Kenapa Laki-laki Membeli Seks dari Prostitusi Online

Prostitusi online yang melibatkan artis, model dan mahasiswi sama saja dengan pelacuran yang terkait erat dengan ‘penyakit kelamin’ dan HIV/AIDS
Ilustrasi prostitusi online. (Foto: Pixabay)

Oleh: Syaiful W. Harahap*

Kasus prostitusi online terus terkuak berkat kerja polisi. Terakhir, Polda Jatim menangkap seorang perempuan, disebut seorang model dengan inisial PA. Polisi menangkap PA dan seorang laki-laki asal Bekasi yang ada bersama FA di kamar sebuah hotel di Kota Batu, Jawa Timur, 26 Oktober 2019.

Beberapa kasus prostitusi online yang diungkap polisi melibatkan model, artis dan mahasiswi. Polisi membongkar kasus-kasus prostitusi online di banyak daerah di Indonesia mulai dari Aceh sampai Makassar. Di Aceh lima mahasiswi dijaring polisi. Di Makassar polisi jaring prostitusi online yang memakai aplikasi media sosial.

Imajinasi

Agaknya, laki-laki ‘hidung belang’ dipermainkan dengan sosok model, artis dan mahasiswi yang mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan pekerja seks komersial (PSK) yang kasat mata.

Apalagi sekarang tidak ada lokalisasi pelacuran cara yang efektif mencari ‘PSK’ adalah melalui jaringan online dari pada berkeliling atau memakai jasa calo yang disebut germo atau mucikari di penginapan, losmen, hotel, apartemen, dll.

“Mau yang model apa saja ada, Oom,” kata seorang tukang beca di sekitar Stasiun KA Bogor, Jawa Barat, pada suatu malam beberapa bulan yang lalu. Tukang beca itu rupanya berpikir saya tanya hotel karena mau cari cewek. Model yang dia maksud adalah postur dan wajah cewek yang bisa dia bawa ke hotel yang disepakati.

Yang ditawarkan tukang becak itu cara konvensional. Pemesan hanya bisa menunggu. Sedangkan sekarang cewek yang dipesan bisa dilihat di layar telepon pintar dalam genggaman.

Laki-laki tidak berpikir bayaran. Bayangkan ketika seorang artis ditangkap Polda Jatim di Surabaya, Januari 2019, tarif artis itu Rp 80 juta untuk short time. Sedangkan seorang model, yang juga ditangkap Polda Jatim, mematok tarif Rp 25 juta sekali kencan.

Untuk apa seorang laki-laki mengeluarkan uang sampai puluhan juta rupiah hanya untuk seks?

Agaknya, laki-laki yang memesan artis dan model atau mahasiswi melalui prostitusi online tidak hanya sekedar untuk menyalurkan dorongan hasrat seks semata, tapi mereka ingin ‘menikmati’ kemolekan artis dan model yang jadi image (imajinasi). Laki-laki membangun gambaran cewek idolanya berdasarkan angan-angan dia tentang model, artis dan mahasiswi.

Padahal, dengan mempunyai istri atau pacar gelap tidak perlu uang sebanyak itu itu sekali seks. Laki-laki rela membayar mahal untuk mendapakan sesuatu yang mereka sukai berdasarkan imajinasi yang mereka bangun tentang perempuan yang mereka idamkan.

Ada juga laki-laki yang membeli seks karena gagal melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Ada pula laki-laki yang merasa lebih bebas melakukan berbagai gaya dengan cewek prostitusi online karena di rumah bisa jadi istri mereka menolak melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya.

Ledakan AIDS

Maka, amatlah jamak terjadi laki-laki yang merayu PSK selalu menjelek-jelekkan istrinya. Misalnya, dengan mengatakan istrinya tidak bisa goyang ketika seks, dll. Tapi, bisa juga laki-laki yang gemar membeli seks karena ingin memuaskan dirinya dengan fantasi yang erotis dengan cewek-cewek yang mereka dapatkan melalui prostitusi online.

Yang dikhawatirkan prostitusi online jadi media penyebaran ‘penyakit kelamin’ (istilah yang benar adalah IMS yaitu infeksi menular seksual yakni penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, virus kanker serviks, dan HIV/AIDS).

Celakanya, perihal penularan HIV/AIDS selama ini informasinya tidak akurat karena dibumbui dengan norma, moral dan agama sehingga yang ditangkap masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah). Misalnya, menyebut penularan HIV/AIDS terjadi jika melakukan hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran.

Nah, laki-laki yang membeli seks secara online menganggap model, artis dan mahasiswi bukan PSK sehingga tidak ada risiko tertular HIV/AIDS. Ini menyesatkan karena dalam prakteknya cewek-cewek yang dibeli melalui prostitusi online, yang disebut artis, model atau mahasiswi, sama saja dengan PSK. Sama seperti PSK karena mereka juga melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari laki-laki yang mereka layani mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Laki-laki, bisa jadi ada yang beristri, yang membeli seks melalui prostitusi online akan jadi mata rantai penyebaran IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus jika mereka tertular IMS atau HIV/AIDS. Kasus IMS, terutama sifilis, dan HIV/AIDS banyak ditemukan pada ibu rumah tangga.

Lihat saja data yang dipublikasikan oleh Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, ini. Dari tahun 1987 sampai Juni 2019 jumlah kasus AIDS pada ibu rumah tangga dilaporkan 16.854. Jumlah ini menempatkan ibu rumah tangga sebagai terbanyak kedua jumlah pengidap HIV/AIDS. Sedangkan jumlah ibu hamil yang terdiagnosis mengidap sifilis sebanyak 13.593. Mereka itu tertular HIV/AIDS dan sifilis dari pasangannya, dalam hal ini suami mereka.

Cewek yang terlibat dalam prostitusi online, mereka disebut PSK tidak langsung, melakukan transaksi seks dalam bentuk pelacuran yang tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dilakukan intervensi untuk memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Itu artinya prostitusi online jadi salah satu sektor yang mendorong penyebaran IMS dan HIV/AIDS di Indonesia yang kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. []

* Syaiful W. Harahap, Redaktur di tagar.id

Berita terkait
Mensos: Situs Nikahsirri Berpotensi Pelacuran Terselubung Modus Agama
Mensos menganggap situs online nikahsirri berpotensi menjadi praktik pelacuran terselubung dengan modus agama.
5 Fakta Putri Amelia Terjerat Kasus Prostitusi Online
5 fakta Putri Amelia, finalis Putri Pariwisata dan ikon pariwisata Danau Toba terjerat prostitusi online.
Kenapa AIDS di Pekanbaru Banyak pada Ibu Rumah Tangga?
Dalam berita “Dinkes Pekanbaru Deteksi 176 Kasus Baru HIV/AIDS” di “Tagar.id”, 30 September 2019, ada beberapa pernyataan yang tidak akurat
0
Ini Alasan Mengapa Pemekaran Provinsi Papua Harus Dilakukan
Mantan Kapolri ini menyebut pemekaran wilayah sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.