TAGAR.id - Kawasan Schengen "sama sekali tidak terganggu" selama insiden penerobosan di Ceuta, ungkap Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, setelah melakukan konferensi video dengan para mendagri Uni Eropa. Elizabeth Schumacher melaporkannya untuk Deutsceh Welle (DW, 5/8/2026).
Para menteri dalam negeri Uni Eropa mencapai kesepakatan untuk memperkuat keamanan perbatasan eksternal setelah menggelar konferensi video pada hari Selasa (4/8/2026). Kesepakatan tersebut diumumkan dalam sebuah pernyataan resmi.
"Terdapat kesepahaman mengenai perlunya upaya tanpa henti untuk terus memerangi jaringan penyelundupan migran, meningkatkan upaya pemulangan, memperkuat perbatasan Uni Eropa, membangun kemitraan yang erat dengan negara-negara ketiga, serta memperbaiki langkah antisipasi," tulis mereka dalam sebuah siaran pers.
Para menteri juga "menyoroti bahwa komunikasi pada masa krisis dapat ditingkatkan melalui koordinasi yang cepat dan lebih terpadu, terutama untuk melawan aktor eksternal yang terlibat dalam manipulasi dan campur tangan informasi asing."
Organisasi tersebut sepakat untuk memberikan bantuan darurat kepada Spanyol guna mendukung peningkatan keamanan perbatasan.
Letak Kota Ceuta di perbatasan antara Spanyol dan Maroko. (Sumber: slate.com)Apa yang terjadi di Ceuta?
Pertemuan tersebut diadakan untuk mengatasi kekhawatiran terkait keamanan di dalam kawasan pergerakan bebas Schengen setelah sekitar 60.000 orang menyerbu gerbang perbatasan di Cueta, yang merupakan wilayah eksklave Spanyol atau wilayah suatu negara yang terpisah dan dikelilingi oleh wilayah negara lain.
Berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Eropa menyebutkan bahwa terdapat ratusan anak di bawah umur di antara orang-orang yang menerobos masuk tersebut.
Insiden ini memicu serangkaian kritik tajam dari para pemimpin negara anggota Uni Eropa berhaluan kanan-tengah dan sayap kanan terhadap Perdana Menteri Spanyol yang berhaluan kiri, Pedro Sanchez. Negara-negara seperti Italia dan Finlandia mendesak penangguhan segera keanggotaan Spanyol dalam perjanjian Schengen.
Namun, para pejabat dan lembaga penegak hukum dari seluruh penjuru Uni Eropa menyatakan bahwa jebolnya pengawasan perbatasan disebabkan oleh misinformasi yang diberikan kepada para pencari suaka yang menunggu di perbatasan. Pihak berwenang juga menyampaikan kecurigaan bahwa sindikat perdagangan manusia sengaja menyesatkan para calon migran tersebut.
Eksklave Ceuta milik Spanyol terletak di benua Afrika, yang berbatasan langsung dengan Maroko di satu sisi dan lautan di sisi lainnya. Wilayah ini memberlakukan prosedur masuk dan keluar Schengen yang lebih ketat dari biasanya, serta melakukan pemeriksaan identitas bagi para penumpang yang menyeberang ke daratan utama Spanyol.
Spanyol mengonfirmasi pada hari Selasa (04/08) bahwa sekitar 60.000 orang telah dipulangkan ke Maroko sejak akhir pekan dan menyisakan 2.500 orang yang masih berada di Ceuta.
Foto cueta
Kawasan Schengen tidak terganggu
"Sangat jelas bahwa kawasan Schengen sama sekali tidak terganggu oleh krisis ini," kata Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, setelah melakukan pembicaraan dengan mitranya dari negara-negara Uni Eropa lainnya.
Pernyataan tersebut diamini oleh Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez: "Kami semua sepakat bahwa kawasan Schengen sebenarnya bukanlah masalah utamanya."
Komisioner Uni Eropa untuk Urusan Dalam Negeri dan Migrasi, Magnus Brunner, mengatakan bahwa terdapat "solidaritas penuh dengan Spanyol di meja perundingan" pada pertemuan tersebut. Ia menambahkan bahwa peningkatan keamanan perbatasan yang difasilitasi oleh Frontex (badan perbatasan Uni Eropa) telah diterapkan di Ceuta dan "siap untuk berbuat lebih banyak."
Ia menyebut pertemuan itu sebagai "kesempatan yang bermanfaat" untuk memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang menyeberang dari Ceuta ke daratan utama.
"Beberapa hari terakhir merupakan ujian bagi ketahanan Eropa, sebuah ujian terhadap keamanan perbatasan eksternal kita," ujar Brunner. "Menurut saya, Eropa jelas telah berhasil melewati ujian ini." (Sumber: AFP, Reuters)/Artikel ini diadaptasi dari artikel bahasa Inggris/Diadaptasi oleh Algadri Muhammad/Editor: Hani Anggraini)/dw.com/id. []