UNTUK INDONESIA
Mengenal DME, Energi Alternatif Pengganti Elpiji
Pemerintah akan mengurangi ketergantungan pada impor LPG karena dari sisi ketahanan enegi tidak terlalu baik.
Pekerja menurunkan tabung gas LPG 3 kilogram di gudang distributor di Taktakan, Serang, Banten, Senin, 9 Maret 2020. (Foto: Antara/Weli Ayu Rejeki/agr/foc)

Jakarta - Pemerintah akan mengurangi ketergantungan pada impor elpiji (LPG) karena dari sisi ketahanan energi tidak terlalu baik. Untuk itu, pemerintah mempertimbangkan untuk mengembangkan gasifikasi batubara atau dimethyl ether (DME) sebagai energi alternatif pengganti elpiji untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pengembangan DME terutama diarahkan sebagai subtitusi penggunaan LPG yang pada awalnya untuk mensubtitusi minyak tanah. "Apalagi 75% penggunaan LPG di dalam negeri itu berasal dari impor. Kalau kita tergantung impor, dari sisi ketahanan energi akan tidak terlalu baik," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Minereal, Agung Pribadi dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2020.

Campuran DME sebesar 20% dan LPG 80% dapat digunakan kompor gas eksisting.

Baca Juga: Covid-19, Pertamina Sebut Pasokan BBM dan LPG Aman 

Kenapa pilihan pemerintah jatuh kepada DME dan apa kelebihannya dibandingkan energi alternatif lain? Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) ESDM, Dadan Kusdiana punya jawaban.

Menurut Dadan, karakteristik DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan elpiji. Lantaran mirip, DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, storage dan handling eksisting. "Campuran DME sebesar 20% dan LPG 80% dapat digunakan kompor gas eksisting," tuturnya.

Kelebihan lain adalah DME bisa diproduksi dari berbagai sumber energi, termasuk bahan yang dapat diperbarui atau energi terbarukan. Antara lain biomassa, limbah dan Coal Bed Methane (CBM). Namun saat ini, batubara kalori rendah dinilai sebagai bahan baku yang paling ideal untuk pengembangan DME.

DME memiliki kandungan panas (calorific value) sebesar 7.749 Kcal per kilogram, sementara LPG senilai 12.076 Kcal per kilogram. Namun, DME memiliki massa jenis yang lebih tinggi sehingga kalau dalam perbandingan kalori antara DME dengan elpiji adalah sekitar 1 berbanding 1,6.

Pemilihan DME untuk subtitusi sumber energi juga mempertimbangkan dampak lingkungan. DME dinilai mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20%. "Kalau LPG per tahun menghasilkan emisi 930 kg CO2. Nanti dengan DME, hitungannya akan berkurang menjadi 745 kg CO2. Ini nilai-nilai yang sangat baik sejalan dengan upaya-upaya global menekan emisi gas rumah kaca," tutur Dadan.

Hasil uji terap penggunaan energi terbarukan alternatif DME menunjukkan mudah dalam menyalakan kompor, stabilitas nyala api normal.

Di samping itu, kualitas nyala api yang dihasilkan DME lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur. DME merupakan senyawa eter paling sederhana mengandung oksigen dengan rumus kimia CH3OCH3 yang berwujud gas sehingga proses pembakarannya berlangsung lebih cepat dibandingkan elpiji.

Kementerian ESDM melalui Balitbang ESDM telah menyelesaikan uji terap pemakaian DME 100% telah dilakukan di wilayah Kota Palembang dan Muara Enim pada Desember 2019 hingga Januari 2020 kepada 155 kepala keluarga dan secara umum dapat diterima oleh masyarakat. Selain itu, uji terap DME 20%, 50% dan 100% dilakukan di Jakarta yaitu di Kecamatan Marunda, kepada 100 kepala keluarga pada tahun 2017.

Simak Pula: Pertamina Harap Tak Ada Lagi Penjual LPG 3 Kg di Atas HET

Hasil uji terap penggunaan energi terbarukan alternatif DME menunjukkan mudah dalam menyalakan kompor, stabilitas nyala api normal, mudah dalam pengendalian nyala api, warna nyala api biru dan waktu memasak lebih lama dibandingkan LPG. Secara teknis, pemanfaatan DME 100% layak untuk mensubstitusi elpiji untuk rumah tangga dengan menggunakan kompor khusus DME. Waktu memasak lebih lama 1,1 s.d. 1,2 kali dibandingkan dengan menggunakan LPG.

Berita terkait
Jelang New Normal, Konsumi BBM dan LPG Ikut Normal
PT Pertamina (Persero) melalui MOR III mencatat konsumsi BBM dan LPG mulai mendekati konsumsi rata-rata konsumsi harian normal.
Konsumsi LPG Non Subsidi di Cirebon Naik 23 Persen
Imbauan tidak beraktivitas di luar rumah, Pertamina menggencarkan layanan gas pesan antar melalui Call Center 135 untuk pembelian LPG non subsidi
Corona,Pertamina Jamin Stok BBM dan LPG di Bali Aman
Merebaknya virfus corona jenis Covid-19 tidak mempengaruhi program bisnis Pertamina dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
0
Mengenal DME, Energi Alternatif Pengganti Elpiji
Pemerintah akan mengurangi ketergantungan pada impor LPG karena dari sisi ketahanan enegi tidak terlalu baik.