UNTUK INDONESIA
Melatih Pengrajin Batik Solo Mahir Desain Bukan Meniru
Selama ini banyak para pengrajin masih belum mampu mengembangkan desain batiknya. Bahkan bisanya hanya meniru.
Suasana pelatihan membatik di ISI Solo. (Foto: Tagar/Reyma Pramista)

Solo - Prodi Batik jurusan Kriya FSRD Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jawa Tengah, bekerja sama dengan Dinas Koperasi UKM Surakarta dalam mengembangkan industri batik.

Salah satu upaya itu adalah dengan melatih para pengrajin yang tergabung dalam klaster batik Kauman. Ada sekitar 20 orang yang ikut dalam kegiatan itu.

Selama ini banyak para pengrajin masih belum mampu mengembangkan desain batiknya. Bahkan bisanya hanya meniru.

"Sehingga pelatihan desain batik kususnya untuk mengembangkan varian produk yang dihasilkan dirasa sangat perlu sekali," ujar Faturohman, salah satu peserta pelatihan, Sabtu 12 Oktober 2019.

Pelatihan desain diselenggarakan selama dua hari mulai Jumat-Sabtu 11-12 Oktober 2019 di ruang gambar dan laboratorium komputer jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa Desain ISI Solo.

Pelatihan diawali merancang desain dari sumber-sumber ide yang sedang tren di masyarakat, kemudian dituangkan ke dalam sketsa dan dibuat secara manual dengan menggambarkan karakter terkuat dari sumber ide tersebut.

Pelatihan dari hulu dan hilir ini tidak hanya bagaimana menghasilkan desain yang up to date yang dapat mengikuti tren perkembangan zaman

Setelah itu dibuat ke dalam komputer dengan menggunakan beberapa program komputer seperti corel draw, photoshop dan wacom.

Pelatihan tersebut disambut baik oleh Ketua Jurusan Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Sutriyanto.

Dia berharap agar pelatihan pengembangan desain batik berbasis komputer ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku usaha batik di Surakarta, khususnya klaster batik Kauman.

Ketua Program Studi Batik ISI Solo Aan Sudarwanto mengatakan para pelaku industri kerajinan batik khususnya klaster Kauman dapat mengembangkan desain produk batiknya.

Pelatihan desain difokuskan pada pembuatan motif dengan mengubah sumber ide tiga dimensional menjadi dua dimensional melalui proses deformasi dan kemudian distilasi sehingga muncul motif baru yang indah.

Setelah itu dikomposisi dengan motif selingan dan motif isen-isen yang dipadu menjadi pola dan akhirnya mampu diterapkan pada kain menjadi ornamen batik yang indah.

"Pelatihan dari hulu dan hilir ini tidak hanya bagaimana menghasilkan desain yang up to date yang dapat mengikuti tren perkembangan zaman, tapi juga akan dilakukan pelatihan lanjutan tentang manajemen dan pengembangan usaha," ungkapnya.[]

Berita terkait
Profesor Herwandi Ciptakan 42 Motif Batik Artefak
Guru Besar Ilmu Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat, Herwandi, ciptakan 42 karya motif batik
Pemanfaatan Bio Sawit Bisa Tekan Biaya Produksi Batik
Produsen batik perlu diperkenalkan dengan bio paraffin substitute dari sawit menggantikan parafin karena bisa menekan biaya produksi
Batik Nitik Resmi Jadi Produk Indikasi Geografis DIY
Motif Batik Nitik telah resmi memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Indikasi Geografis DIY.
0
Tak Ada Bukti Ferrari Salahi Regulasi Musim 2019
FIA pada Kamis, 5 Maret 2020, menjawab kritik dari tujuh tim Formula 1 tentang pelanggaran Ferrari pada musim balapan 2019