Jakarta, (Tagar/3/3) - Sepuluh tahun ia memimpin Blitar. Dua periode menjadi Wali Kota, Djarot Saiful Hidayat, menuai banyak pujian dan decak kagum tak hanya warganya sendiri, namun terendus luas berskala nasional. Anak tentara yang semasa kecilnya sering menunggui warung orang tuanya yang berdagang kelontong ini memang dekat dengan rakyat jelata. Bisa dimaklumi, anak tentara yang bersaudara enam orang ini jauh dari sebutan anak kaya. Teman mainnya pun anak dari kalangan biasa. Aku ini orang kecil, ya temanku pun orang-orang kecil, demikian Djarot berkisah mengenang masa kecilnya dalam satu kesempatan.
Cara menyelami hati rakyat yang dilakukannya cukup unik. Djarot sering berkeliling menggunakan motor tuanya, Yamaha Scorpio, sendirian tanpa ajudan dan baju dinas serta tak diiringi oleh para pemburu berita. Ia melakukan kegiatan blusukannya dengan senyap dan menyapa warga yang ditemuinya langsung. Dan semuanya itu dilakukan Djarot sejak hari pertama ia menjadi orang nomor satu di Blitar. Dengan menyelami langsung kehidupan warga, saya lebih mengerti persoalan dan insya Allah, bisa memberikan solusi secara langsung, tanpa protokoler dan birokrasi rumit, demikian alasannya.
Yang menarik, Djarot Saiful Hidayat ternyata masih berstatus pengantin baru saat pertama kali menjabat sebagai Wali Kota Blitar. Ia tak memiliki rumah apalagi kendaraan mobil saat itu. Yang dimilikinya hanyalah motor tua yang kerap dipakainya berkeliling berkaus oblong menjumpai rakyatnya.
Kedekatannya dengan rakyat kecil itu membuat ia terasah dan mempunyai empati tinggi terhadap rakyat. Hal itu sangat membantu kebijakan-kebijakannya yang mudah diterima masyarakat kecil, termasuk saat ia menata pedagang kaki lima (PKL) di kotanya yang amat semrawut dan tersebar semaunya hingga rapih tertata bersih dan mampu menjadikan Blitar penggaet tiga kali penghargaan Adipura berturut-turut.
Jarot juga dikenal sebagai Bapak Pasar Tradisional, karena ia lebih memilih menghidupkan pasar-pasar rakyat yang kecil dan hampir punah ketimbang memberi area untuk membangun mal di Blitar yang cenderung menyempitkan daya saing pedagang-pedagang kecil.
Hal yang cukup spektakuler dari seorang Jarot adalah saat ia melempar konsep dana hibah untuk memperindah kotanya sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyatnya melalui upaya renovasi rumah tua warganya yang nyaris ambruk dan tak layak huni menjadi rumah yang bersih,rapih, dan sehat hanya dengan hibah 4 – 7 juta tiap rumah.
Dana tersebut memang sangat kecil untuk ukuran renovasi sebuah rumah, namun sisi lain dari programnya tersebut adalah membangkitkan kembali semangat guyub atau gotong royong warganya dan mempererat kesetiakawanan sosial.
Saat itu, sebagian warganya berkeliling melakukan inspeksi untuk mencari rumah-rumah yang sudah tak layak untuk kemudian melaporkan padanya agar diberikan dana hibah tersebut. Hingga Djarot meninggalkan Blitar, lebih dari 2000 rumah telah direnovasi bersama warganya yang kompak bahu membahu mendukung program sosialnya itu.
Kedekatannya dengan warga membuatnya terpilih kembali di periode kedua sebagai Wali Kota masa bakti 2005-2010. Selama menjabat Wali Kota, Djarot menjadikan Blitar daerah terkaya nomor 2 di Jawa Timur. Tak cuma Adipura, Ia juga meraih Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi daerah pada tahun 2008, Penghargaan Upakarti pada 2007, Peringkat Pertama penerapan E-Government di Jawa Timur, dan Pemimpin Inovatif se-Jawa Timur pada April 2008.
Seusai menjabat wali kota, Djarot lebih menyibukan diri membesarkan partainya, PDI Perjuangan, hingga mengantarnya menjadi anggota DPR pada 2014 hingga 2019. Namun di akhir Desember tahun yang sama, ia harus melepaskan kursi wakil rakyat tersebut karena diangkat dan dilantik menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 17 Desember 2014.
Djarot dilantik sebagai Wakil Gubernur menggantikan Ahok yang naik menjadi Gubernur menggantikan Jokowi yang menjadi Presiden. Dan kini, pasangan serasi Gubernur Ahok ini tengah berjuang mendampingi Ahok untuk maju sebagai calon Wakil Gubernur dalam Pilkada 2017. (rif, dari berbagai sumber)
Keluarga
Istri : Heppy Ferinda
Anak : Farida Prameswari
Karunia Dwi Hapsa Paramasari
Meisa Rizki
Pendidikan
S1, Universitas Brawijaya, Malang Fakultas Ilmu Administrasi (1986)
S2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Fakultas Ilmu Politik (1991)
Universitas Amsterdam (2002)
Pekerjaan
Dosen di Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya
Pembantu Rektor I Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya (1997-1999)
PD I FIA, UNTAG Surabaya (1984-1991)
Dekan FIA, UNTAG Surabaya (1991-1997)
Ketua Komisi A DPRD Jawa Timur (1999-2000)
Wali Kota Blitar (2000-2010)
Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur (2005-2010)
Ketua I Pappuda PDI Perjuangan (1999)
Deputi I BADIKLATDA Jawa Timur (2001)
Ketua DPD PA GMNI Jawa Timur (2010-2014)
Ketua Bidang Organisasi DPP PDI Perjuangan (2010-2015)
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (2014)
Presidium Ikatan Alumni Universitas Brawiaya (2012-Sekarang)
Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPP PDI Perjuangan (2015-Sekarang)
Wakil Gubernur DKI Jakarta (2014-Sekarang)
Penghargaan
Penghargaan Terbaik Citizen's Charter Bidang Kesehatan, Anugerah Adipura (2006, 2007, dan 2008)
Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksana Otonomi Daerah (2008)
Otonomi Award dari Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).
Penghargaan atas terobosan inovasi daerah se-Provinsi Jawa Timur di dalam pembangunan daerahnya (30 April 2008)
Penghargaan Upakarti (2007)
Peringkat Pertama dalam penerapan E-Government di Jawa Timur