Pemerintah Kota Makassar

Opini: Pelabuhan Adil Makmur di Samudera Industri Layer

Perunggasan layer yang adil makmur ibarat pelabuhan akhir dari trip pelayaran para pelakunya di samudera industri layer. Bagas Pujilaksono.
Ilustrasi - Pelabuhan. (Foto: Tagar/ISG)

Oleh: Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DEA, DAA, IPU, Asean. Eng*


Perunggasan layer yang adil makmur, ibarat pelabuhan akhir dari trip pelayaran para pelakunya di samudera industri layer. Spesifikasi kapal, kapasitas, jalur pelayaran, di atur oleh regulator perhubungan. Pelabuhan dan pemberangkatan diatur oleh syah bandar. 

Masing-masing kapal dikendalikan oleh nakhoda yang taat kepada syahbandar. Ada kapal besar, sedang dan ada perahu-perahu kecil. Semua harus mendapatkan terminal atau dermaganya, dan jalur pelayarannya di samudera industri perunggasan agar kapal yang lebih kecil tidak terpepet, atau bahkan hanya sekadar terkena hempasan ombak yang pecah dari lambung kapal besar. Agar semua sama-sama sampai ke pelabuhan perunggasan adil makmur.

Bahtera yang besar, mampu berlayar lebih lama, kapal yang lebih kecil perlu lebih banyak persinggahan. Pada setiap pelabuhan persinggahan, akan ada pemilik perahu yang secara pribadi berganti kapal yang lebih besar. 

Ada beberapa pemilik perahu yang bergabung membeli kapal yang lebih besar. Ada beberapa perahu kecil yang bergabung membentuk koperasi, berlayar bersama dalam formasi yang rapi. Ibarat sekumpulan besar ikan teri yang membentuk formasi ikan besar, seperti ikan hiu misalnya.


Start From The End

Barangkali, benarlah kata para bijak. Mengatasi sengkarut bukan selalu dilakukan dengan cara membahas keruwetannya, bagai mempertahankan lembaran kain yang bertambal-tambal. 

Namun boleh jadi justru harus melipat lembarannya dan menyimpannya di lemari sejarah. Segera move on, menggelar episode baru berbasis cita-cita bersama (common goals). 

Kemudian duduk bersama, menyusun itinerary (rencana perjalanan) panjang yang akan berjalan 20-25 tahun mendatang, menentukan dari dermaga mana harus memulai, pelabuhan mana boleh disinggahi, aturan-aturan perkapalan dan jalur pelayaran masing-masing bahtera.

Pelabuhan perunggasan adil makmur, bukan merupakan suatu utopia celestial yang statis, melainkan relatif abstrak dan dinamis. Belum dapat digambarkan saat ini struktur bangunannya apalagi bentuk fisiknya namun dapat dikenali karakteristik dan ciri-cirinya. 

Karena akan selalu ada perubahan yang disebabkan oleh dinamika percaturan global, dan perubahan-perubahan karena pergantian juga regenerasi para pemegang posisi kunci perunggasan. Maka setiap armada yang menuju ke sana, harus menyiapkan diri untuk “kompatibel” agar bisa merapat dapat memasukinya.

Sebagai contoh, diantara dermaga yang ada di pelabuhan persinggahan bahkan di pelabuhan adil makmur itu nanti, ada terminal telur layer cage free / free range. Di Asia, perusahaan-perusahaan pangan dan jasa lintas batas negara yang menggunakan telur sudah akan memulai komitmennya untuk hanya menggunakan telur cage free 3-5 tahun lagi . 

Terminal itu terlihat masih sepi pada hari-hari awal, namun dengan terus bertambahnya perusahaan multinasional pengguna telur yang hanya akan membeli telur dari terminal khusus telur cage free (bebas kandang baterai) itu, maka dipastikan terminal telur cage free di pelabuhan adil makmur bagi bahtera perunggasan layer kelak juga akan sangat sibuk.


Ciri-ciri

Secara ringkas, salah satu ciri besar pelabuhan samudera perunggasan layer adil makmur itu adalah setiap bahtera memiliki opportunity yang sama untuk mengakses port dan mengakses samudera usaha perunggasan layer. 

Namun, regulator telah menentukan jalur-jalur pelayaran yang harus ditepati untuk saling menjaga keselamatan dan kesempatan (peluang) untuk menjaring keuntungan dari luasnya samudera industri layer. Jalur-jalur pelayaran ini ditentukan untuk menjaga kemerataan kesejahteraan, bukan untuk menyamakan besarnya profit, namun adil sesuai dengan proporsi dan kapasitasnya.

Selanjutnya, evidence based dan scientific based regulation oleh otoritas birokrasi, disusun secara matang, etis dan profesional dibantu oleh para akademisi, analyst bisnis, ekonomi dan kebijakan. 

Akademisi dan analyst ini tentu yang sesuai dengan kompetensi dan profesionalismenya, memberikan data yang akurat, pasti, obyektif dan saintifik dari hasil kajian ilmiah. Sehingga narasi yang diberikan kepada pemangku kebijakan lebih dari sekedar “komentar pakar” dan “aspirasi stkeholder”. 

Tujuannya, agar regulator mampu menjaga iklim industri agar tetap sehat dan berkembang, menyajikan data industri yang valid – memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, memberi early warning ketika diperkirakan akan ada ancaman ombak tinggi ataupun potensi badai datang,

Di sinilah peran vital pemangku kebijakan sebagai pamong industri layer sekaligus leader. Leader yang tahu bagaimana memimpin sebuah orkestrasi industri, menyusun aransemen, tempo, dan bahkan menggubah komposisi kebijakan. 

Misalnya, kebijakan industri perunggasan layer memerlukan data dasar berupa data valid supply – demand. Data supply cenderung dapat diestimasi, namun justru data demand-lah yang masih goib sampai kini. 

Maka kementerian atau direktorat jenderal sebenarnya cukup memberi memobilisasi badan litbang atau membentuk tim ad hoc sebagaimana pada bahasan evidence based dan scientific based regulation di atas – untuk melakukan riset data demand itu. Atau dimasukkan dalam agenda sensus. 

Sehingga kerancuan dalam memetakan kebijakan untuk over supply area produsen, oversupply area konsumen, under demand, gangguan distribusi telur (oleh berbagai sebab) dll, yang gejalanya nyaris sama, harga telur terpuruk di tingkat peternak dan atau harga tinggi di konsumen.

Bagi pemangku kebijakan pun, diharapkan akan lebih nyaman untuk mengetok palu regulasi karena tidak terlalu ditekan oleh kegaduhan tarik-menarik kepentingan dari para pihak dalam industri. Perunggasan khususnya layer. 

Walaupun tak dapat dipungkiri, tekanan dan lobi-lobi pasti akan terjadi dalam politik birokrasi. Namun semua tentu berharap, analisis objektif lah yang harus dikedepankan sebagai penyusun utama kebijakan, kompromi tak boleh merusak bagian prinsipil yang dihasilkan oleh narasi saintifik. Tentu, agar kebijakan itu menghasilkan kemanfaatan dan kemaslahatan yang lebih luas.

Output yang diharapkan dari sektor leadership ini, adalah supply-demand telur yang seimbang. Sedangkan outcome-nya tentu saja kepercayaan diri pelaku karena kepastian yang tinggi dalam melayari samudera industri layer. Selanjutnya, tingkat kesejahteraan (rumah tangga peternak, pekerja dan industri ikutannya) dan industri layer diharapkan akan terus tumbuh berkembang.


Faktor Manusia

Bukan hanya aturan main saja yang harus disiapkan secara tuntas, namun juga faktor manusia sebagai pelaku pada masing-masing bagian dari industri layer. 

Karena para pihak dalam industri perunggasan ini adalah manusia, bahkan peternak, perusahaan dan lembaga regulator pun hakikatnya adalah manusia. Manusia sebagai nahkoda kapal yang berlayar di samudera perunggasan memerlukan bintang pemandu menuju pelabuhan adil makmur.

Bintang pemandu, yang memberikan petunjuk arah dan dinamika alam. Pada konteks ini, bintang pemandu itu tak lain adalah Pancasila ideologi negara dan sekaligus sebagai falsafah hidup yang paling asasi bagi bangsa Indonesia. 

Sila pertama, merupakan kesadaran bahwa industri layer adalah berbisnis menggunakan makhluk Tuhan berupa ayam petelur. Maka industri layer, untuk mendapatkan produksi yang optimal harus terlebih dahulu memperlakukan makhluk Tuhan itu sebaik-baiknya, termasuk memperhatikan aspek etis, kesejahteraan hewan salah satunya. 

Kedua, industri layer harus adil dan beradab. Adil terhadap hewan, terhadap sesama pelaku industri dan stakeholder lainnya. Tidak akan pernah ada keadilan, kecuali didahului dengan kejujuran. Segala aspek bisnis dan interaksi lainnya dilaksanakan secara beradab, dan tidak akan beradab kecuali oleh orang yang adil.

Ketiga, persatuan dalam konteks gotong royong, bekerjasama dan ber koperasi, berbagi peran dan berbagi beban saling melengkapi sesuai dengan kapasitasnya secara proporsional oleh segenap stakeholder industri perunggasan layer. Saling mengasah semangat dan saling membangun trust. 

Diakui, semua pihak punya agenda dan kepentingan pribadi, namun pandangan jauh ke depan meraih tujuan bersama, melayari samudera industri layer menuju pelabuhan adil makmur tetaplah harus menjadi acuan, bintang pemandu tetap menjadi pedoman. 

Penodaan terhadap tujuan bersama itu, merupakan pengingkaran terhadap prinsip sebelumnya, keadilan. Keempat, mengedepankan musyawarah, dan berpendapat dengan hikmah dan kebijaksanaan. Dapat dimaknai, tidak memaksakan kehendak, memberi kesempatan kepada sesama, bersikap bijaksana, berargumen dengan santun dan data yang valid sesuai dengan kapasitasnya.

Jika keempat butir bintang pemandu itu diikuti sebaik-baiknya maka optimis, butir kelima Pancasila – keadilan sosial, alias keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi segenap lapisan industri perunggasan layer akan tercapai. Semoga impian jadi kenyataan. 


*Ketua DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia DI Yogyakarta, Ketua Badan Kejuruan (BK) Teknik Peternakan – Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Dekan Fakultas Peternakan UGM 2016 – 2021

Tulisan ini di-review Bagas Pujilaksono Widyakanigara, Akademisi Universitas Gadjah Mada, Ketua Dewan Pakar Seknas Jokowi  

Berita terkait
Jokowi Ingin Indonesia Jadi Pusat Industri Halal Dunia 2024
Jokowi menargetkan Indonesia menjadi pusat industri halal dunia pada tahun 2024 sebab Indonesia berpotensi sebagai pusat industri halal dunia.
Jokowi Tekankan Pentingnya Hilirisasi dan Industrialisasi Kelapa Sawit
Presiden Jokowi menegaskan pentingnya hilirisasi dan industrialisasi kelapa sawit untuk dilakukan di Tanah Air
Jokowi Dorong Peningkatan Nilai Tambah Industri di Tanah Air
Presiden Jokowi menegaskan bahwa nilai tambah dari industri energi dan mineral di Tanah Air harus terus ditingkatkan
0
3 Alasan Mengapa Kita Harus Menghindari Tidur Tengkurap
Ternyata posisi tengkurap tidak baik bagi tubuh terutama tulang bagian belakang dan bahu.