UNTUK INDONESIA
Mahathir Mohamad, PM Tertua dengan Kontroversinya
Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, jadi tokoh politik tertua yang masih memegang jabatan penting di suatu negara
PM Mahathir bersalaman dengan Novel Baswedan (FotoL Novel-Baswedan_1)

Jakarta - Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahathir Mohamad, jadi tokoh politik tertua yang masih memegang jabatan penting di suatu negara. Di usianya yang ke-94 tahun, pendiri Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) ini tak henti-hentinya menuai kontroversi selama masa kepemimpinannya.

Misalnya, dia menulis surat terbuka dan menyerang Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman (1957-1970), menerbitkan buku The Malay Dilemma, memberikan komentar keras terhadap kelompok Yahudi, dan baru-baru ini meminta Presiden AS Donald Trump untuk mundur demi menyelamatkan Amerika.

Pria kelahiran Alor Setar, Malaysia, 10 Juli 1925, ini memulai karier politiknya sejak bergabung dengan United Malays National Organisation (UMNO) pada tahun 1946 kala usianya baru menginjak 21 tahun. Di partai politik terbesar di Malaysia itu, pada 1964, ia berhasil maju menjadi anggota parlemen. Namun, gagal terpilih kembali pada pemilihan 1969.

Pasca kekalahannya pada pemilihan tsb., Mahathir sempat berseteru dengan Perdana Menteri (ketika itu), Tunku Abdul Rahman. Sebelumnya, di tengah-tengah ketegangan ras antara etnis Melayu dan Tionghoa, Mahathir menulis sebuah surat terbuka dengan menuduh PM Malaysia, Tunku Abdul Rahman, mendukung kepentingan etnis Tionghoa. Akibatnya ia dikeluarkan dari UMNO.

Setelah Abdul Rahman turun tahta, suami Siti Hasmah ini kembali ke UMNO dan diangkat menjadi menteri kabinet. Semasa hidupnya, Mahathir telah menerbitkan hingga belasan buku. Salah satu bukunya yang berjudul The Malay Dilemma yang terbit pada 1970, sempat menuai perdebatan dari berbagai kalangan. Pasalnya, buku tersebut secara terang-terangan menyoroti bagaimana Cina mulai mendominasi serta nasib warga Melayu. Dalam peredarannya, buku tersebut sempat dilarang.

Pada 1976, Mahathir diangkat menjadi wakil perdana menteri. lima tahun kemudian, ia diangkat menjadi perdana menteri setelah pendahulunya, Hussein Onn, pensiun dari dunia perpolitikan.

Setelah berkuasa sejak 1981 sampai 2003, bapak tujuh anak ini memutuskan untuk pensiun. Namun, saking cintanya dengan dunia perpolitikan, ia kembali aktif di pemerintahan dengan membentuk partai PPBM pada 2016 dan bergabung dengan aliansi politik, Pakatan Harapan.

Pada tahun 2018, saat usianya mencapai 93 tahun, Mahathir kembali mencalonkan diri sebagai perdana menteri dan bersaing dengan Najib Razak. kontestasi politik saat itu menegangkan mengingat Mahathir dan Razak pernah berselisih beberapa tahun lalu.

Namun, perolehan suara terbanyak diraih kepada Mahathir dan ia kembali terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia pada tahun 2018.

1. Kesepakatan untuk Mundur

Di awal kesepakatan, setelah dua tahun menjabat, tepatnya pada Mei 2020, Mahathir harus mundur dari posisinya saat ini. Namun, beredar rumor kalau Mahathir akan mundur setelah KTT Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) pada November 2020.

Sementara itu, Mahathir bersedia mundur kapan saja jika koalisi Pakatan Harapan yang terdiri dari PPBM, Parti Amanah Negara, Democratic Action Parti (DAP), dan Parti Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Anwar Ibrahim memintanya mundur. "Saya pikir ini harus diputuskan oleh keempat partai bersama, apakah mereka mau saya pergi atau tidak," ujar Mahathir seperti dilansir dari The Star, Selasa, 14 Januari 2020.

Pernyataan ini diungkapkan Mahathir setelah banyak dorongan dari partai koalisi yang meminta pria lulusan National University of Singapore ini untuk pensiun dan digantikan oleh Anwar Ibrahim.

Di samping itu, Anwar tengah terbelit kasus pelecehan seksual yang dilaporkan oleh mantan asistennya, Yusoff Rawther. Meski begitu, Anwar mengaku dirinya difitnah dan bersedia membantu polisi dalam setiap proses penyelidikan.

"Saya siap untuk memberikan pernyataan saya kepada polisi untuk membantu penyelidikan," ujar Anwar saat menjalani proses penyelidikan pada Desember 2019.

2. Meminta Donald Trump Turun dari Jabatannya

Beberapa waktu lalu, Mahathir meminta Presiden Donald Trump untuk mundur dari jabatannya saat ini. Hal tersebut berkaitan dengan rencana perdamaian antara Israel dan Palestina yang dinilai lebih menguntungkan Israel. "Saya meminta dia mundur demi menyelamatkan Amerika," ujar Mahathir seperti dilansir dari The Star.

Namun, komentar Mahathir tak disambut baik oleh Kedutaan Besar AS di Malaysia. Pihaknya merasa kecewa dengan usulan pria yang juga seorang dokter itu.

Melalui cuitannya di twitter, pihak Kedubes AS menilai komentar Mahathir telah keluar dari semangat dialog konstruktif hubungan AS dan Malaysia.

3. Beri Penghargaan Kepada Novel Baswedan

Pada Selasa, 11 Februari 2020, terkait dengan peluncuran Yayasan Perdana International Anti-Corruption Champion (PIACCF), sebuah organisasi yang bertujuan melindungi aparatur yang bertugas memberantas korupsi, Mahathir memberikan penghargaan anti korupsi kepada Novel Baswedan.

Dalam suatu keterang tertulis, Novel mengucapkan rasa terima kasih kepada Pemerintah Malaysia atas penghargaan yang ia terima. "Penghargaan ini adalah bentuk dukungan dan penghormatan terhadap semua pihak yang memilih jalan untuk berjuang memberantas korupsi, baik di Malaysia, Indonesia dan di seluruh dunia," kata Novel. []

Berita terkait
PM Mahathir Menyoal Bahan Bacaan di Era Digital
Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Mahathir Mohamad, mengaku bimbang dengan sumber bacaan pada era digital yang tidak ada pembatasan
Anwar Ibrahim Bertemu dengan PM Mahathir Mohamad
Anwar Ibrahim bertemu Mahathir Mohamad di Kantor Perdana Menteri Putrajaya untuk membicarakan transisi kekuasaan dari Mahathir kepadanya
PM Mahathir dan Wan Azizah Rayakan Pergantian Tahun
PM Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad, Wakil PM Dr Wan Azizah Wan Ismail dan jajaran menteri rayakan pergantian tahun sembari lakukan promosi wisata
0
Pelatihan Teknisi AC Cirebon Power
Teknisi AC mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan penghasilan sehingga menarik minat banyak remaja