UNTUK INDONESIA

Menyesap Secangkir Kopi di Bawah Pohon Bersama Doni Monardo

Pria berpostur tinggi besar itu tersenyum lebar, semringah, tangannya menyentuh daun-daun hijau pada batang pohon. Sisi lain Doni Monardo.
Doni Monardo (depan) didampingi Egy Massadiah (tengah) menengok trembesi di Desa Kariango, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. (Foto: Tagar/Facebook Egy Massadiah)

Jakarta - Pria berpostur tinggi besar itu tersenyum lebar, semringah, bahagia menyentuh dedaunan pada sebatang pohon. Kakinya menginjak hamparan rumput hijau di sebuah halaman. Ia begitu berstamina, segar dalam balutan kaos lengan panjang bernuansa biru bertuliskan Skydive Indonesia, dengan topi hitam berlogo BNPB. Ia adalah Letnan Jenderal Doni Monardo terekam dalam foto disematkan dalam buku Secangkir Kopi di Bawah Pohon, Kiprah Doni Monardo Menjaga Alam.

"Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita," kata Doni Monardo.

Doni Monardo, nama yang sering disebut dalam pusaran pemberitaan di tengah pandemi, karena Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini sekaligus adalah Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Pembawaannya yang tenang juga menyiratkan ketegasan, membimbing masyarakat untuk tidak panik dalam situasi sulit. Ia tidak selalu dipuji, kadang dikritik, ia tidak reaksional. 

Siapa sebenarnya Doni Monardo? Pertanyaan ini terjawab, satu di antaranya dengan membaca buku Secangkir Kopi di Bawah Pohon, Kiprah Doni Monardo Menjaga Alam. Buku ini ditulis Egy Massadiah, wartawan senior yang juga seorang seniman, juga Staf Khusus Kepala BNPB Doni Monardo. Egy mengikuti banyak perjalanan Doni Monardo, dan menuliskannya dengan bercerita. Begitu dekat. Personal.

Egy Massadiah juga menyematkan catatan-catatan penting dalam buku. Di antaranya panduan media dalam meliput peristiwa kebakaran: Jika terjadi kebakaran hutan atau lahan, bukan berita kebakarannya yang utama. Yang terpenting adalah memberitakan penyebab kebakaran. Kenapa terbakar, siapa siapa yang membakar. Kalau orang, siapa orangnya. Kalau perusahaan perkebunan yang membuka lahan, buka ke publik nama dan pemilik perusahaannya.

Kenali ancamannya, siapkan strateginya. Ketahui masalahnya, carikan solusinya.

Buku Doni MonardoBuku berjudul Secangkir Kopi di Bawah Pohon, Kiprah Doni Monardo Menjaga Alam, ditulis wartawan senior Egy Massadiah. (Foto: Dok Tagar)

Tidak ada kata covid, karena buku itu dibuat dalam rentang waktu sebelum Juli 2019. Kasus covid pertama kali terjadi di Indonesia pada awal Maret 2020. Membaca buku melalui sudut pandang Egy, pembaca diajak masuk ke ruang-ruang terdalam, duduk berdekatan dengan Doni Monardo, sambil menyesap secangkir kopi hangat di bawah pohon tinggi kokoh berdaun rindang. 

Buku Secangkir Kopi di Bawah Pohon terutama bercerita tentang kecintaan Doni Monardo terhadap alam. Membaca buku setebal 382 halaman ini kita akan tahu Doni Monardo dalam keseharian, tidak pernah minum dari minuman botol plastik. Ke mana pun ia pergi, selalu membawa serta tumbler.

Egy Massadiah bercerita, di bawah matahari pagi, Kamis, 28 Maret 2019, ia menyaksikan apel Relawan BNPB 'Dharma Relawan Adhirajasa' , pemuda-pemudi tanggauh di Kabupaten Buleleng, Bali. Ada pemandangan langka yang menyita perhatiannya. Semua relawan memegang tumbler tempat air minum yang awet. Tak satu pun ia menemukan air minum botol plastik kemasan sekali pakai. 

Doni MonardoDoni Monardo (tengah) berdiri menghadap bibit-bibit pepohonan, bersama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kiri) dan Egy Massadiah (kanan). (Foto: Tagar/Facebook Egy Massadiah)

Doni Monardo sampai mendapat julukan 'ilmu pohon'. Ia bisa lupa waktu kalau diajak bicara tentang pohon. Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, ia tak segan mengajak bicara pepohonan.

"Semua pantai yang berpotensi bencana tsunami kita tanami pohon. Pohon, hutan pantai, mampu meredam ganasnya gelombang tsunami hingga 80 persen. Pohon sebagai infrastruktur alam adalah jawaban konkret untuk mencegah jatuhnya banyak korban," ujar Doni Monardo dalam Green Belt New Yogyakarta International Airport, Mei 2019. 

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam buku ini mengatakan, "Sebagian bencana yang terjadi di Indonesia diakibatkan kerusakan lingkungan, kebiasaan dan perhatian Doni Monardo dalam menjaga lingkungan hidup tentu dapat meminimalkan risiko bencana."

Doni berpikir jauh ke depan, 100 tahun ke depan, suatu hari ia berkata kepada Egy Massadiah, "Egy, kita tidak boleh egois. Kita harus berpikir jangka panjang. Berpikir untuk anak cucu kita. Mereka harus kita warisi alam yang hijau, alam yang di dalamnya terdapat keseimbangan ekosistem."

Doni MonardoDoni Monardo (kanan) dan Egy Massadiah. (Foto: Facebook Egy Massadiah)

Pohon sama seperti manusia, kata Doni, "Ia tumbuh, besar, dan menjadi tua. Tentu dalam prosesnya pohon juga perlu perhatian. Pendek kata, Indonesia membutuhkan sangat banyak dokter pohon." 

Dokter-dokter pohon itu tidak saja bertugas mempercantik penampilan pohon, juga merawat kesehatannya. Jika waktunya dipangkas daun-daunnya, ya dipangkas. Jika perlu dipotong dahannya, ya potong dahannya. Jika ada benalu, harus dibersihkan. Jika sudah cukup umur dan sudah waktunya diganti pohon baru, segera diganti. Jangan menunggu roboh dan mencelakakan orang.

Egy juga menceritakan momen ketika berada di ruang kedatangan Bandara Praya Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pada saat itu Doni melemparkan teka-teki: apa persamaan jalanan dari Bandara Lombok ke kota dengan jalanan dari Bandara Changi Singapura ke kawasan pusat kota? Sebelumnya, Doni berdialog dengan seseorang: sudah berapa kali Anda ke Lombok? Kapan terakhir Anda ke Lombok? Apa Anda pernah ke Singapura? 

Yang menarik dari momen itu kemudian terungkap sejak berpangkat letnan dua Doni dikenal pakar dan pecinta pohon. Tidak heran pada tahun 2010-2011, ia yang dihubungi ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ditanya apakah ia punya stok bibit pohon trembesi. Doni bertanya balik untuk apa, perlunya berapa banyak, dan mau ditanam di mana. 

Doni MonardoDoni Monardo (kiri) selalu antusias bicara pohon, bisa lupa waktu, bersama Egy Massadiah. (Foto: Tagar/Facebook Egy Massadiah)

Singkat cerita, Doni menyiapkan 10.000 bibit pohon trembesi rata-rata setinggi 1 meter. Dari lokasi pembibitan kemudian diangkut ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan kapal laut dan pesawat hercules. Tujuan penanaman sepanjang jalan sekitar 30 kilometer dari mulut Bandara Praya Lombok menyusuri kiri kanan jalan menuju pusat kota. Kenapa trembesi? Pohon ini termasuk sakti karena terbukti memiliki manfaat hebat untuk lingkungan. Trembesi dipercaya ampuh menurunkan dampak pemanasan global yang mengancam bumi. 

Bukan hanya trembesi. Dengan membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang pohon. 

***

Tidak mau jadi pemadam kebakaran, ini prinsip Doni Monardo dalam memimpin BNPB. Tidak ingin BNPB sibuk dan bekerja hanya pada saat terjadi bencana alam atau musibah. "Di luar kehendak Tuhan, prinsip bencana hanya ada dua, karena faktor alam dan faktor manusia," kata Doni.

Ia menyebutkan gempa bumi atau gunung meletus itu faktor alam, dan dengan pendekatan science, bisa dideteksi, diprediksi. Tapi longsor dan banjir hampir bisa dipastikan karena ulah manusia. Doni mengajak semua pihak mengenali ancamannya, menyiapkan strateginya. "Kenali ancamannya, siapkan strateginya. Ketahui masalahnya, carikan solusinya."

Doni MonardoDoni Monardo dalam pesawat menghadap jendela, dalam perjalanan kerja, memperhatikan alam dan masyarakat. (Foto: Tagar/Facebook Egy Massadiah)

Membaca buku yang ditulis Egy Massadiah ini, kita diajak mengikuti perjalanan panjang Doni Monardo. Pada 31 Maret 2019, Doni Monardo dan rombongan meninjau pengungsi korban banjir bandang di gelanggang olahraga atau GOR Torawi, Papua. Saat melintas di Danau Sentani, tepatnya di Desa Ase Kecil Kampung Telaga Maya, Sentani, Kabupaten Jayapura, Doni tiba-tiba meminta iring-iringan rombongan BNPB berhenti.

Doni turun dan menghampiri seorang ibu paruh baya yang tinggal di rumah panggung dan dikelilingi genangan air. Doni membujuk ibu itu untuk pindah. Ibu itu menolak, "Sudah tidak usah pindah-pindah, kami dari dulu sudah di sini. Mata pencaharian kami di sini, keluarga kami di sini," kata sang ibu dengan aksen Papua. Doni tidak memaksa, tapi usai pamit, kepada Harmensyah, Deputi BNPB bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Doni meminta tipikal korban terdampak seperti itu harus dicarikan solusi agar rumahnya ditinggikan dari posisi air. Harmensyah mengagguk paham.

Doni tidak kembali ke mobil, melainkan berjalan kaki di sekitar rumah ibu tadi. Sekitar 50 meter dari tempat sang ibu, langkah Doni terhenti. Sebuah genangan air bening dengan gelembung-gelembung kecil menyita perhatiannya. Segera Doni mendekat. Ada raut bahagia di wajahnya, meski siang itu matahari seperti tengah membakar bumi Sentani.

"Allah menunjukkan jalan. Ada sumber air potensial di sini. Ini pasti sangat bermanfaat untuk rakyat," kata Doni. Padahal tiga hari sebelumnya media berskala nasional memaparkan fakta betapa para pengungsi kesulitan air bersih. Berita miris itu sangat mengganggu Doni. Doni memerintahkan aparat Kodim dan Korem setempat bergotong-royong memasang bronjong dan meletakkan batu-batuan guna membuka akses ke titik air. 

Keesokan harinya, kurang dari 24 jam, infrastruktur sederhana itu pun terwujud. Ditemani Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Doni menengok mata air temuannya. Doni mengajak Basuki  membasuh muka dengan air bening nan segar itu. "Ayo, Pak Menteri, kita cuci muka di sini." []

Berita terkait
BNPB Salurkan Bantuan RP 500 Juta Penanganan Erupsi Semeru
Kepala BNPB meninjau sejumlah titik penanganan erupsi Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur. Selain itu, BNPB juga menyalurkan bantuan.
4 Daerah Terdampak Merapi Dapat Bantuan BNPB Rp 4 M
BNPB menyalurkan bantuan sebesar Rp 4 miliar untuk 4 daerah di DIY dan Jawa Tengah terdampak Gunung Merapi.
BNPB: Tahapan Peringatan Dini Erupsi Merapi Telah Terpenuhi
BNPB menilai semua tahapan munculnya peringatan dini erupsi Gunung Merapi telah terpenuhi. Apa saja tahapannya?
0
Cerita Menko Airlangga Cari Vaksin Sejak Maret 2020
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menceritakan, vaksin Covid-19 yang telah datang hasil diplomasi yang baik antara Indonesia dan China.