UNTUK INDONESIA
Kisah Mantan Narapidana Selamatkan Nenek di Semarang
Mantan narapidana di Kabupaten Semarang membuktikan mampu menjadi manusia berguna. Ia menyelamatkan hidup nenek yang tak mandi 27 tahun.
Ardian Kurniawan Santosa di depan rumah nenek di Kabupaten Semarang yang ditolongnya, Selasa, 28 Januari 2020. Siapa sangka sosok baik hati itu punya cerita kelam sebagai bekas narapida dan dikucilkan secara sosial. (Foto: Tagar/Sigit AF)

Semarang - Kisah penyelamatan seorang nenek yang tak terurus selama 27 tahun di Kabupaten Semarang menjadi inspirasi warganet. Aksi mengangkat kehidupan nenek Sukiyah, warga Dusun Karangombo, Desa Polobogo, Kecamatan Getasan tersebut dinilai bagian dari kepedulian terhadap sesama. 

Siapa sangka, sosok penyelamat bernama Ardian Kurniawan Santosa itu punya sejarah kelam dalam kehidupannya. Ia pernah merasakan dinginnya lantai di balik jeruji tahanan. Pria asli Kopeng, Getasan tersebut merupakan mantan narapidana Rumah Tahanan (Rutan) Jember tahun 2014.

Ardian pun tak malu untuk menceritakan kepada Tagar cerita pahit masa lalunya. Berharap apa yang pernah dialami menjadi pelecut semangat bagi rekan-rekannya sesama bekas narapida. Bahwa tak ada gading yang tak retak. Dan mereka punya kesempatan untuk membalasnya dengan perbuatan baik. 

"Dulu saya pernah menggelapkan beras 7,5 ton saat kirim barang ke Jember," kata Ardian membuka kisah hidupnya pada Selasa, 28 Januari 2020.

Tak sampai itu, usai keluar dari penjara Ardian kembali melakukan yang kejahatan. Pada 2016, ia membobol sebuah toko sembako di Salatiga. Aksi itu membuatnya harus mendekam kembali di penjara. Kali ini di Rutan Salatiga.

"Waktu di Rutan Salatiga saya terlibat perkelahian sesama tahanan. Jadi saya dipindah ke Rutan Boyolali," katanya.

Ardian merasakan kehidupan yang keras. Sebagai bekas narapidana, hidup di tengah masyarakat menjadi serba sulit. Ia tak mendapat kepercayaan kerabat maupun teman-teman dekatnya dulu meski hanya untuk minta bantuan dicarikan pekerjaan.

Susah cari pekerjaan bagi saya yang bekas narapidana.

Saat dinyatakan bebas pada tahun 2017, keinginan untuk melakukan kejahatan masih sempat terintas muncul. Namun, ia berhasil menahan niat buruk itu. "Susah cari pekerjaan bagi saya yang bekas narapidana," ucap dia.

Ardian akhirnya memutuskan mencari penghasil dari mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekitar empat bulan ia hidup di jalanan bersama pengemis dan kaum gelandangan. "Saya berbaur dengan pengemis. Mereka makan apa adanya, serba kekurangan," kenang pria kelahiran 10 Juli 1987 itu.

Ada pelajaran hidup yang didapat ketika melakoni kehidupan jalanannya saat itu. Ia melihat sebuah komunitas di Salatiga yang membagi-bagian makanan setiap hari Jumat. Dan dirinya termasuk orang yang mendapatkan sebungkus nasi itu.

"Saya merasa bahagia sekali. Di situ saya juga melihat pengemis yang diberi satu bungkus nasi juga bahagia sekali," akunya.

Dari pengamatan berdasar rasa itu hatinya mulai terbuka. Ia pun punya mimpi jika suatu hari menjadi orang kaya, bakal terus memberi makan kepada mereka yang membutuhkan.

Anak Meminta Motor

Penolong nenek Semarang1Ardian Kurniawan Santosa berada di rumah nenek Sukiyah, di Getasan, Kabupaten Semarang. Ia ditemui tetangga Sukiyah. (Foto: Tagar/Sigit AF)

Puncak dari kebingungannya selepas dari penjara adalah memenuhi keinginan anaknya yang minta dibelikan sebuah sepeda motor. Ardian risau lantaran tak punya uang dan tak memiliki pekerjaan jelas. 

Keinginan untuk mencuri terus membayangi. Namun rasa takut menjadi tembok kuat penghadang. Ditambah muncul sebuah perasaan tak enak, bagaimana mungkin ia memenuhi keinginan anak semata wayangnya lewat jalan yang tidak benar.

"Kebanggaan anak kepada saya nanti bagaimana?. Pasti tidak akan ada. Ia juga akan malu sekali terhadap saya. Saya tidak mau mengulanginya lagi," ungkapnya dengan nada tegas.

Tekad Ardian untuk kembali menjalani kehidupan normal dan tidak menyakiti orang lain sudah bulat. Ia pun mencoba kembali meminta bantuan temannya. Ternyata Tuhan membantunya. 

Lewat jasa temannya itu ia diberi sebuah handphone sebagai alat mencari pekerjaan. Dalam pencarian di Google, ia mendapatkan sebuah link pendaftaran menjadi relawan, yang dikira sebagai lowongan kerja.

Hingga satu bulan lamanya belum ada panggilan. Ia kemudian memutuskan merantau ke Bali dan mendapat pekerjaan sebagai sopir truk di sebuah perusahaan. Singkat kata perekonomian Ardian mulai membaik dan bisa dibilang berkecukupan. Bahkan bisa membayar cicilan sepeda motor anaknya. 

Setelah enam bulan bekerja di Bali ternyata lamarannya menjadi anggota Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aksi Cepat Tanggap (ACT). Bukan main senangnya Ardinan waktu itu. Tanpa pikir panjang ia kemudian memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kembali pulang ke Salatiga.

Dikucilkan orang sudah biasa. Ya sudah saya biasa. Demi anak, malu sama anak, punya ayah yang seperti ini.

Tapi hingga balik ke kampung halaman, Ardian mengaku belum tahu persis apa yang akan dilakukannya sebagai relawan. "Ternyata, kerjanya bagi-bagi nasi, memperbaiki rumah. Dan ternyata tidak ada bayarannya, matek aku, (mati aku)," tuturnya berderai tawa. 

Meski begitu, ia menjalani dengan penuh semangat dan perasaan bahagia. Sebab seumur hidup baru kali itu merasakan ketenangan dan kesenangan batin. Ia teringat masa di mana hidup di penjara, di jalanan hingga susah mencari uang hanya untuk makan.

"Saya mengingat kembali masa ketika saya diberi makan saat hidup di jalanan," katanya.

Tapi tetap saja menjadi seorang relawan, Ardian membutuhkan pekerjaan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Beruntung ia masih memiliki tabungan dari hasil kerjanya di Bali. Uang itu digunakan untuk membeli empat sepeda motor dan disewakan pada pekerja di Salatiga.

"Satu motor saya sewakan Rp15 ribu. Saya dapat ide penyewaan itu saat masih di Bali, melihat sepeda-sepeda disewakan pada wisatawan," tutur dia. 

Bukan hal mudah ketika menjadi relawan dan bertahan hidup dengan usaha kecilnya itu. Ardian beberapa kali masih mendapatkan cemoohan dan diasingkan dari masyarakat lantaran statusnya sebagai bekas narapidana. 

Ia sudah tak peduli lagi. Niat untuk menjadi seorang ayah yang membanggakan bagi anak terus menguatkan dirinya. "Dikucilkan orang sudah biasa. Ya sudah saya biasa. Demi anak, malu sama anak, punya ayah yang seperti ini," ucapnya.

Di sisi lain, Ardian mulai terbersit untuk memikirkan nasib temannya sesama relawan. Ia pun mulai mencari donatur untuk membuka sebuah usaha, yang akan diisi para relawan. "Relawan itu enggak dibayar Mas, padahal keluarganya menunggu di rumah, butuh makan juga," beber dia.

Gayung bersambut. Ia akhirnya mendapatkan mitra usaha untuk membuka sebuah rumah makan. Ia memberi nama tempat tersebut, J Friedchicken B (JFB) yang terletak di Jalan Merak, Kota Salatiga. "Alhamdulillah," katanya.

Koma Tujuh Hari

Penolong nenek Semarang2Ardian Kurniawan Santosa bersama jurnalis Tagar.id Sigit Aulia Firdaus. (Foto: Tagar/Sigit AF)

Jiwa sosial Ardian telah benar-benar hidup. Pada medio 2018 saat terjadi gempa bumi di Lombok, ia sempat mengajukan diri sebagai relawan yang siap membantu warga korban bencana. Namun keinginannya belum diamini oleh MRI-ACT Jawa Tengah.

Selang beberapa bulan kemudian, saat terjadi gempa dan tsunami di Palu pada September 2018, Ardian tak lagi bisa menahan gairah membantu sesama di daerah bencana. "Saya mengajukan diri lagi sebagai relawan yang siap terjun ke sana. Namun lagi-lagi belum ada respon," katanya.

Akhirnya, ia berinisiatif untuk berangkat sendiri. Ardian menjual motornya seharga Rp 5,5 juta. "Pada waktu saya mau berangkat ternyata ada panggilan dari MRI ACT Jateng. Ya sudah, uangnya saya buat bekal," sambung dia.

Setibanya di Palu, Ardian tak mampu menahan perasaan melihat para korban bencana. Di sana ia melihat banyak derai air mata korban. Ardian membantu tak kenal waktu hingga tubuhnya sendiri menjadi korban.

Hari ini impian saya terwujud, bisa umrah bersama ibu saya.

Lantaran kelelahan ia dinyatakan koma selama tujuh hari di Palu. Tapi Tuhan berkendak lain. Ia masih tertolong dan sembuh. "Saya kelelahan dan koma tujuh hari di Palu," ujar dia. 

Usai pulang dari Palu, Ardian menjalani kehidupan seperti sedia kala. Tak disangka, pintu rejeki kembali terbuka. Ia mendapat pekerjaan dengan diangkat menjadi sopir truk ACT untuk mengirim bantuan kepada orang yang tidak mampu.

"Biasanya saya ditugaskan mengantar seribu bok nasi. Kemarin ke Sumatera. Kemarinnya lagi di Jawa Tengah. Kalau yang ini saya dapat gaji," katanya.

Hadiah Umrah

Waktu terus berjalan dan akhirnya mempertemukan Ardian dengan Sukiyah, nenek yang dikabarkan mengurung diri hingga tak mandi 27 tahun di Getasan. Aksi yang diunggah di akun medi sosial pribadinya itu menjadi viral

Ia sendiri mengaku kewalahan membalas pesan dari netizen yang jumlahnya mencapai ribuan. Pertemanannya di Facebook sudah tidak bisa ditambahkan lantaran sudah mencapai batas. Pengikut akunnya di Facabook mencapai 18.700 hingga pukul 15.10 WIB pada Selasa, 28 Januari 2020.

Channel Youtube-nya juga mengalami peningkatan signifikan. Sebelumnya hanya ada 29 subscriber bertambah menjadi 1.780 dalam waktu dua hari. Sampai di sini, tiba-tiba teleponnya berdering. 

Ardian kemudian meminta izin untuk menjawab telepon tersebut. Tak lama, tiba-tiba ia memeluk Tagar sembari menjelaskan dengan nada haru. Ia mengaku mendapat hadiah umrah serasa gratis oleh seorang donatur yang simpati terhadap aksinya kepada nenek Sukiyah. 

"Alhamdulillah mas, saya mendapatkan hadiah umrah," katanya menitikkan air mata.

Ragam peristiwa tak terduga yang dialami Ardian makin mengukuhkan komitmennya untuk terus selalu menebar kebaikan. Apalagi, umrah itu adalah hadiah kedua yang didapatkan dari donatur. Sebelumnya, ia dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada bulan Februari 2020 ini.

"Kemarin hadiah umrah saya coba saya alihkan ke ibu saya tapi tidak bisa. Hari ini impian saya terwujud, bisa umrah bersama ibu saya," imbuhnya dengan mata berkaca. []

Baca juga: 

Berita terkait
Mengenaskan, Rumah Nenek Semarang Tak Mandi 27 Tahun
Keterbatasan fisik dan faktor ekonomi, membuat rumah Sukiyah kondisinya mengenaskan. Nenek warga Kabupaten Semarang ini tak mandi 27 tahun.
Doa Saat Potong Rambut Gimbal Nenek Sukiyah Semarang
Ada doa yang dipanjatkan Ardian, saat memotong rambut Sukiyah, nenek asal Kabupaten Semarang yang tak mandi 27 tahun.
Kondisi Sukiyah, Nenek Semarang Tak Mandi 27 Tahun
Sukiyah, nenek asal Kabupaten Semarang, tak mandi selama 27 tahun. Bagaimana kondisinya sekarang?
0
Pengakuan Menantu Bunuh Sadis Mertua‎ di Pemalang
Pembunuhan menantu terhadap mertua di Pemalang terungkap jelas. Sang menantu akhirnya membeber penyebab ia menggorok leher mertuanya.