UNTUK INDONESIA
Keunikan Masjid Lautze Tempat Ibadah Muslim Tionghoa
Masjid Lautze yang menjadi tempat beribadah para muslim Tionghoa memiliki keunikan yang tak akan didapatkan di masjid manapun.
Tampak depan Masjid Lautze di Jalan Lautze no. 87-89 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Foto: Tagar/Rivaldi)

Jakarta - Masjid Lautze memiliki keunikan yang tak akan bisa didapatkan di masjid manapun. Umumnya masjid identik dengan kubah yang terdapat di atasnya, rumah ibadah yang satu ini justru tidak memilikinya.

Dibentuknya Yayasan Haji Karim Oei untuk membantu pembauran antara masyarakat Chinese dan non-Chinese yang tidak harmonis.

Berlokasi di Jalan Lautze No. 87-89 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Lautze menjadi masjid ikonik di daerahnya. Selain sejajar dengan ruko-ruko di sebelahnya, masjid ini terlihat layaknya kelenteng.

Melalui pantauan Tagar pada Senin, 20 Januari 2020, Lautze memiliki pernah-pernik serta warna merah yang identik dengan kultur masyarakat Tionghoa.

Masjid LautzeBagian dalam Masjid Lautze di Jalan Lautze no. 87-89 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Foto: Tagar/Rivaldi)

Nuansa dari Masjid Lautze terlihat berbeda, beragam pernak-pernik khas Tionghoa terpajang di depan pintu, seperti lampion yang menggantung.

Ketika memasuki ke dalam bangunan masjid, mata akan dimanjakan dengan berbagai ornamen-ornamen yang kental akan budaya etnis Tionghoa, namun tetap dalam konteks muslim.

Beragam jenis barang yang terdapat pada Masjid Lautze, di antaranya seperti kaligrafi dan aksara China yang sudah berumur dan masing-masing memiliki arti nama serta kalimat-kalimat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Masjid LautzeBagian dalam Masjid Lautze di Jalan Lautze no. 87-89 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Foto: Tagar/Rivaldi)

Salah satu pengurus masjid, Naga Kunadi (43) menceritakan awal mula berdirinya Lautze kepada Tagar.

Masjid Lautze dibangun dengan alasan untuk pembauran antara masyarakat Chinese dengan non-Chinese dengan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Haji Karim Oei pada tahun 1991.

"Dibentuknya Yayasan Haji Karim Oei untuk membantu pembauran antara masyarakat Chinese dan non-Chinese yang tidak harmonis, maka dari itu sekalian dibangun masjidnya," kata Naga.

Awalnya, lanjut Naga, lokasi yang ditempati dimiliki seseorang yang telah ia dikontrakan. Setelah ruko resmi dibeli, Masjid Lautze diresmikan pada tahun 1994 oleh mantan Presiden Republik Indonesia B. J. Habibie.

"Setelah mengumpulkan dana dari berbagai upaya, salah satunya mengirim surat kepada Presiden Soeharto agar mendapatkan bantuan materi untuk membeli tanah tersebut," ucapnya.

Untuk pemilihan nama, tidak diberikan begitu saja dengan mengikuti nama jalan, melainkan melalui rundingan dari berbagai pihak agar masyarakat Chinese tertarik terhadap islam kala itu.

"Agar masyarakat chineese tertarik maka dari itu pemilihan nama Lautze terbentuk," ujarnya.

Setiap hari Minggu digelar pengajian rutin bagi para masyarakat yang baru masuk muslim serta belajar mengenai agama Islam. Masjid Lautze juga membuka pelayanan bagi orang yang ingin menjadi mualaf. 

Jam operasional Masjid Lautze berbeda dengan masjid pada umumnya yang buka 24 jam. Tempat ibadah ini buka mulai dari Senin sampai Jum'at pukul 08.00-17.00 WIB, Minggu tutup lebih awal pukul 15.00 WIB. Sementara itu, untuk hari Sabtu masjid ini ditutup untuk umum. []

Berita terkait
Masjid di Aceh Tetap Kokoh Saat Tsunami Menerjang
Masjid Baiturrahim Ulee Lheue salah satu bukti atas dasyatnya bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam.
Rawabi Surga Palestina Pelipur Serangan Israel
Kota Rawabi menjadi harapan baru warga Palestina yang tidak pernah berhenti diserang milisi Israel.
Menelusuri Wisata Iran Kental Nilai Historis
Iran dengan Ibu Kotanya Tehran memiliki destinasi wisata yang kental dengan nilai historis, apa saja wisatanya?
0
Pulang dari Zona Merah, 1 Warga Samosir ODP Covid-19
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Kabupaten Samosir, menetapkan seorang wanita sebagai ODP.