat pandemi.

Padahal, dia sudah berbelanja bahan kain dalam jumlah yang cukup banyak. Akhirnya bahan-bahan itu disimpan dan sebagian dijahit sendiri.

"Saya udah terlanjur beli kain banyak ini. Banyak yang dijahit sendiri. Ibu kan modiste. Dulu zaman muda saya modiste, jadi ilmu kan nggak hilang. Sudah terlanjur belanja banyak ya disetop dulu. Nanti kalau ramai ya dijual," tuturnya.

BlangkonBlangkon dan kuluk jualan Nur\'aini tertata rapi di dalam rak tempat jualannya, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Pakaian pengantin yang dijual oleh Nur'aini sangat beragam jenis dan harganya, agar pembeli mempunyai banyak pilihan. Harga yang dipatok untuk kebaya putih pengantin mulai dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 2,5 juta.

Sementara, pakaian pengantin pria untuk ijab kabul, paling murah Rp 200 ribu dan termahal Rp 700 ribu. Sedangkan untuk aksesoris, yang paling banyak dicari adalah mahkota perempuan, baik mahkota untuk pengantin adat Sunda maupun mahkota untuk pengantin adat Jawa.

"Itu set-setan (di jual per set). Ada yang harga Rp 2,5 juta, sama Jawa dengan Sunda. Yang murah juga ada, Rp 350 ribu, Rp 400 ribu, Rp 500 ribu, itu yang dilem," tutur perempuan yang mengaku sebagian pembelinya berasal dari luar Jawa ini. []



Berita terkait
Jenazah Covid Siap Masuk Liang Lahat, Tanah Ambrol
Jenazah covid siap dimasukkan ke liang lahat, tiba-tiba lubang kurang panjang, tiba-tiba tanah ambrol, tiba-tiba banyak air dalam lubang.
Kisah Janda Kembang Kudus Jual Tanah Bonus Istri
Dewi Rosalia Indah, janda kembang asal Kudus. Ia menjual tanah, jika berjodoh siap dijadikan istri oleh pembelinya
Detik-Detik Tembok Hotel di Semarang Tewaskan 4 Pekerja
Warga sekitar dan pekerja mengungkap detik-detik ambruknya tembok pembatas di proyek Hotel Awann Sewu di Kota Semarang. Ditandai suara keras.
0
Update Corona Aceh: 158 Positif, 10 Meninggal Dunia
Jumlah kasus Covid-19 di Aceh mencapai 158 orang dengan rincian, 64 orang dalam perawatan, 84 orang sembuh, dan 10 orang meninggal dunia.