UNTUK INDONESIA
Mantan Anggota Geng China Melawan Rasisme di Amerika Serikat
Seorang rapper yang merupakan mantan anggota geng Ghost Shadow di Chinatown Manhattan memimpin unjuk rasa terhadap rasisme di Amerika Serikat.
China Mac yang memiliki nama asli Raymond Yu, berbicara pada pengunjuk rasa saat melakukan aksi pada bulan Agustus 2020 lalu. (Foto: Tagar/ Aljazeera)

Jakarta – Pemuda berwajah khas Asia, bertopi hitam yang sengaka dibalik, dan menggenggam mikrofon di tangan kanannya terlihat sedang berbicara. Bibirnya berada tepat di depan mikrofon, sementara masker wajahnya diturunkan hingga ke dagu. Pada bagian depan kaus hitamnya tertulis “PROUD AF TO BE ASIAN”.

Di samping kiri, kanan, dan sekeliling China Max, nama pemuda itu, beberapa pemuda lain yang juga berwajah oriental berdiri sambil memperhatikannya. China Max yang memiliki nama asli Raymond Yu adalah seorang mantan tahanan di Amerika Serikat.

Kini China Mac menjadi seorang rapper atau penyanyi rap yang memperjuangkan keadilan bagi orang Amerika keturunan Asia. Dia menggunakan platformnya untuk melawan stigma anti-Asia dan pelecehan xenofobia di Amerika Serikat.

Unjuk Rasa di Awal Agustus

Pada awal Agustus 2020, pinggiran kota Bensonhurst yang tenang, di wilayah New York, berubah menjadi tegang. Seratusan pengunjuk rasa menjadi penyebabnya. Mereka menggelar aksi di luar kantor polisi setempat sambil berorasi.

China Mac berteriak lantang dalam aksi itu. Dia menjelaskan bahwa aksi mereka bukan tentang salah satu ras tertentu, tetapi tentang perlawanan terhadap rasisme.

“Kami di sini bukan untuk berbaris tentang orang kulit putih, orang Italia, orang kulit hitam, orang Spanyol. Kami di sini untuk berdiri bersama dan berbaris melawan rasisme! " ucapnya, seperti dilaporkan Aljazeera, Jumat, 16 Oktober 2020.

Kemarahan China Mac dan pengunjuk rasa lain bukan tanpa alasan. Mereka memrotes adanya seorang nenek Tionghoa yang ditampar dan dibakar pada 14 Juli 2020 di lingkungan yang didominasi oleh kulit putih tersebut.

Cerita China Mac (2)Para pengunjuk rasa berkumpul di New York pada bulan Agustus untuk menyerukan diakhirinya rasisme anti-Asia. (Foto: Tagar/ Aljazeera)

Nenek itu diserang oleh dua orang. Mereka diduga menyemprotnya dengan minyak tanah dan membakar pakaiannya dengan api tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kabar itu viral dan dengan cepat menyebar ke seluruh komunitas Asia-Amerika, serta memicu munculnya aksi unjuk rasa.

Mereka [para penyerang] memasukkan minyak tanah ke saku mereka dan mereka berjalan di jalan, bertopeng, siap menyerang seseorang. Mereka berencana membakar seseorang. Jika itu bukan kejahatan rasial, saya tidak tahu apa itu kejahatan rasial.

Banyak yang percaya bahwa kejadian itu bermotif rasisme, tetapi polisi tidak menyelidikinya sebagai kejahatan rasial.

Dalam kejadian itu, Departemen Kepolisian New York (NYPD) menuntut dua anak laki-laki berusia 13 tahun, tapi polisi menolak wawancara dengan Al Jazeera terkait hal itu.

China Mac yang sudah keluar masuk panti asuhan sejak berusia delapan tahun tersebut disebut-sebut turut mengatur aksi yang digelar di Bensonhurst itu.

Sejak dibebaskan dari penjara tiga tahun lalu, China Mac telah membuat gelombang di kancah hip hop New York sebagai rapper berbakat. Dia menggambarkan musiknya sebagai "gangsta stuff", dan memiliki ratusan ribu pengikut di media sosial.

Popularitasnya tersebut tidak disia-siakan oleh China Mac. Dia memanfaatkan penggemar setianya untuk menyiapkan dukungan bagi ribuan pengunjuk rasa di seluruh AS dalam gerakan Black Lives Matter. Gerakan yang menuntut diakhirinya rasisme sistemik terhadap orang Afrika-Amerika.

“Kali ini pertarungan yang berbeda. Ini pertarungan yang menurutku berharga, karena sering kali aku berjuang tanpa hasil. Dan kali ini, ini adalah pertarungan untuk orang-orang," katanya.

Mantan Anggota Geng

Pemuda yang saat ini berusia 38 tahun tersebut menjalani masa remajanya pada tahun 1990-an sebagai anggota geng Ghost Shadow. Geng itu menjalankan bisnis di distrik Chinatown Manhattan, dan memiliki geng rival, Flying Dragons.

“Chinatown adalah dunia yang berbeda saat itu,” kata China Mac. “Anda bisa berjalan di jalan dan melihat mayat. Saya telah melihat itu."

Saat beranjak dewasa, China Mac menghabiskan sebagian besar waktunya di penjara Pulau Rikers yang cukup terkenal di New York. China Mac dipenjara selama 11 tahun setelah menembak dan melukai seorang pria.

“Saya akan melawan semua orang, siapa saja. Tidak masalah apakah mereka pria terkecil atau pria terbesar. Tidak masalah jika ada satu atau 10. Saya akan bertarung, "katanya, berbicara kepada Al Jazeera di Peer Space, di Brooklyn.

Tekad China Mac untuk bertarung dengan rasisme juga disebabkan meningkatnya aksi rasis sejak penyebaran Covid-19.

Sejak Maret, kelompok advokasi telah mencatat lebih dari 2.600 insiden pelecehan dan kejahatan rasial terhadap Asia-Amerika terkait penyebaran virus corona yang berasal dari China. Orang-orang keturunan Asia pun menjadi sasaran pelecehan xenofobia.

Di Texas, seorang ayah asal Myanmar dan balita ditikam di sebuah toko, diduga karena penyerang mereka mengira mereka orang China. Seorang pengemudi bus Vietnam di California dipukul dengan tongkat baseball oleh seorang penumpang. Sedangkan di New York, seorang wanita Korea dipukul wajahnya oleh orang asing saat dia berjalan ke tempat kerja.

Kemudian pada bulan Juli, nenek Tionghoa berusia 89 tahun diserang di Bensonhurst pada siang hari bolong.

“Saya kesal. Aku marah. Saya sangat marah, ”katanya kepada Al Jazeera. “Itu bisa jadi nenekku.”

Dia pun kembali memobilisasi penggemarnya untuk berkumpul di lingkungan sekitar, kali ini untuk kehidupan orang Asia.

Cerita China Mac (3)Raymond Yu, 38 tahun, mantan anggota geng dan tahanan di Amerika yang saat ini menjadi rapper dan dikenal dengan nama China Mac. (Foto: Tagar/Courtessy of China Mac)

"Aku hanya lelah melihat kita dianggap lemah. Hanya mengizinkan orang untuk menginjak kita dan atas kita dan menyerang kita dan menyalahgunakan kita, dan kita tidak melakukan apa-apa. ”

Dia berpendapat, mereka tidak akan dihormati jika mereka hanya diam dan pasrah menerimanya.

Mac pernah mengalami langsung aksi rasisme saat pertama kali dikirim ke panti asuhan anak. “Mereka akan memilih saya karena saya adalah satu-satunya orang Asia di sana,” kenangnya.

Apa yang dimulai sebagai lelucon oleh anak-anak lain dengan cepat meningkat menjadi pelecehan rasis. Akhirnya, suatu pagi China Mac memakai sepatunya dan menemukan sepatu itu basah kuyup oleh air kencing seseorang.

“Saya pergi ke staf dan saya menangis. Staf melihat saya dan memberi tahu saya sesuatu yang benar-benar mengubah hidup saya. Dia berkata 'Saya tidak dapat membantu Anda'. Dia berkata bahwa 'satu-satunya hal yang akan pernah membantu Anda adalah jika Anda mulai berjuang untuk diri sendiri'."

Sejak itu dia mempertahankan kehormatannya. Satu-satunya cara untuk menghentikan aksi rasisme tersebut adalah dengan melawan.

Sekarang, setelah bertahun-tahun menjalani dan bertahan dalam pertarungan geng di jalanan Chinatown, China Mac mengatakan perjuangan terbesarnya adalah perjuangan melawan rasisme di Amerika Serikat saat ini.

Seperti banyak komunitas Asia-Amerika, dia yakin penggunaan istilah yang berulang kali oleh Presiden Donald Trump seperti "virus China" dan "kung flu" untuk menggambarkan COVID-19 telah meningkatkan pelecehan dan kejahatan rasial terhadap komunitasnya.

“Dia pada dasarnya menargetkan semua orang Amerika keturunan Asia. Orang yang tinggal di negara ini, yang lahir dan besar di negara ini. Dia menargetkan kami,” katanya.

“Ini negara saya. Saya hanya berjuang karena itu hal yang benar untuk dilakukan." []

Baca juga:

Diculik Hantu Wewe dan Mitos Larangan di Yogyakarta

Pompa Hidram di Cranggang Kudus Solusi Krisis Air Bersih

Berita terkait
Perjuangan Penjual Coto Makassar Daring di Yogyakarta
Seorang fotografer di Yogyakarta beralih usaha menjadi penjual Coto Makassar, kuliner khas dari Makassar, Sulawesi Selatan, secara daring.
Lokasi Pembuangan Bayi di Yogyakarta Dibangun Zaman Jepang
Sepanjang 2020 setidaknya ada dua peristiwa penemuan bayi di kawasan Selokan Mataram yang dibangun sejak zaman penjajahan Jepang.
Pilkada Serentak Mengikis Harapan Suporter Sepak Bola
Pandemi Covid-19 dan pelaksanaan pilkada serentak 2020 mengikis harapan suporter sepak bola untuk menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding.
0
Sindir Politik Dinasti, PKS: Ini Bukan Perusahaan Keluarga
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR, Mulyanto mengaku prihatin dengan sikap abai Pemerintahan Presiden Jokowi atas perkembangan politik dinasti saat ini.