Mudarat Bagi Siswa Jika Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi

Pandemi virus corona yang belum menunjukkan tanda-tanda reda di Indonesia membawa mudarat bagi siswa sekolah tatap muka
Kim Yu-na, seorang guru bahasa Inggris di Bakmun Girls ’High School di Songdo, Incheon, membagikan materi pembelajaran di kelas pada tanggal 25 Juni. (Foto: koreabizwire.com - PARK SANG-MOON)

Oleh: Syaiful W. Harahap*

KPAI: Mayoritas Siswa Setuju Sekolah Tatap Muka Januari 2021. Ini running text di sebuah stasiun televisi swasta nasional, 28 Desember 2020.

Soal boleh atau tidak boleh sekolah atau belajar tatap muka di masa pandemi virus corona adalah urusan ahli-ahli epidemilogi bukan keputusan siswa. Apalagi sejak awal Desember 2020 dunia dilanda pandemi varian baru virus corona yang oleh pakar disebut lebih mudah menular.

Maka, amatlah gegabah kalau KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) memanfaatkan pendapat siswa untuk mendorong pemerintah mengizinkan sekolah tatap muka dibuka karena siswa akan berhadapan dengan risiko penularan virus corona. Mudarat sekolah tatap muka lebih besar daripada manfaatntya di masa pandemi virus corona.

Korea Selatan (Korsel) dengan kasus harian yang kecil, bahkan sering nol, tetap terjadi insiden penularan virus corona antar siswa ketika Negeri Ginseng itu membuka sekolah tatap muka. Ini terjadi karena di luar sekolah tidak bisa diawasi kepatuhan siswa-siswi terhadap protokol kesehatan.

matriks kasus harianPerbandingan kasus harian di Korea Selatan dan Indonesia (Tagar/Syaiful W. Harahap)

Pada rentang waktu April-Mei 2020 dengan kasus harian yang landai bahkan tidak ada Korsel membuka 200-an sekolah yang menyelenggarakan kelas tatap muka. Tapi, akhir Mei 2020 sekolah tatap muka kembali ditutup karena terdeteksi penyebaran virus corona di sekolah.

Di kelas dan di lingkungan sekolah protokol kesehatan diterapkan secara ketat. Masalahnya kemudian adalah banyak orang yang tertular virus corona tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas terkait dengan virus corona.

Bandingkan dengan Indonesia yang kasus harian terus naik sejak kasus pertama terdeteksi (2 Maret 2020). Kasus harian tidak pernah landai. Kasus haria terbanyak dilaporkan tanggal 3 Desember 2020 sebanyak 8.369.

Memang, siswa-siswi diukur suhu tubuhnya ketika hendak masuk kelas. Tapi, bisa saja siswa-siswi dengan suhu tubuh normal tapi mengidap virus corona. Akibatnya, terjadi penularan antar siswa.

Kota Tangerang, Banten, misalnya akan membuka sekolah tatap muka. Pejabat terkait di sana mengatakan siswa-siswi yang batuk-batuk tidak diizinkan masuk sekolah. Tentu saja hal ini keliru karena banyak kasus virus corona tanpa gejala yang dikenal sebagai OTG (orang tanpa gejala).

Amerika Serikat (AS) menunda ujian membaca dan matematika sampai tahun 2022. Hal ini terjadi karena pandemi virus corona yang berkecamuk di AS. Negeri Paman Sam itu lebih mementingkan keselamatan siswa.

Baca juga: Amerika Serikat Tunda Ujian Nasional Membaca dan Matematika

Salah satu persyaratan yang disebutkan pemerintah adalah klassifikasi daerah yang bisa membuka sekolah tatap muka yaitu zona hijau (tidak ada kasus virus corona atau tidak terdampak virus corona).

Persoalannya adalah ada daerah yang tidak pernah melakukan survailans tes virus corona sehingga tidak ada kasus. Ini tentu saja menyesatkan sehingga berisiko tinggi bagi sekolah dengan belajar tatap muka karena bisa saja ada siswa yang OTG.

Baca juga: Zona Hijau Sebagai Daerah Semu Pandemi Virus Corona

Selain itu pendemi virus corona (Covid-19) tidak mengenal batas secara administrasi dan fisik sehingga pandemi berdampak terhadap semua negara di dunia. Bahkan, Chile sudah mendeteksi virus corona di Benua Antartika (Kutub Selatan) sehingga tinggal Artik (Kutub Utara) yang belum terdeteksi virus corona.

Baca juga: Covid-19 Tak Kenal Batas Wilayah, Daerah dan Negara

Karena pandemi virus corona sudah menyebar di seluruh Indonesia, maka secara empiris tida ada daerah yang tidak terdampak pandemi. Masalahnya adalah bisa saja warga satu daerah berobat ke daerah lain sehingga tidak terdaftar di daerahnya.

Selain itu mobilitas masyarakat yang tinggi dengan akses transportasi yang cepat juga jadi faktor yang mendorong risiko penyebaran virus corona. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi pergerakan warga tidak dilakukan dengan skala nasional sehingga penyebaran virus corona terus terjadi.

Jika ditimbang-timbang mudarat belajar di sekolah dengan tatap muka di kelas jauh lebih besar daripada manfaatnya. Akan jauh lebih bermanfaat bagi dunia pendidikan dan keselamatan siswa dengan meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) daripada mengadu untung belajar tatap muka di kelas. []

* Syaiful W. Harahap, Redaktur di tagar.id

Berita terkait
Jumlah Kasus Virus Corona di Seluruh Dunia Tembus 80 Juta
Jumlah kasus virus corona dunia dilaporkan tembus angka 80 juta, beberapa negara mulai jalankan vaksinasi saat ditemukan varian baru virus corona
Cegah Virus Corona Baru Jepang Larang Masuk Warga Asing
Untuk mencegah varian varu virus corona (Covid-19) warga ssing dilarang masuk ke Jepang pada tanggal 28-31 Desember 2020
Jumlah Kasus Virus Corona di Amerika Serikat Tembus 18 Juta
Pertambahan jumlah kasus virus corona di AS sangat pesat karena kasus harian yang banyak sehingga jumlah kasus tembus 18 juta yaitu 18.043.016
0
Kenya Gagal Lindungi Perempuan dan Anak Perempuan
Human Rights Watch mengatakan pemerintah Kenya gagal memastikan akses ke dukungan layanan kesehatan, ekonomi, dan sosial