UNTUK INDONESIA
Lima Wisata Religi di Kudus, Jejak Walisongo Berbalut Budaya
Kota Santri dan Keretek, begitu Kabupaten Kudus dipanggil. Meninggalkan jejak Walisongo menyiarkan Islam tak lupa balutan budaya Hindu dan Budha.
Seorang perempuan berada di ruang karya puisi gusjigang di Gusjigang X-Building Museum Jenang, Kudus, Jawa Tengah. (Foto: Instagram/nisniatana)

Kudus - Kota Keretek, begitu Kabupaten Kudus dipanggil. Julukan lainnya yang tersemat adalah Kota Santri. Sebutan ini diberikan lantaran Kudus sebagai salah satu kota pusat pembelajaran agama Islam di Jawa. Dengan ratusan pondok yang tumbuh subur di sana.

Alasannya tak hanya itu. Penyematan nama Kudus sebagai Kota Santri lebih didasari lantaran kota di Jawa Tengah tersebut dijadikan pusat perkembangan agama Islam pada abad pertengahan.

Hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam-makam tokoh penyebar agama Islam ternama di Kabupaten Kudus. Antara lain, Makam Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kedu, Syekh Syadzali dan Kyai Telingsing.

Kemasyhuran Kudus sebagai pusat ajaran Islam di Pantai Utara Jawa (Pantura) juga dibuktikan dengan banyaknya wisata religi yang tersebar di kota tersebut. Berikut lima jenis wisata religi di Kabupaten Kudus:

1. Makam Walisongo

Di Kabupaten Kudus banyak ditemukan makam yang menjadi jejak penyebaran agama Islam. Saking banyaknya, hampir di setiap desa atau kelurahan di Kudus terdapat makam mubaligh.

Dari sekian banyak mubaligh di Kudus, ada tiga tokoh sentral yang jasanya begitu besar dalam kehidupan masyarakat Kudus. Mereka adalah Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Kiai Telingsing.

Seperti diketahui, Sunan Kudus dan Sunan Muria merupakan penyebar agama Islam yang tergabung dalam Walisongo. Sementara Kiai Telingsing merupakan mubaligh keturunan Tiongkok, yang konon datang dan berdakwah di Kudus lebih awal dari Sunan Kudus. Selain berdakwah Kiai Telingsing dikenal sebagai pemahat ternama dengan aliran pahat bernama Sun Ging.

Letak makam ketiga tokoh penyebar Islam di Kudus ini tidak berdekatan. Makam Sunan Kudus alias Syekh Ja’far Shodiq terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota. Selanjutnya makam Sunan Muria atau Raden Umar Said terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Makam Sunan Muria ini terletak sekitar 18 kilometer di sebelah utara Kota Kudus.

Sementara makam Kiai Telingsing terletak di Kecamatan Sunggingan, Kecamatan Kota. Dari kawasan Makam Sunan Kudus, wisatawan hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 700 meter ke tenggara untuk samapai di makam Kiai Telingsing.

Masjid Menara KudusKawasan wisata religi Masjid Menara Kudus. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

2. Masjid Peninggalan Walisongo

Di zaman Walisongo, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Masjid merupakan digunakan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Berbagai kegiatan keagamaan dilakukan di masjid.

Bangunan masjid yang unik, juga menjadi salah satu strategi syiar Walisongo. Contohnya bangunan Masjid Al Aqsho Menara Kudus yang mengkolaborasikan gaya arsitektur Islam, Hindu, dan Budha. Masjid yang dibagun Sunan Kudus di tahun 1549 masehi itu menjadi simbol ajaran toleransi antar-umat beragama.

Di Kabupaten Kudus terdapat banyak masjid maupun musala yang menjadi saksi bisu perjuangan Walisongo dan murid-muridnya dalam menyebarkan Islam. Menurut penuturan warga, masjid atau musala peninggalan wali biasanya disebelah barat bangunan masjid didapati komplek pemakaman tua. Pemakaman tua ini merupakan makam wali, keluarga wali dan para santrinya.

Seperti halnya makam Sunan Kudus yang terletak di barat Masjid Menara yang menjadi benda peninggalannya. Hal serupa juga didapati di Majid Sunan Muria dan Masjid Sunan Kedu.

Makam Sunan Kudus
Pintu masuk menuju Makam Sunan Kudus. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

3. Air Tiga Rasa Syekh Syadzali

Syaikh Maulana Hasan Asy Syadzali atau yang dikenal sebagai Syekh Syadzali. Ia merupakan tokoh penyebar agama Islam di Desa Japan, Kecamatan Dawe.

Menurut pitutur masyarakat setempat, Syekh Syadzali merupakan murid dari Sunan Muria. Ia di makamkan di Rejenu, yang berlokasi di pegunungan Argo Jambangan atau sekitar tiga kilometer dari Pesanggrahan Gunung Muria.

Di kawasan makam Syekh Syadzili terdapat objek wisata air tiga rasa. Seperti namanya air memiliki tiga rasa yang berbeda. Ada air tawar, payau dan sedikit asin.

Berdasarkan mitos yang berkembang, rasa berbeda dari tiga mata air ini hanya bisa dirasakaan saat diminum di sumbernya. Jika dibawa pulang, konon rasa air dari tiga sumur yang berbeda tersebut akan berubah menjadi tawar semua.

Kendati ukuran sumber air tiga rasa tidak besar. Sumber air di sana konon tidak pernah mengering. Dahulu, sumber mata air ini dipercaya masyarakat sekitar dimanfaatkan oleh Syekh Syadzili dan para santrinya untuk berwudhu.

Terlepas dari berbagai mitos yang ada, air tiga rasa tetap menjadi objek wisata religi yang digandrungi masyarakat Kudus dan sekitarnya.

Makam Sunan KudusPintu masuk menuju Makam Sunan Kudus. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Baca juga:

4. Langgar Bubrah

Langgar bubrah merupakan salah satu benda cagar budaya di Kudus. Bangunan yang terdiri dari tumpukan batu bata ini terletak di RT 2RW 4 Desa Demangan, Kecamatan Kota.

Langar bubrah terdiri dari dua kata, yakni langgat dan bubrah. Masyarakat sekitar mengartikan langgar sebagai suarau atau musala. Sedangkan kata "bubrah" dimaknai sebagai "rusak" atau "berantakan". Jika digabungkan langgar bubrah memiliki makna sebagai musala atau surau yang rusak berantakan.

Penyebutan ini diberikan masyarakat sebab bangunan yang dipercaya memiliki usia lebih tua dari Masjid Menara Kudus itu, nampak seperti surau atau musala yang belum jadi.

Langgar ini awalnya merupakan sebuah bancikan atau tempat pemujaan agama Hindu yang didirikan oleh anggota keluarga Kerajaan Majapahit Pangeran Pantjawati. Pangeran yang tadinya menganut agama Hindu itu kemudian masuk Islam dan berguru dengan Sunan Kudus.

Konon, bangunan tersebut akan dibuat sebuah langgar atau musala dengan ketentuan harus dibangun dalam waktu semalam dan tidak boleh diketahui manusia. Menjelang subuh, proses pembangunan langgar tersebut ternyata diketahui oleh salah seorang warga atau istilahnya "kemenungsan". Hal ini membuat proses pembangunan musala tersebut tidak terselesaikan.

Terlepas dari cerita tersebut, Langar Bubrah mengindikasikan akulturasi budaya Hindu-Islam. Sebagai benda cagar budaya, sudah seharusnya benda ini dijaga kelestariannya.

Langgar Bubrah KudusPenampakan cagar budaya Langgar Bubrah di Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. (Foto: Istimewa)

5. Gusjigang X-Building Museum Jenang

Gusjigang, yang digunakan sebagai nama museum ini merupakan salah satu warisan ajaran Sunan Kudus yang menjadi falsafah hidup masyarakat Kudus.

Gusjigang merupakan akronim kata bagus akhlaknya (spiritual), pintar mengaji (intelektual) dan pandai berdagang (enterpreneurship).

Museum milik Muhammad Helmy, yang terletak di Jalan Sunan Muria Nomor 33 Kudus ini bisa dibilang sebagai rekaman sejarah panjang Kota Kudus. Tak hanya soal industri jenang dan rokonya. Tetapi juga merangkum sejarah Kabupaten Kudus hingga ajaran Sunan Kudus.

Ada beberapa konten yang disajikan di Gusjigang X-Building Museum Jenang. Di antaranya literasi mengenai falsafah gusjigang, mulai dari sejarah singkat Sunan Kudus, Sunan Muria hingga karya sastra puisi tentang gusjigang.

Selanjutnya, ada relif tari gusjigang, pena dunia dan lukisan dekoratif tentang karakter orang Kudus. Berbagai kearifan lokal masyarakat Kudus, seperti terbang papat dan karya kaligrafi dari kaligrafer internasional juga ada di sana.

Selain menjadi wisata edukasi bagi masyarakat. Museum ini juga menyajikan banyak spot foto ciamik bagi pengunjung. Tak heran, jika kegiatan swafoto ria menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan wisatawan saat berkunjung ke museum ini.

Gusjigang X-Building Museum JenangSeorang perempuan berada di ruang karya puisi gusjigang di Gusjigang X-Building Museum Jenang, Kudus, Jawa Tengah. (Foto: Instagram/nisniatana)

Berita terkait
5 Kegiatan Seru di Rumah saat Libur Panjang, Waktunya Me Time!
Bagi yang memilih di rumah, banyak lho kegiatan bisa dilakukan tanpa harus bepergian ke luar kota saat libur panjang akhir Oktober 2020.
One Day Trip ke Tangerang Selatan, Bisa Wisata ke Mana Saja?
Tangerang Selatan menyimpan banyak ragam wisata yang bisa dikunjungi, termasuk untuk para traveler yang ingin one day trip.
Duo Kampung Ghaib di Indonesia, Banyak Emas Dipenuhi Wanita
Sejumlah kampung yang tak lepas dari kisah horor di Indonesia malah menjadi destinasi wisata ghaib.
0
Lima Wisata Religi di Kudus, Jejak Walisongo Berbalut Budaya
Kota Santri dan Keretek, begitu Kabupaten Kudus dipanggil. Meninggalkan jejak Walisongo menyiarkan Islam tak lupa balutan budaya Hindu dan Budha.