Manokwari, (Tagar 6/2/2018) - Situs peningalan sejarah penginjilan di Tanah Papua berupa Museum Mansinam yang terletak di Pulau Mansinam Provinsi Papua Barat kosong. Gedung yang dibangun empat tahun lalu dan diresmikan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014 ini tidak ada isinya.
Gubernur Provinsi Papua Barat Domingus Mandacan mengatakan, berkaitan dengan gedung museum yang kosong tersebut, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Sinode GKI di Tanah Papua maupun badan pembagunan situs tersebut.
“Sehingga gedung museum yang sudah dibangun ini dapat terisi dan bisa dimanfaatkan dengan baik,” kata Domingus kepada sejumlah awak media di Pulau Mansinam, Senin (5/2).
Domingus berharap, ke depannya museum tersebut dapat menampung benda-benda situs peningalan bersejarah, yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh anak cucu.
“Terkait dengan lonceng gereja pertama Lahoroi yang terletak di Pulau Numfor, kami koordinasi dengan pihak Sinode dan Gereja. Saya berharap lonceng tersebut sebagai situs sejarah bisa berada di Museum Mansinam,” tuturnya.
Terkunci
Sementara itu kepala kampung Pulau Mansinam Zakeus D Rumsayor mengungkapkan, museum yang dibangun pada tahun 2014 lalu itu selain masih kosong, warga yang ingin berkunjung ke sana tidak bisa masuk lantaran pintunya terkunci.
Menurutnya, terkadang warga datang hanya untuk sekadar foto-foto, sebab para pengunjung tidak bisa masuk. Zakeus berharap pihak sinode dan pemerintah daerah dapat menyelesaikan persoalan gedung yang terkunci tersebut.
“Karena sejarah peninggalan situs penginjilan di Tanah Papua di Pulau Mansinam masih tersimpan di luar, tidak ada tempat untuk menampung situs tersebut,” ujarnya.
Dia menjelaskan, situs tersebut harus disimpan dalam museum tersebut. Jangan sampai hilang, karena itu nantinya akan dinikmati oleh anak cucu kelak.
“Saat ini museum tersebut tidak ada perawatan sama sekali, dibiarkan kotor begitu saja tanpa perawatan sama sekali,” terangnya seraya menyebut Pulau Mansinam sebagai peradaban kota Injil yang dibawa oleh dua misionaris asal negara Jerman, yakni Ottow dan Geisler.
“Saya berharap ke depannya situs peninggalan sejarah ini harus dijaga dengan baik sehingga masyarakat yang datang ke sini bisa merasa senang,” tandas Zakeus. (dhy)