Indonesia
Ketua KPU Bisa Gantikan Tri Rismaharini di Surabaya
Sosiolog Politik Agus Machfud Fauzi menilai Ketua KPU RI Arief Budiman mampu maju Pilkada Surabaya 2020, meneruskan Tri Rismaharini.
Tri Rismaharini. (Foto: Humas Pemkot Surabaya)

Jakarta - Sosiolog Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Machfud Fauzi menilai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Arief Budiman memiliki kapasitas dan mampu maju dalam Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Surabaya 2020. Arief bisa meneruskan kepemimpinan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

"Mas Arief Budiman layak maju Calon Wali Kota Surabaya. Apalagi beliau sebagai arek Suroboyo, dibesarkan di Surabaya memahami sosial, budaya dan politik masyarakat Surabaya," kata Agus Machfud Fauzi, di Surabaya, Minggu, 21 Juli 2019.

Sebagai putra daerah yang menasional karena menjadi Ketua KPU RI, menurut Agus, Arief Budiman dinilai sudah waktunya memberikan yang terbaik bagi kota asalnya.

Agus menyatakan Arief Budiman yang kelahiran kota Surabaya diperbolehkan maju sebagai Calon Wali Kota Surabaya pada Pilkada Surabaya 2020 jika dia mengundurkan diri dari posisi Komisioner KPU RI.

Boleh-boleh saja, namun secara pribadi kurang baik.

Namun, hal itu bagi Arief Budiman tidak etis karena dia sudah berkomitmen selama 5 tahun kepemimpinan KPU RI hingga masa jabatannya berakhir, yaitu tahun 2022.

"Boleh-boleh saja, namun secara pribadi kurang baik," ujar Agus.

Agus mengatakan akan lebih baik jika partai mengajukan saat Arief Budiman telah selesai dari jabatannya sebagai Komisioner KPU RI.

Figur Tri Rismaharini Bukan Kriteria PKB di Pilkada 2020

Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur, Abdul Halim Iskandar, membocorkan kriteria calon wali kota (cawali) Surabaya yang bakal diusung partainya dalam Pilkada 2020. Menurut dia, PKB tidak ingin mengusung cawali Surabaya seperti figur Tri Rismaharini.

Abdul beralasan, selama dua periode memimpin, Risma belum maksimal menyentuh masyarakat pinggiran Surabaya.

Halim menambahkan, kriteria lain adalah warga asli Surabaya. Jika tidak, kata dia, warga asli Surabaya akan termarjinalkan. Halim mencontohkan, di kawasan Rungkut berdiri perumahan elit di mana warga asli justru tergusur dan tergeser ke daerah pinggiran.

"Kita lihat saja Rungkut. Sepuluh tahun lalu, lima belas tahun lalu, dua puluh tahun lalu, dengan hari ini. Kita melihat situasi bagaimana Rungkut lima belas tahun lalu dengan hari ini, ke mana mereka yang asli," kata Halim kepada Tagar di Surabaya, Kamis, 4 Juli 2019.

Baca juga:

Berita terkait
0
Tewas Sebelum Skripsi, Orang Tua Gantikan Anaknya Wisuda di UNS Solo
Dwi Yan Merbaningrum tak kuasa menahan tangis saat menerima ijazah anaknya Irza Laila Nur Trisna saat upacara wisuda UNS Solo.