UNTUK INDONESIA
Mungkin Takdir Kalau Kena Corona
Siang itu di Pasar Beringharjo Yogyakarta, jumlah pedagang lebih banyak dari pengunjung. Hari yang berat untuk mencari uang di tengah wabah corona.
Suasana di sepanjang trotoar kawasan Malioboro, Yogyakarta, yang sunyi dari pengunjung, Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Beragam jenis pakaian tergantung di sebuah toko di lantai dua Blok A nomor 7, Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Kamis siang, 19 Maret 2020. Hanya ada dua orang di dalam toko itu, tanpa satu pun pembeli.

Seorang pemuda duduk di sudut toko, asyik dengan ponselnya. Dari bibirnya mengepul asap rokok kretek. Sementara di tengah ruangan, seorang wanita berhijab, duduk menunggu pembeli. Di tangan Dyah Safitri, 50 tahun, nama perempuan itu, tergenggam sebotol kecil hand sanitizer atau pensteril tangan.

Kondisi hampir sama terlihat di beberapa toko di pasar terbesar Yogyakarta itu. Hanya para pedagang yang mengobrol dengan pedagang lainnya.

Lorong pasar sunyi dari pengunjung. Tangga dan eskalator juga kosong. Hanya beberapa orang yang melintas. Kondisi itu sangat berbeda dengan beberapa pekan lalu, hampir seluruh bagian pasar dipenuhi pengunjung.

Kondisi pasar yang sepi pengunjung itu dibenarkan Dyah Safitri yang akrab disapa Fitri. Menurut wanita berusia setengah abad itu, kondisi begitu terjadi sejak kabar wabah virus corona (Covid-19) merebak, atau sudah lebih dari sepekan.

Dampaknya sangat terasa pada penjualan di pasar yang menurun drastis. "Sejauh ini, ya sudah hampir semingguan ini, semakin hari semakin melemah. Kondisinya semakin sulit. Omzet turun drastis banget, hari ini sampai sesiang ini, satu barang pun belum ada yang keluar," keluhnya.

Kondisi ini jauh lebih parah daripada saat terjadi bencana alam di Yogyakarta, seperti saat gempa bumi pada 2006. Saat itu, meskipun ada penurunan penjualan, tapi tidak sampai separah saat ini.

Kita mikir-nya ya sudah pasrahlah. Mungkin takdir kalau kena corona. Tapi kita berusaha jaga kebersihan dan daya tahan tubuh.

Dampak Corona 6Suasana pasar terbesar di Yogyakarta, Pasar Beringharjo, Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Saat terjadi gempa bumi pada 2006, pembelian pengunjung memang sedikit menurun, tetapi masih ada pengunjung yang datang. Sehingga barang jualannya pun masih ada yang membeli.

"Kalau kemarin-kemarin sesepi-sepinya enggak seperti inilah dampaknya. Ini keseluruhan. Pasarnya enggak ada pengunjung. Turunnya bisa sampai 100 persen, drop langsung. Ini benar-benar ngeri. Lebih ngeri ini daripada dampak yang lain, misale kayak ada bencana, lebih parah ini," tuturnya.

Meski omzet penjualan menurun drastis, Fitri tetap bertahan, membuka tokonya, karena itu pekerjaan utamanya. Setidaknya dengan tetap membuka toko, masih ada peluang pembeli datang.

"Cuma kita saja, istilahnya rakyat kecil yang kesehariannya harus seperti ini, untuk hidup istilahnya, jadi kudu bertahan seperti ini. Kalau tutup kayaknya lebih berat. Kita mikir-nya spekulasi," ujarnya.

Jika toko di pasar itu ditutup, para pemilik toko tetap harus membayar sewa lahan, gaji karyawan dan beberapa pengeluaran lain, tanpa ada peluang untuk mendapatkan penghasilan. "Kalau tutup ya remuk semua. Serba salah. Kita buka berharap ada yang datang beli," kata Fitri.

Fitri juga menjelaskan, biasanya pada waktu-waktu seperti ini, yaitu menjelang bulan suci Ramadan, jumlah pembeli meningkat hingga 80 persen. Tapi kali ini, jangankan peningkatan, pengunjung pun bisa dihitung dengan jari.

Dampak Corona 1Seorang pedagang pakaian di Pasar Beringharjo, Dyah Safitri, 50 tahun, Kamis, 19 Maret 2020, menyebut omzetnya menurun hingga 100 persen sejak isu wabah Covid-19. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Khawatir Tertular Covid-19

Sebagai pedagang di pasar, Fitri harus berinteraksi dengan banyak orang dan sering memegang uang kertas. Hal itu membuatnya khawatir tertular Covid-19. Tapi, keyakinannya kepada kuasa Allah, mengurangi kekhawatiran itu.

Selain berserah diri, ia juga berupaya mencegah, mengantisipasi agar tak terjangkit Covid-19, yaitu dengan menjaga kebersihan, menjaga daya tahan tubuh.

"Kekhawatiran kena corona ya ada, cuma kita nawaitu-lah, kita bismillah, bagaimana caranya kita mengantisipasi. Istilahnya kita jaga-jaga sendiri, jaga kebersihan, jaga jarak, pakai masker. Tapi kita enggak tahu juga ya. Kita mikir-nya ya sudah pasrahlah. Mungkin takdir kalau kena corona. Tapi kita berusaha jaga kebersihan dan daya tahan tubuh," tuturnya.

Fitri juga mengaku sejak lama menggunakan hand sanitizer, jauh sebelum isu wabah Covid-19. Tapi saat ini ia menjadi lebih waspada. "Sebelum ada isu corona, aku sudah pakai antiseptik, tapi setelah ada isu corona aku jadi lebih antisipasi lagi. Katanya kan bisa lewat uang kertas. saya kan sering pegang duit, jadi semaksimal mungkin."

Ia berharap kondisi ini segera berlalu dan keadaan bisa pulih seperti sediakala. Pemerintah pun diharap mampu memberikan solusi, agar semua bisa kembali stabil, tidak ada yang dirugikan.

"Solusinya ya belum tahu. Kalau semakin hari semakin kayak gini terus, terus gimana kita. Bingung malahan. Online (jualan) pun dampaknya ya sama sih," ucapnya.

Apalagi saya tiap hari pegang uang kertas. Sebenarnya paling berbahaya kan dari uang, dipegang banyak orang.

Dampak Corona 3Petugas penjaga parkir di kawasan Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Kuntet, 40 tahun, memasang karcis parkir pada sepeda motor pedagang pasar, Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Senada dengan Fitri, seorang penjaga parkir di kawasan parkir Pasar Beringharjo, yang mengaku bernama Kuntet, 40 tahun, mengaku ada kekhawatiran tertular Covid-19.

Suasana di lokasi parkir juga sunyi, tak jauh berbeda dengan kondisi di dalam pasar. Banyak lahan yang terlihat kosong. Hanya beberapa puluh sepeda motor terparkir di tempat itu.

Kuntet mengatakan dirinya percaya kepada ketentuan Allah dan berserah diri, meski tetap melakukan upaya antisipasi agar tidak tertular.

"Rasa khawatir ya pasti ada, tapi saya percaya sama Gusti Allah. Sudah pasrahkan semuanya. Kita cari masker, hand sanitizer, juga sulit. Apalagi saya tiap hari pegang uang kertas. Sebenarnya paling berbahaya kan dari uang, dipegang banyak orang. Tapi saya enggak terlalu panik. Saya banyak istighfar," tuturnya.

Untuk menjaga kesehatan warga, khususnya petugas parkir dan pedagang di situ, ia berharap pemerintah menyiapkan hand sanitizer gratis dan masker, karena kedua barang itu saat ini sangat sulit diperoleh. "Jadi kita wajib cuci tangan. Tapi percuma juga karena saya setiap saat pegang uang," tuturnya.

Dampak Corona 5Suasana pasar terbesar di Yogyakarta, Pasar Beringharjo, Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Mengenai penurunan omzet parkir, Kuntet menyatakan turun hingga lebih dari 50 persen. Itu terjadi sejak beberapa hari lalu. Saat ini, puluhan sepeda motor yang terparkir di situ, mayoritas adalah milik pedagang dan petugas Pasar Beringharjo.

"Biasanya sehari pengunjung saja bisa 300 kendaraan. Ini sampai siang seperti ini baru dapat 75. Itu pun mayoritas motor pedagang," ucapnya.

Berkoar Soal Covid-19 di Medsos Bikin Panik

Kuntet, pria yang bertato pada lengan kirinya ini juga berharap warganet tidak banyak berkoar soal Covid-19 di media sosial. Alasannya, unggahan-unggahan yang tidak jelas di media sosial, secara tidak langsung akan membuat warga semakin panik.

"Harapannya justru jangan terlalu koar-koar soal corona di medsos, karena bukan cuma bikin tambah takut tapi juga bikin down," kata dia.

Ketakutan-ketakutan itu yang menurutnya membuat orang semakin enggan keluar rumah, yang berdampak pada penurunan omzet pedagang dan petugas parkir.


Pendapat sama disampaikan seorang pedagang kaki lima, Febi, 40 tahun, yang menjual bakpia di Malioboro, tepatnya di depan Pasar Beringharjo.

Saat ditemui di lapaknya, Febi hanya sendirian. Tidak ada kerumunan pengunjung yang berebut untuk membeli kue khas Yogyakarta tersebut. Trotoar di pinggir jalan juga sunyi. Sebagian besar orang yang terlihat adalah pedagang. Hanya beberapa pengunjung yang melintas.

"Sepinya itu karena ada isu tempat wisata mau ditutup, termasuk Malioboro. Warga juga terlalu berlebihan ketakutannya," ujarnya.

Febi sendiri mengaku tidak khawatir dengan wabah Covid-19. Yang terpenting, kata dia, harus mampu menjaga stamina, kondisi kesehatan.

"Saya enggak takut. Percaya sama Allah. Yang penting jaga kondisi tubuh," tuturnya.

Mengenai kerugian akibat sunyinya pengunjung, Febi mengatakan omzetnya menurun hingga 95 persen. Tapi, yang lebih rugi akibat minimnya pembeli adalah produsen kue bakpia, karena bakpia memiliki masa kedaluarsa.

"Ini jauh lebih sepi. Hari biasa itu paling sepi saya bisa dapat 500 ribu. Kalau sekarang menurun drastis. Turun sampai 95 persen dari hari biasa. Kalau saya enggak terlalu dirugikan oleh kue yang kedaluarsa karena itu bisa diretur. Cuma yang produsennya yang rugi banyak." []

Baca juga cerita:

Berita terkait
Kesaksian Tiga Pasien Sembuh dari Corona Covid-19
Tiga pasien positif corona Covid-19 dinyatakan sembuh. Mereka dengan kode pasien 01, pasien 02, pasien 03. Ini kesaksian dan harapan mereka.
Keterbukaan 3 Wanita Cantik Pasien Positif Corona
Seorang ibu dan dua putri, Maria Darmaningsih, Sita Tyasutami dan Ratri Anindyajati, pasien positif corona yang sembuh. Mereka membuka diri.
Mendampingi Suami Suspect Corona di Semarang
Suami istri di Semarang ini melakukan perjalanan ke Singapura 9 hari. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, suami menunjukkan tanda gejala corona.
0
Mungkin Takdir Kalau Kena Corona
Siang itu di Pasar Beringharjo Yogyakarta, jumlah pedagang lebih banyak dari pengunjung. Hari yang berat untuk mencari uang di tengah wabah corona.