Kunjungan Menlu Blinken ke Ekuador dan Kolombia

Menlu AS, Antony Blinken, uraikan beberapa tantangan yang dihadapi demokrasi di Belahan Barat dalam pidatonya di Ekuador
Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, berbicara kepada hadirin di Quito, Ekuador, 20 Oktober 2021 (Foto: voaindonesia.com/AP)

Jakarta – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken, menguraikan beberapa tantangan yang dihadapi demokrasi di Belahan Barat dalam pidatonya pada Rabu, 20 Oktober 2021, di Ekuador. Namun ia optimis hal itu bisa diatasi, sambil mengatakan kelangsungan demokrasi yang didukung rakyat biasa sangat penting untuk masa depan bersama di wilayah tersebut.

Tantangan tersebut mencakup korupsi, keamanan sipil, dan penanganan masalah ekonomi dan sosial yang dihadapi rakyat.

“Kenyataannya adalah kita sering kali mengerahkan lebih banyak energi untuk memperkuat hak-hak sipil dan politik, sama vital dan pentingnya – pemilihan umum yang bebas dan adil, supremasi hukum, kebebasan berbicara dan berkumpul – dan kurang memperkuat hak ekonomi dan sosial rakyat, seperti memperkuat standar perburuhan, memperluas akses ke pendidikan dan kesehatan yang memadai, memberikan peluang yang lebih inklusif," kata Blinken dalam pidatonya di Universidad San Francisco de Quito.

"Rakyat di belahan bumi kita menuntut agar kita melakukan keduanya," lanjutnya.

Amerika untuk pertama kalinya menetapkan pemberantasan korupsi sebagai kepentingan utama keamanan nasional AS, kata Blinken, sementara Washington menindak pendanaan ilegal, dan menyita serta membekukan aset curian.

Sejak tahun 2020, AS telah menginvestasikan lebih dari 10 miliar dolar AS di Amerika Latin dan Karibia melalui International Development Finance Corporation. Di Ekuador, AS bekerja sama dengan Banco de la Produccion untuk memberikan pinjaman 150 juta dolar AS tahun ini kepada usaha kecil, terutama yang dimiliki oleh perempuan.

Blinken mengatakan investasi ini dilakukan dengan cara yang “transparan” dan mereka memperlakukan masyarakat lokal sebagai “mitra”, yang sangat kontras dengan pemerintah otoriter yang menjerumuskan negara-negara di kawasan itu ke “dalam lingkaran utang yang merusak.”

menlu blinken dan presiden equadorMenteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dan Presiden Ekuador, Guillermo Lasso, berpidato di depan media, di Quito, Ekuador, 19 Oktober 2021 (Foto: voaindonesia.com - REUTERS/Santiago Arcos)

Presiden Ekuador Guillermo Lasso mengumumkan keadaan darurat untuk memerangi kekerasan ketika Blinken mengunjungi negara di Amerika Selatan itu.

“Aparat keamanan yang menjalankan tindakan ini harus mematuhi standar internasional dan bertanggung jawab jika tidak melakukannya,” tegas Blinken dalam pidatonya ketika Presiden Lasso mengatakan akan mengerahkan pasukan ke jalan-jalan untuk memerangi perdagangan narkoba.

Selain masalah demokrasi dan hak asasi manusia, fokus utama lainnya dari lawatan Blinken adalah migrasi, dan di Bogota ia akan memimpin pertemuan dengan para menteri luar negeri dari kawasan itu tentang kebijakan migrasi yang manusiawi (my/lt)/voaindonesia.com. []

Joe Biden Pilih Menteri Kesehatan Keturunan Amerika Latin

Ucapan Selamat Kepada Biden dan Harris dari Amerika Latin

Amerika Diminta Berikan Vaksin Covid-19 ke Amerika Latin

Covid-19 Amerika Latin Meroket Jadi Episentrum Baru

Berita terkait
20 Juta Dolar AS untuk Amerika Tengah dan Meksiko
AS umumkan paket bantuan kemanusiaan tambahan senilai 20 juta dolar AS untuk Meksiko dan Amerika Tengah
0
Kunjungan Menlu Blinken ke Ekuador dan Kolombia
Menlu AS, Antony Blinken, uraikan beberapa tantangan yang dihadapi demokrasi di Belahan Barat dalam pidatonya di Ekuador