UNTUK INDONESIA

Langkah Polri Agar Tidak Ada Data Ganda Korban Sriwijaya Air

Sederet proses verifikasi akan ditempuh pihak kepolisian untuk menghindari adanya data ganda korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.
Sederet proses verifikasi akan ditempuh pihak kepolisian untuk menghindari adanya data ganda korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.(Foto: Tagar/Barcroft Media via Getty Images)

Jakarta - Sederet proses verifikasi akan ditempuh pihak kepolisian untuk menghindari adanya data ganda korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Polri mendirikan posko Tim DVI, ante mortem, dan post mortem untuk mengidentifikasi jenazah korban. 

Posko ini didirikan di RS Bhayangkara Raden Said Sukanto dan di Pontianak, Kalimantan Barat. Sebelum menerima beberapa bukti dan data dari keluarga korban, Polri akan memverifikasi terlebih dahulu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono menerangkan, sebelum pihaknya menerima sejumlah bukti dari keluarga korban untuk mencocokan dengan jasad maupun potongan tubuh korban, pihaknya akan verifikasi terlebih dahulu. 

Hal ini agar tidak ada data ganda karena adanya posko ante mortem di Jakarta dan Pontianak.

“Data yang ada semua akan diverifikasi, sehingga diharapkan tidak ada data ganda. Sekali lagi, data akan diverifikasi sehingga dipastikan tidak ada yang ganda," kata Brigjen Rusdi.

"Kegiatan tim DVI ini melibatkan pemangku kepentingan lain, ada Polri, TNI, Kemenkes, Kemendagri, dalam hal ini dinas catatan sipil,” ungkap Rusdi.

“Hari ini petugas berhasil mengidentifikasi 3 jenazah, yakni Co Pilot Fadly Satrianto, Khazanah dan Ash Habul Yamin. Total, hingga hari ini tim telah mengidentifikasi empat korban," kata Rusdi dalam jumpa pers di RS Polri, Jakarta Timur, Selasa, 12 Januari 2021.

Diberitakan Tagar sebelumnya, dua dari lima warga Sumatera Barat (Sumbar) berhasil teridentifikasi sebagai korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Keduanya yaitu Kopilot Fadly Satrianto asal Pesisir Selatan dan Ash Habul Yamin asal Tanah Datar.

Kepala Pusat Inafis Polri Brigjen Pol Hudi Suryanto menjelaskan jenazah Kopilot Fadly Satrianto teridentifikasi setelah sidik jari telunjuk kanan identik dengan sidik jari yang terdapat dalam data e-KTP.

Demikian pula jenazah Ash Habul Yamin yang juga teridentifikasi dari kecocokan sidik jari jempol kanan dengan data dari e-KTP. Pria kelahiran Sintang, 31 Mei 1984 itu terdata beralamat di Pesanggrahan, Jakarta.

"Korban teridentifikasi dengan pencocokan sidik jari yang tercatat di data KTP elektronik miliknya," terang Brigjen Hudi.

Dalam peristiwa kecelakaan tersebut Ash Habul Yamin tidak sendiri, ia berangkat ke Pontianak bersama sang adik, Faizal Rahman, 30 tahun, yang jasadnya belum teridentifikasi.

Dirangkum Tagar, jasad pertama yang berhasil diidentifikasi yakni Okky Bisma asal Jakarta Timur. Bisma merupakan flight attendant atau pramugara SJ 182.

Kemudian tim juga berhasil mengidentifikasi jenazah bernama Khazanah yang merupakan perempuan kelahiran Lamongan, 28 Desember 1970, dan bertempat tinggal di Pontianak Barat, Kalimantan Barat.[]

Berita terkait
2 dari 5 Warga Sumbar Korban Sriwijaya Air Teridentifikasi
2 dari 5 warga Sumatera Barat berhasil teridentifikasi sebagai korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, Fadly Satrianto dan Ash Habul Yamin.
Berikut Perbedaan FDR dan CVR di Kecelakaan Sriwijaya Air
FDR dan CVR merupakan black box yang biasa dicari tim SAR, pada saat ada tragedi pesawat jatuh.
KNKT: Butuh 2 - 5 Hari Mengunduh Data FDR Sriwijaya SJ 182
KNKT ungkap butuh waktu dua sampai lima hari untuk mengunduh data dalam flight data recorder kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
0
Langkah Polri Agar Tidak Ada Data Ganda Korban Sriwijaya Air
Sederet proses verifikasi akan ditempuh pihak kepolisian untuk menghindari adanya data ganda korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.