Untuk Indonesia

Opini: Merdeka Belajar, UN Dihapus? Tidak Usah Sekolah

Merdeka Belajar? Merdeka di mananya? Anak didik tidak bebas memilih sekolah sesuai keinginannya.
Anak-anak Belajar (Foto: Tagar/Freepik)

Bagas Pujilaksono Widyakanigara*

Merdeka Belajar? Merdeka di mananya? Anak didik tidak bebas memilih sekolah sesuai keinginannya, karena kebebasannya alias kemerdekaannya dikandangi oleh sistem zonasi.

Sistem zonasi bukan solusi, karena permasalahannya bukan disitu. Permasalahan sesungguhnya adalah pemerintah belum mampu membuka sekolah negeri baru yang mampu mengakomodir anak didik. Jika Pemerintah ingin mencari solusi, saat ini, pemerintah harus mengakomodir sekolah-sekolah swasta dalam sistem pendidikan nasional. Itu solusi. 

Sehingga, apapun bentuk seleksi penerimaan siswa baru, mau di sekolah negeri atau swasta, anak didik tetap bisa sekolah gratis. Sekolah-sekolah swasta merekrut calon siswa baru dengan caranya sendiri dan biaya yang mahal luar biasa, tidak terjangkau, tidak manusiawi dan diluar kendali pemerintah. 

Sistem zonasi adalah sistem zonk yang hanya membuat anak didik menjadi penakut dan pengecut, karena tidak berani bersaing secara terbuka dan bebas. Dihupusnya UN adalah kesalahan fatal. Karena, bertentangan dengan mainstream pola pikir peradaban manusia moderen, dan hanya ngacak-acak dan menjungkir-balikkan pola pikir dan mental anak didik. Dunia semakin kompetitif dan selektif, karena jumlah manusia semakin banyak dan tantangan kehidupan semakin kompleks dan rumit.

Wajib belajar 9 tahun, hanyalah pepesan kosong, murni jargon-jargon politik tanpa makna. Konsepnya amburadul, dan tambal sulam. Jelas, tidak ada pemahaman untuh tentang potret permasalahan, lemahnya koordinasi dan nihilnya konsep sustainable development.


Merdeka Belajar? Merdeka dimananya?

Ruh kehidupan akademik adalah Kebebasan dan Rasionalitas. Saya harus tegas katakan, Pemerintah keliru mengartikan, memahami dan memaknai arti kebebasan.

Simple is always the best. Ki Hadjar Dewantara yang hidup di jamanya, melompat jauh kedepan, jauh lebih cerdas, komprehensif, dan kodrati dibandingkan konsep Merdeka Belajar saat ini. Nyata dan implementatif. Bukan pepesan kosong sangat berbau aroma politik.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutur Handayani. Ini konsep brilliant yang kondradi dan fundamental. Itulah tahapan pendidikan dari TK, hingga Perguruan Tinggi.

Saya produk Rezim Orba. Saya masuk TK dan SD Taman Siswa Ibu Pawiyatan, Yogyakarta, tidak pernah dipaksa oleh siapapun, bebas. Saya berkesenian: menari, nabuh gamelan, dan nembang, bebas merdeka. Saya melanjutkan sekolah di SMP Negeri 2 Yogyakarta, bebas merdeka. 

Saya main biola musik klasik di Gereja Katholik, Kotabaru, Yogyakarta, bebas merdeka. Saya melanjutkan sekolah di SMA Negeri 3 Padmanaba, Yogyakarta, memilih jalur IPA, bebas merdeka. Saya melanjutkan kuliah di Prodi S1 Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM, bebas merdeka.

Merdeka Belajar bukan barang baru, tidak ada yang istimewa. Bagi saya hanyalah pepesan kosong dan sebagai jargon-jargon politik tanpa makna. Konsepnya amburadul!

Saya pendukung Pemerintahan Presiden Jokowi dari 2014 hingga sekarang. Bahkan, saya pernah dilaporkan Polisi ketika membela Presiden Jokowi pada bulan Juni 2020. Dukungan saya adalah dukungan kritis. 

Kali ini saya harus tegas katakan, saya menolak keras Kurikulum 2022 dan Konsep Merdeka Belajar, karena menyangkut masadepan generasi muda Indonesia. Kedua hal itu jelas menunjukkan lemahnya pemahaman untuh potret permasalahan, gagalnya membangun sistem yang koordinatif dan nihilnya konsep sustainable development.

Daripada ngacak-acak sistem pendidikan nasional yang sudah baku dan mapan, lebih baik tumpas habis Radikalisme Agama dan Intoleransi di sekolah dan kampus, yang jelas-jelas telah menjungkir-balikkan kebebasan berfikir, mendholimi kehidupan akademik dan mendeskriminasi manusia.

Sekali lagi, saya menolak keras Kurikulum 2022 dan Konsep Merdeka Belajar. 


*Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Ketua Dewan Pakar Seknas Jokowi

Berita terkait
5 Langkah Menyiapkan Biaya Pendidikan Perguruan Tinggi Anak
Apa yang terlihat mahal sekarang akan menjadi lebih mahal saat anakmu siap masuk perguruan tinggi.
Inilah Alasan Mengapa Penting Memiliki Asuransi Pendidikan
Dengan mempersiapkan dana pendidikan anak sedari dini, Anda bisa menjamin kepastian pendidikan untuk anak Anda di masa depan.
Membangun Mindset Pentingnya Asuransi Pendidikan Anak
Hal tersebut merupakan salah satu dari bermacam risiko yang menjadi faktor pendorong untuk memiliki asuransi pendidikan anak.
0
Opini: Merdeka Belajar, UN Dihapus? Tidak Usah Sekolah
Merdeka Belajar? Merdeka di mananya? Anak didik tidak bebas memilih sekolah sesuai keinginannya.