UNTUK INDONESIA
Market Cap Unilever Bukan Indikator Kepercayaan Investor
Kapitalisasi pasar Unilever yang menyalip Bank Mandiri dan Telkom tidak bisa dijadikan indikator harapan investor.
Pengamat ekonomi dan pasar modal, Siswa Rizali, menilai rencana penggabungan usaha atau merger tiga bank syariah pelat merah oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan langkah yang tepat. (Foto: Tagar/YouTube/Siswa Rizali).

Jakarta - Pengamat ekonomi dan pasar modal, Siswa Rizali menilai kapitalisasi pasar atau market cap PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang menyalip PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tidak bisa dijadikan indikator kepercayaan investor. Menurut dia, kondisi tersebut lebih sebagai indikator harapan investor.

"Ketika harapan itu sesuai kenyataan kinerja, maka harga atau kapitalisasi naik lagi, tapi bila harapan jauh di bawah kinerja, maka harga koreksi dan kapitalisasi menurun," kata Siswa saat dihubungi Tagar, Kamis, 22 Oktober 2020.

Meski valuasi mahal, kinerja Unilever sangat luar biasa dan menguasai pasar fast moving consumer goods (FMCG) Indonesia.

Siswa memberikan contoh seperti BRI Syariah, dari IPO di tahun 2018 harga terus menurun dari 600-an ke 200-300 di tahun 2020 (market cap sekitar Rp 2 triliun). "Begitu kinerjanya baik dan ada harapan merger 3 bank BUMN syariah dengan BRIS sebagai surviving entity, harganya naik dan ke 1.300 dan sekarang market cap-nya Rp 12,5 triliun," ucapnya.

UnileverKantor Pusat Unilever di Indonesia (Foto: Unilever.co.id)

Selain itu, kata Siswa, kapitalisasi pasar selain faktor kinerja atau nilai perusahaan, juga dominan faktor momentum yang dipengaruhi psikologis atau persepsi investor. "Jadi sangat sulit menilai naik turun jangka pendek kapitalisasi pasar dibandingkan dengan kinerja riil perusahaan," ujarnya.

Sehingga, kata dia, naiknya kapitalisasi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) wajar. Sebab meski valuasi mahal, kinerjanya sangat luar biasa dan menguasai pasar fast moving consumer goods (FMCG) Indonesia. Kemudian, Unilever juga memiliki produk yang disukai masyarakat, efisiensi perusahaan yang sangat tinggi, laba konsisten, konsisten bagi dividen, dan kinerja bertahan di era pandemi Covid-19.

"Wajar bila harganya pulih lebih cepat. Saat saham lain masih lesu, vs harga saham Unilever bertahan dan pulih, maka wajar market cap UNVR jadi lebih besar dari BMRI dan TLKM," tutur Siswa.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2020, kapitalisasi pasar emiten barang konsumsi tercatat mencapai Rp 299,48 triliun. Sementara kapitalisasi pasar Bank Mandiri tercatat lebih kecil yakni senilai Rp 251,79 triliun. Hal yang sama juga terjadi pada Telkom dengan market cap mencapai Rp 267,47 triliun. [] 

Berita terkait
Penyebab Kenaikan Harga Saham Telkom (TLKM)
Saham Telkom bergerak naik pada sesi perdagangan pertama hari ini dipicu berbagai sentimen positif
Benarkah Saham Telkom atau TLKM Kebal Covid-19?
Bagaimana dampak pandemi Covid-19 pada saham Telkom atau TLKM? Sejak awal tahun 2020, harga saham Telkom sudah turun -17,4% hingga 8 Juni 2020.
Merger 3 Bank Syariah BUMN, Mandiri Pemegang Saham Mayoritas
BRI Syariah, BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri telah mempublikasikan ringkasan rencana penggabungan usaha.
0
Market Cap Unilever Bukan Indikator Kepercayaan Investor
Kapitalisasi pasar Unilever yang menyalip Bank Mandiri dan Telkom tidak bisa dijadikan indikator harapan investor.