UNTUK INDONESIA
Lima Permainan Anak Zaman Dahulu
Permainan tradisional Indonesia makin tergerus zaman. Padahal, banyak menonjolkan imajinasi dalam memecahkan masalah.
Hari Anak Nasional. Sejumlah anak-anak mengikuti lomba kelereng di Medan, Sumatera Utara, Minggu (23/7). Dalam memperingati Hari Anak Nasional 2017, Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) menggelar berbagai kegiatan lomba permainan tradisional yang bertujuan untuk melestarikan permainan tradisional yang nyaris dilupakan dan sudah jarang dimainkan anak-anak. (Foto: Ant/S Perdana)

Jakarta - Permainan tradisional Indonesia makin tergerus zaman. Padahal, permainan tradisional banyak menonjolkan unsur gotong royong, kekompakan antar pemain dan imajinasi dalam memecahkan masalah. Sebab itu daya kreatif anak menjadi berkembang.

Seiring perkembangan zaman, permainan tradisional tak ada peminatnya. Makin jarang dijumpai anak-anak bermain congklak, engrang, bekel, tap jongkok, gangsing, galaksin, tap benteng dan patil lele. Karena sekarang anak lebih melirik permainan yang didukung kecanggihan teknologi.

Sekretaris Jenderal Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia Chairul Umam mengatakan permainan tradisional Indonesia lebih memiliki manfaat positif terkait kemampuan tumbuh kembang anak dibandingkan game online. 

"Dari segi motorik anak, interaksi sosial itu bisa melatih nilai-nilai kebersamaan, kedisiplinan," kata Umam kepada Tagar, Senin 29 Juli 2019.

Anak yang kerap bermain permainan tradisional, kata Umam, memiliki daya tahan tubuh lebih kuat. Disebabkan oleh gerakan bermain yang langsung dilakukan oleh fisik. Sedangkan, anak yang gemar main game online cenderung lebih rentan terjatuh sakit karena jarang beranjak dari lokasi bermain.

"Kalau cuma game di gadget, anak kan jadi malas gerak dan mudah kena penyakit menular. Kemudian juga interaksi sosial menurun," kata dia.

Untuk melestarikannya, Umam berharap permainan tradisional masuk ke dalam  kurikulum pelajaran pendidikan jasmani. Terlebih, bila memiliki celah dapat dimasukan dalam cabang olahraga pada olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN).

"Juga, dukungan kebijakan anggaran terkait penggalian olahraga tradisional. Terakhir, terciptanya pojok bermain tradisional di sekolah, kampung-kampung, dan lingkungan lainnya," kata dia.

Berikut beberapa permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan:

1.Permainan Lompat Tali

Lompat tali rata-rata kerap dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan ini memiliki hukuman, bagi siapa yang tidak bisa melewati tali karet yang dibentangkan maka akan gantian berjaga sebagai pemegang talinya.

Permainan ini murah dan tidak memerlukan biaya lebih, kekompakan dari permainan ini juga bagus, karena semangat dari anak-anak untuk berhasil melewatinya juga di perlukan teknik sendiri dan lompatan yang tinggi, kadang dengan berbagai cara akan mereka coba untuk dapat melewati nya.

2. Permainan Gobak Sodor

Gobak sodor juga permainan yang menarik dan memerlukan kekompakan sebuah kelompok. Permainan ini terdiri dari dua kelompok. Kelompok penjaga dan kelompok yang harus bisa meloloskan diri dari penjagaan. 

Permainan ini hanya berbentuk kotak bujur sangkar yang biasanya ada 4 kotak, atau 6 kotak bujur sangkar. kelompok penjaga berdiri di garis yang sudah ditentukan, sedangkan lawan harus bisa masuk ke kotak tersebut dengan syarat tanpa terpegang atau disentuh oleh penjaganya. Permainan ini juga tidak memerlukan banyak biaya, hanya lahan yang agak luas.

3. Permainan Petak Umpet

Petak umpet, jenis permainan yang memerlukan kesiagaan bagi anak yang menjaga tempat di mana digunakan sebagai tempat untuk mematikan lawan yang bersembunyi, apabila sudah mengetahui lawan yang kelihatan dengan menyebut namanya dan memegang tempat pertahanannya. Namun selain mempertahankan tempat tersebut penjaga juga harus mencari anak lainnya yang bersembunyi, sampai semua anak yang bersembunyi tersebut di temukan.

4. Permainan Enggrang

Permainan enggrang memerlukan bahan dari batang bambu yang diberi sandaran untuk kaki berpijak, permainan ini memerlukan keseimbangan tubuh dan teknik tersendiri agar dapat berdiri di kedua bambu tersebut sambil berjalan. Memang sedikit sulit bila kita mempraktekan langsung. Permainan anak-anak ini juga tidak memerlukan biaya yang mahal, karena hanya memerlukan batang bambu saja.

5. Permainan Gundu (kelereng)

Permainan gundu atau kelereng paling sering dilakukan anak laki laki, yang mana permainan ini memerlukan alat yang disebut kelereng, permainan ini ada berbagai macam yang mana pemain yang kalah akan kehilangan kelereng nya. 

Dari permainan ini anak yang memainkan juga harus tangkas dan konsentrasi untuk memenangkan permainan ini. permainan ini biasa nya sering dilakukan di permukaan tanah yang rata karena kelereng berbentuk bulat dan mudah menggelinding.

Berikut adalah sebagian kecil contoh permainan anak tradisional, masih banyak lagi permainan anak yang dahulu sering dimainkan oleh anak-anak. Karena perubahan jaman dan semakin maju teknologi permainan tersebut semakin lama semakin menghilang.

Baca juga: 

Berita terkait
0
Cekcok Pilkades, Satu Marga Saling Bunuh di Samosir
Sundung Rumapea, warga Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, tewas dibunuh akibat cekcok soal pilkades.