Oleh: Permadi Arya*

Banyak pendukung Ahok yang kurang jeli memahami makna martirnya Ahok demi kelangsungan NKRI yang sudah di ujung konflik sektarian. Mereka juga akhirnya gagal memaknai pemilihan Kiai Ma'ruf Amin demi meredam isu sektarian yang berpotensi memecah belah NKRI

Cinta memang bisa membuat kita buta. Setidaknya istilah itu sekiranya tepat untuk pendukung Ahok yang galau menyalahkan Presiden RI Jokowi atas apa yang menimpa Ahok, harus kalah di Pilkada dan menjalani hukuman penjara.

Jokowi dianggap mengkhianati Ahok karena membiarkan sahabatnya dikriminalisasi keji sampai harus dibui oleh kasus penistaan agama yang mengada-ada bermotif politik demi menang Pilkada

Jokowi sama sekali tidak intervensi padahal selaku Presiden RI bisa saja sedikit mengulurkan tangan agar Ahok bebas, atau minimal tidak divonis terlalu berat. Begitu kira-kira harapan pendukung Ahok yang merasa dikhianati Jokowi

Kecintaan pada Ahok yang patut dikagumi ini jadi bumerang yang kontra produktif karena mereka menolak fakta bahwa situasi saat itu genting. Aksi 212 ditunggangi kekuatan politik besar yang berniat makar gulingkan Jokowi dan siap tumpahkan darah.

Kekecewaan mendalam pendukung Ahok membuat mereka malah berteori konspirasi absurd bahwa Jokowi bersekongkol dengan 212 karena takut Ahok jadi saingan berat di Pilpres. Mereka lupa Ahok sendiri telah secara sadar dan ikhlas berkorban demi kamtibnas.

Kegagalan memaknai martirnya Ahok membuat mereka kembali gagal memaknai pemilihan Kiai Ma'ruf Amin sebagai cawapres. Padahal sangat jelas bahwa isu SARA akan kembali digendang keras oleh kubu oposisi yang masih mengandalkan "Jokowi anti Islam" sebagai narasi utama.

Saya teringat kata-kata Ahok saat menjenguk beliau beberapa waktu lalu, "jika saya disuruh menyebut satu nama dari semua sahabat saya, pilih satu saja, sahabat saya Pak Jokowi. dan saya yakin Pak Jokowi juga sama akan menyebut nama saya."

Ahok mengerti dan sadar ia harus jadi martir mengorbankan dirinya demi membantu sahabatnya menjaga kelangsungan NKRI. Sayangnya banyak pendukungnya yang belum mengerti dan belum sadar-sadar akan hal ini.

*Permadi Arya Pengamat media sosial, kader Ansor NU