Kebencian Terhadap Warga Asia di AS Menyebar di Media Sosial

Sejumlah laporan terkait kekerasan antiasia di seluruh AS telah jadi berita utama baru-baru ini, sentimen anti-Asia juga muncul secara online
Warga AS, sebagian besar warga keturunan Asia, melakukan aksi unjuk rasa menuntut dihentikannya kebencian anti etnis Asia dalam aksi di Manhattan, New York, AS, 2021 (Foto: Dok/voaindonesia.com/Reuters).

Jakarta - Peningkatan jumlah serangan dan kekerasan terhadap warga dan keturunan Asia di Amerika Serikat (AS) terus terungkap. Namun, umpatan juga terjadi secara online. Sekitar 17% warga Asia-Amerika melaporkan telah mengalami pelecehan secara online yang parah menurut survei bulan Januari 2021 yang dilakukan Liga Anti-Pencemaran Nama Baik (Anti-Defamation League). Angka itu naik dari 11% tahun sebelumnya.

Sei Chong, pimpanan editor dari Morning Consult mengemukakan, “Berbicara pelecehan secara online, 75% orang dewasa Asia yang mengalami pelecehan menyatakan itu karena ras dan etnis mereka. Itu sebenarnya sedikit lebih tinggi dibandingkan orang dewasa kulit hitam dan Hispanik yang juga mengalami pelecehan secara online.”

Morning Consult melakukan survei pada 1.000 orang dewasa Asia bulan Maret lalu dan menemukan 29% pernah mengalami pelecehan online, dengan 58% insiden terjadi di media sosial. Chong berpandangan dampak pelecehan itu lebih buruk daripada yang dilaporkan.

demo aktivis sosial di laAktivis sosial berkumpul untuk demonstrasi di Balai Kota di Los Angeles, California, AS, 27 Maret 2021, mencela sentimen dan kebencian anti-Asia Amerika dan Kepulauan Pasifik (Foto: AFP/Frederic J. Brown)

Sementara Yulin Hswen, dosen pengajar epidemiologi dan biostatistik menguraikan, “Dunia online menjadi lingkungan kita sekarang. Itu mempengaruhi orang-orang. Kalau itu terjadi secara daring, maka itu perlu ditanggapi dengan serius seperti halnya kalau terjadi secara luring.”

Profesor Universitas California itu mempelajari berkembangbiaknya tagar anti-Asia di Twitter. Yulin mengungkapkan pada titik tertentu, perlu diperhatikan korelasi dan tanda-tanda yang berjumlah sangat besar itu sehingga tidak dapat diabaikan lagi.

demo antiasiaSeorang demonstran berdiri di antara bendera AS dan sebuah poster saat unjuk rasa menentang kejahatan kebencian terhdapa warga Asia-Amerika di luar balai kota Los Angeles, California, 27 Maret 2021. (Foto: voaindonesia.com - Ringo Chiu/Reuters)

Ketika ujaran kebencian online menular, kebalikannya juga dapat dibenarkan – kata profesor Georgia Tech, Srijan Kumar. “Jika Anda dapat menyebarkan sanggahan terhadap pesan-pesan ujaran, jika Anda dapat mendukung, mendorong, dan menyatakan solidaritas sekaligus membela entitas Asia, maka itu pada dasarnya akan menciptakan suatu efek kaskade (berkembang secara berurutan) yang tak terhindarkan dalam sistem sosial masyarakat,” ulasnya.

Kumar menjelaskan paparan terhadap ujaran balasan berpotensi mencegah para penggunanya menjadi pembenci.

Dalam perang melawan kebencian secara online, para pakar tersebut menyatakan bahwa semua itu tergantung kekuatan kata-kata yang dilontarkan (mg/lt)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Jajak Pendapat: Warga Amerika Percaya Anti-Asia Meningkat
Mayoritas warga AS di semua kelompok ras dan etnis percaya diskriminasi memburuk pada tahun lalu terhadap orang Amerika keturunan Asia
Dua Pria Tersangka Antiasia Didakwa Jaksa di Amerika
Jaksa di Seattle dan San Francisco, Amerika Serikat (AS) telah mendakwa beberapa laki-laki dengan kejahatan yang dipicu kebencian antiasia
2 WNI Diserang di Philadelphia Terkait Antiasia di Amerika
2 WNI diserang di Philadelphia terkait antiasia di Amerika, KJRI NY tanyakan tindak lanjut penyelidikan pada Otoritas Philadelphia
0
Kebencian Terhadap Warga Asia di AS Menyebar di Media Sosial
Sejumlah laporan terkait kekerasan antiasia di seluruh AS telah jadi berita utama baru-baru ini, sentimen anti-Asia juga muncul secara online