UNTUK INDONESIA
Kuli Sindang di Tepi Jalan Tol Cibubur Jakarta Timur
Sekelompok orang biasa dikenali sebagai kuli sindang berada di sekitar jembatan tol Cibubur, Jakarta Timur, dekat Mall Junction.
Barisan kuli sindang di sekitar jembatan tol Cibubur, Jakarta Timur, tak jauh dari Mall Junction. (Foto: Tagar/Andreas H)

Jakarta - Sore itu terasa gerah di sekitar Jalan Alternatif Cibubur, perbatasan Jakarta Timur-Depok. Matahari sebentar lagi akan menyingsing. Dan seperti biasa jalur lalu lintas alternatif Jakarta-Bandung ini memang sangat akrab dengan kemacetan.

Ribuan pengendara mobil dan motor berlomba saling mendahului, walau semua sudah terjebak macet. Suara klakson bersahutan menyakitkan telinga, mengalahkan deru suara mesin pabrik. 

Sekelompok orang biasa dikenali sebagai kuli sindang tampak di sekitar jembatan tol Cibubur, tak jauh dari Mall Junction. Nyaris tiap hari ada kumpulan kuli di sini.

Sebagian dari mereka ada yang berdiri, ada yang duduk di trotoar. Sebagian berteduh santai di bawah rimbunan pohon. Kalau semuanya lagi berkumpul, jumlahnya bisa mencapai 50 orang. Di dekat mereka selalu terlihat cangkul, blencong, dan parang, alat kerja yang tak boleh terlupa.

Mereka tak ambil pusing kemacetan yang menjadi pemandangan setiap hari. Karena di titik inilah mereka menunggu rezeki, berharap ada orderan proyek galian. Mereka seperti tak mempedulikan kesehatan tubuh, setiap detik menghirup udara bercampur debu jalanan yang masuk ke paru-paru. Bagi mereka, debu jalanan sudah menjadi teman setia, sembari menunggu rezeki datang menghampiri.

Sering Kena Tipu

Saat Tagar mendekati mereka pada waktu itu, jelang akhir Ramadan 2019, para kuli sindang ini menyambut ramah. Ada juga di antara mereka menampakkan aura kegelisahan. Soalnya, beberapa menit sebelum wawancara, sekilas terdengar topik obrolan mereka soal Hari Raya Idul Fitri tinggal hitungan hari. Namun uang dalam dompet masih serba kembang-kempis.

Waktu diwawancarai, seorang bernama Bahirin mengaku sudah menjalani kuli sindang selama empat tahun. Dia terpaksa menjadi kuli karena tak ada pekerjaan lain dan tak memiliki latar pendidikan memadai. Bapak tiga anak ini juga mengatakan pekerjaan kuli sindang di Jakarta sekarang ini lebih banyak dilakoni orang-orang dari Kabupaten Brebes dan Cirebon.

Kalau sudah dapat panggilan proyek biasanya sering berpindah tempat, sampai ke luar kota juga pernah, tergantung pesanan pemborong. Tapi kalau sudah selesai pasti pulang lagi ke Cibubur.

Kata 'Sindang' sendiri bukan berasal dari Brebes maupun Cirebon, melainkan dari Desa Sindang Laut, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Dulunya, orang-orang dari desa ini memang yang pertama kali menekuni kuli sindang. Kemudian, orang-orang dari Brebes mengikuti jejak mereka, lalu orang Sindang Laut sekarang ini justru langka yang menekuni profesi ini. 

Para kuli sindang ini biasanya bekerja kalau ada proyek galian, mendapat pesanan dari pemborong swasta yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau ada juga proyek pribadi. Kalau sedang tidak ada pesanan proyek galian, mau tidak mau mereka menganggur. Kadang bisa sampai seminggu lebih menunggu panggilan proyek.

"Kalau sudah dapat panggilan proyek biasanya sering berpindah tempat, sampai ke luar kota juga pernah, tergantung pesanan pemborong. Tapi kalau sudah selesai pasti pulang lagi ke Cibubur," ujar Bahirin.

Kira-kira berapa penghasilan tiap bulan? 

"Tidak tentu," kata Bahirin. 

Kalau pun ada proyek galian, katanya, paling menerima upah kotor sebesar Rp 200 ribu tiap hari yang kerjanya dari pagi bisa ketemu subuh. Uang sebesar itu tidak semua masuk dompet, karena harus membayar tagihan utang makan di warung nasi langganan dan kebutuhan lain.

Bahrain bercerita, pernah mengalami rasanya ditipu. Ia mengerjakan proyek sampai selesai, tahu-tahu batang hidung pemborong lenyap bagaikan ditelan bumi, tidak menepati pembayaran upah yang janjinya diberikan setelah proyek galian selesai digarap. Ia mengaku sering kena tipu seperti itu. Teman-temannya juga demikian. 

"Mau lapor ke polisi juga malas soalnya enggak ngerti hukum. Biasanya kalau sudah kena tipu, mereka (pemborong) dua bulan lagi datang lagi menjumpai kami. Kalau ditanya kenapa upah kami nggak dibayar, alasannya ini dan itu. Ya sudah mending ikhlasin sajalah," ucapnya.

Sudah dua minggu nggak ada panggilan proyek galian. Jumlah utang di warung nasi langganan juga makin numpuk.

Kuli SindangPara kuli sindang duduk di besi pembatas jalan di tepi jalan tol Cibubur, Jakarta Timur. Mereka menunggu rezeki, berharap ada yang datang menawarinya untuk mengerjakan proyek galian. (Foto: Tagar/Andreas H)

Malu Sama Anak Istri

Wasjik juga seorang kuli Sindang. Ia mengaku terpaksa menjalani profesi ini karena di kampungnya tak ada yang bisa dikerjakan. Niat mau menjadi petani, lahan sawah juga tak punya. Jadi, lelaki berbadan kurus meninggalkan kampung halaman, mengikuti jejak kawan-kawan menjadi kuli sindang.

"Istri dan anak di kampung, tahu bapaknya di Jakarta kerja jadi kuli sindang. Kalau lagi sepi proyek, istri juga sudah ngerti kok, nggak bakal dikirim uang bulanan," ucap Wasjik bersemangat dengan wajah yang lusuh.

"Teman-teman yang lain nasibnya juga sering sama seperti saya," katanya.

Untuk jadwal pulang kampung, para kuli sindang ini tergantung pada rezeki. Kadang tiap tiga atau enam bulan sekali. Tapi kalau rezeki lagi seret, banyak kebutuhan, bisa tidak pulang kampung dalam waktu lama. 

Ia tertawa lepas kemudian mengatakan, "Kepala lagi pusing," ketika ditanya apakah akan pulang saat Hari Raya Idul Fitri.

"Sudah dua minggu nggak ada panggilan proyek galian. Jumlah utang di warung nasi langganan juga makin numpuk. Pokoknya parah ceritanya. Belum tahu pulang atau nggak Lebaran ini. Kalau pulang juga pasti nanti malu sama istri dan anak," katanya diiringi derai tawa.

Ia mengaku beruntung selama nongkrong di sekitar jembatan tol Cibubur, tidak pernah diusir Satpol PP. Hal ini, kata Wasjik, karena mereka tidak pernah mengganggu pengendara yang melintas. Satpol PP sepengetahuannya hanya merazia pengamen dan pengemis. 

Walau hidup susah, tapi saya berjuang keras tetap menyekolahkan anak saya minimal sampai lulus SMA, minimal bisa kerja di pabrik biar nasibnya enggak seperti saya.

Pada bulan Ramadan, Wasjik dan teman-teman kadang mendapat nasi kotak dan uang dalam amplop dari pengendara.

"Lumayanlah. Dapat nasi kotak bisa menghemat uang biar enggak ngutang di warung makan. Intinya, kami nongkrong di sini bukan semata-mata berharap jadi pengemis. Kami duduk seharian karena memang sedang menunggu orderan yang datang, walau enggak ada jaminan ada," tuturnya.

Para kuli sindang tidurnya tidak jelas, bisa di sembarang tempat. Kadang di lokasi nongkrong, beralaskan spanduk dan koran. Kalau sedang terlelap tiba-tiba hujan, mereka berteduh di warung makan langganan.

"Untung yang punya warung makan selama ini baik. Kalau lagi enggak punya duit boleh ngutang, juga boleh numpang tidur di kamar belakang yang memang sudah disediakan. Tapi tidurnya saling berdempetan dan harus saling pengertian," ucapnya.

Ingin Punya Tanah di Kampung

Wahrisad, mengaku menjalani profesi kuli sindang karena memang tak memiliki keahlian lain. Ia bercita-cita mempunyai tanah di kampung untuk bertani. Sekarang ini dia memang sembari bertani, namun dengan lahan sewaan. 

"Kalau panen untungnya juga enggak seberapa. Habis untuk membayar utang pupuk ke tengkulak. Makanya, untuk menambah uang belanja keluarga, terpaksa jadi kuli sindang. Ini juga kadang-kadang selama sebulan penghasilan nggak dapat sampai Rp 2 juta," katanya.

Ia mengeluhkan kondisi pertanian di Brebes yang dikenal sebagai penghasil bawang merah terbesar di Pulau Jawa. Ia menganggap pemimpin di daerahnya, dari kepala desa sampai bupati kurang peka mendengar jeritan petani.

Sebab, katanya, kalau pemimpin mereka peduli terhadap nasib petani, tentu mereka tak perlu jadi kuli sindang di Jakarta.

Di antara para kuli sindang, banyak yang istri dan anaknya bekerja di luar negeri, seperti ke Malaysia. Hal ini karena faktor himpitan ekonomi, jeratan utang pada tengkulak.

"Walau hidup susah, tapi saya berjuang keras tetap menyekolahkan anak saya minimal sampai lulus SMA, minimal bisa kerja di pabrik biar nasibnya enggak seperti saya," tutur Wahrisad. []

Tulisan feature lain:

Berita terkait
0
Indika Foundation Penghargaan dari BMW Group dan PBB
Indika Foundation dari Indonesia berhasil meraih penghargaan BMW Group-UNAOC Intercultural Innovation Award.