Kota Semarang Jadi Nominasi Pilot Project Zero Stunting

Kota Semarang masuk ke dalam nominasi pelaksanaan pilot project dalam penurunan angka kematian, ibu, bayi dan Stunting.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. (Foto:Tagar/Pemkot Semarang)

Jakarta - Kota Semarang masuk ke dalam nominasi pelaksanaan pilot project dalam penurunan angka kematian, ibu, bayi dan Stunting. Kepala Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menilai, penanganan ibu hamil, dan stunting di Kota Semarang sangat baik. 

Hal ini, berkat Kebijakan Walikota Semarang perihal ketersediaan tenaga kesehatan di setiap kelurahan yang memantau kondisi ibu hamil, hingga pengawalan dan pelaksanaan posyandu secara rutin yang dapat dijadikan contoh bagi kota-kota lain.

Stunting ini ditentukan saat proses kehamilan, maka itu pemantauan ibu hamil seperti pengecekan gizi saat kehamilan, kontrol dokter, dan supply makanan tambahan menjadi sebuah cara untuk minimal potensi stunting.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengapresiasi upaya tersebut. Pasalnya ia telah menetapkan persoalan stunting dan penurunan angka kematian ibu hamil dan bayi sebagai fokus program jangka pendek pada periode kedua kepemimpinannya. 

Bahkan Wali Kota yang akrab disapa Hendi ini, senang dengan upayanya dalam menjadikan masyarakat lebih sehat dan bergizi didukung oleh berbagai pihak. Salah satunya BKKBN yang akan menurunkan program dan anggarannya guna memerangi persoalan stunting.

“Dari 1,7 juta jiwa masih ada sekitar 3.000an anak yang masih stunting. Artinya PR masih belum selesai, kita harus bekerja keras untuk mengentaskannya,” tuturnya Usai melakukan Pengarahan dalam Kegiatan Quality Assurance/Asistensi/terhadap OPD Pemerintah Kota Semarang Rabu, 17 Maret 2021 di Kantor DP3A.

Selama ini pihaknya telah melakukan program penanganan berupa pemberian makanan tambahan, penempatan Petugas Surveilans Kesehatan (Gasurkes) di setiap Kelurahan, dan pemantauan ibu hamil. 

“Stunting ini ditentukan saat proses kehamilan, maka itu pemantauan ibu hamil seperti pengecekan gizi saat kehamilan, kontrol dokter, dan supply makanan tambahan menjadi sebuah cara untuk minimal potensi stunting,” tagas Hendi.

Dirinya juga meningkatkan anggaran PMT yang semula 250 ribu meningkat menjadi 500 ribu. Harapannya melalui PMT yang cukup dapat meningkatkan gizi ibu dan bayi. Tak hanya itu Walikota pun memperhatikan kondisi bayi usai kelahiran. 

Ia menyebutkan bahwa ada usia emas anak yang harus kita perhatikan supaya anak bertumbuh dan berkembang denga baik. Hal itu mencakup penimbangan secara rutin melalui posyandu, pemberian makanan tambahan,dan melibatkan dokter puskesmas guna menangani anak yang sakit.

Rencana BKKBN untuk menjadikan Kota Semarang sebagai pilot project pendataan keluarga, sebagai basis data agar tercipta zero stunting. Sedangkan program pendataan keluarga akan dimulai serentak pada 1 April 2021 mendatang. 

Kedepan akan dilakukan kunjungan lapangan guna memverifikasi data kependudukan, seperti jumlah dan jarak anak, angka kemiskinan, keberadaan Ibu hamil, hingga kondisi stunting di suatu keluarga.[]

Berita terkait
Pulihkan Ekonomi, Pemkot Semarang Jajaki Kerja Sama dengan Prancis
Pemkot Semarang mendapatkan dukungan Prancis untuk pulihkan ekonomi, diantaranya melalui penjajakan kerja sama bidang pariwisata dan pendidikan.
Jumpai Warga Semarang Tinggal di Pasar, Tia Hendi Fasilitasi Tempat Layak Huni
Tim Penggerak PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi mengaku akan menyediakan tempat yang lebih layak untuk warga yang tinggal di Pasar.
Usai TNI, Polri, dan ASN, Hendi Fokus Vaksinasi Lansia
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menuturkan, usai vaksinasi pelayan publik, TNI, POLRI, dan ASN, pihaknya menargetkan lansia untuk divaksin.
0
Jalan Tol Serpong-Cinere Bayar Rp 11.000 Mulai 2 Juni
Jalan Tol Serpong-Cinere, ruas Seksi I Serpong-Pamulang mulai dikenakan tarif sebesar Rp11.000 untuk golongan 1 mulai Rabu, 2 Juni 2021.