Muhadjir Effendy Rendahkan Martabat Bangsa Uni Eropa

Sebut seks bebas budaya Barat, Muhadjir Effendy, menepuk air di dulang dan rendahkan bangsa Barat, di Indonesia ada seks bebas yaitu kumpul kebo
Ilustrasi (Foto: see.news)

Oleh: Syaiful W. Harahap*

"Perilaku tersebut merupakan merupakan budaya barat yang bertentangan dengan nilai dan norma ketimuran yang dianut bangsa Indonesia." Ini merupakan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, dalam berita “Muhadjir Effendy: Seks Bebas Bukan Budaya Indonesia”, Tagar, 4 November 2020.

Lagi pula pernyataan anggota DPD Bali, Arya Wedakarna, terkait dengan cara mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual. Secara medis mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, antara lain laki-laki memakai kondom. Ada juga kondom perempuan tapi tidak populer di Indonesia. Agaknya, pernyataan Arya mengalami distorsi informasi untuk keperluan informasi yang sensasional dan bombastis dengan bumbu moral.

Istilah “seks bebas” mulai populer di Indonesia sejak awal tahun 1970-an yang dikait-kaitkan dengan kehidupan kaum hippies dan diterjemahkan pula secara bebas dari free sex. Padahal, dalam kamus-kamus Bahasa Inggris tidak ada entri free sex. Itu artinya istilah ‘seks bebas’ justru tidak dikenal di Barat, dalam hal ini Uni Eropa dan Amerika Utara.

1. Kumpul Kebo Merupakan Praktek Seks Bebas

Entri yang ada, seperti di The Advanced Learner’s Dictionary of Current English, Second Edition, Oxford University Press, London, 1973, adalah free love disebut sexual relations without marriage (hubungan seksual tanpa pernikahan). Namun, tidak seperti pengertian di Indonesia ‘seks bebas’ dikaitkan dengan semua bentuk hubungan seksual, seperti dengan pekerja seks komersial (PSK) dan hubungan seksual di luar nikah. Free love di Barat didasari cinta yang berbeda dengan hubungan seksual yang dilakukan dengan PSK.

Lagi pula free love dikenal di Barat itu bukan budaya, tapi kebiasaan orang per orang di komunitas. Budaya adalah akal budi atau adat istiadat yang mengandung makna sakral dalam kehidupan. Maka, hal-hal yang melawan norma, seperti free love, bukan budaya satu bangsa tapi hanya merupakan perilaku atau kebiasaan segelintir warga di komonitas.

Jika ditarik ke Indonesia ada pola hidup bersama sebagai suami istri, juga didasari cinta, yang dikenal sebagai ‘kumpul kebo’ sudah lama dikenal yang disebut-sebut seumur dengan Nusantara. Dalam KBBI ‘kumpul kebo’ disebut sebagai hidup bersama sebagai suami istri di luar pernikahan. 1001 macam alasan yang dijadikan sebagai pijakan untuk melakukan hidup bersama dalam ikatan ‘kumpul kebo’.

Bahkan, sampai sekarang pasangan ‘kumpul kebo’ tetap ada sebagai realitas sosial di social settings. Pada kegiatan nikah massal selalu ada pasangan ‘kumpul kebo’ yang dinikahkan. Ada yang sudah puluhan tahun 'kumpul kebo' sampai beranak-cucu. Kalau jujur tentu saja sifat hubungan seksual pada pasangan ‘kumpul kebo’ adalah ‘seks bebas’.

Maka, amatlah gegabah menyebutkan ‘seks bebas’ sebagai budaya barat, dalam hal ini bangsa Uni Eropa, yang juga dikenal sebagai Barat dan Amerika Utara, karena tidak ada legalisasi free sex di Barat. Sama halnya dengan pelacuran tidak ada negara yang melegalkan pelacuran yang ada adalah membuat regulasi yaitu dengan menyediakan lokalisasi pelacuran atau rumah bordil. Ini merupakan kewajiban negara untuk hak warga dalam hal memenuhi kebutuhan biologis, antara lain penyaluran dorongan seks.

2. Negara Ketiga Tercepat Pertambahan Kasus HIV/AIDS

Istilah ‘seks bebas’ kian gencar disuarakan berbagai kalangan dengan lidah berbalut moral ketika epidemi HIV/AIDS terdeteksi di Indonesia. Penularan HIV/AIDS dikait-kaitkan dengan ‘seks bebas’, dalam hal ini hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran.

Padahal, risiko penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas), tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual yaitu salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom. Ini fakta medis. Pada pasangan suami-istri yang terikat pernikahan yang sah pun ada risiko penularan HIV jika suami atau istri mengidap HIV/AIDS. Sedangkan pengaitan penularan HIV/AIDS dengan ‘seks bebas’ adalah mitos (anggapan yang salah).

Akibat mitos tersebut penyebaran HIV/AIDS terus terjadi di Indonesia karena banyak laki-laki yang menganggap dirinya tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena tidak melakukan ‘seks bebas’ yaitu tidak melakukan hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran. Pemerintah, dalam hal ini Kemensos dan pemerintah daerah menutup semua lokalisasi pelacuran.

Tapi, sekarang laki-laki dewasa berisiko tinggi tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tidak lansung, seperti pemijat di panti pijat plus-plus, cewek kafe, cewek pub, cewek diskotek, dan belakangan ini booming melalui prostitusi online.

Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun 1987 sampai 30 Juni 2020 yang dilaporkan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P), Kemenkes RI, tanggal 12 Agustus 2020, sebanyak 524.371 yang terdiri atas 398.784 HIV dan 125.587 AIDS dengan 43.318 kematian.

Penambahkan kasus HIV/AIDS akan terus terjadi di Indonesia karena insiden infeksi HIV baru terus terjadi, terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK. Indonesia merupakan negara ketiga di Asia yang pertambahan kasus baru HIV/AIDS tercepat setelah China dan India. []

* Syaiful W. Harahap, Redaktur di Tagar.id

Berita terkait
Jakarta dan Papua dengan Kasus Terbanyak HIV/AIDS
Laporan terbartu kasus HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan ada lima provinsi dengan jumlah kasus HIV dan AIDS terbanyak
Lokalisasi Pelacuran dari Jalanan ke Media Sosial
Sejak reformasi gerakan massal tutup lokalisasi pelacuran, tapi Internet melalui media sosial jadi ranah baru pelacuran melalui prostitusi online
Muhadjir Effendy: Seks Bebas Bukan Budaya Indonesia
Menko PMK menilai seks bebas bertentangan dengan nilai dan norma ketimuran yang dianut bangsa Indonesia.