Oleh: Denny Siregar*

Saya mendengar berita yang menggembirakan tentang bebasnya Ahok dari tahanan waktu itu.

Dan kebebasan itu disambut banyak orang yang menantikannya. Mereka masih terngiang tentang perjuangan Ahok membangun Jakarta, Pilgub DKI yang penuh SARA dan matinya hukum negeri ini ketika Ahok dipenjara karena dituding menista agama.

Kebetulan keluarnya Ahok dari penjara bersamaan dengan Pilpres 2019 dan ini bisa jadi momentum yang akan mengangkat elektabilitas Jokowi. Semua orang tahu bahwa saat berpasangan kursi DKI tahun 2012 lalu, Jokowi dan Ahok terlihat sebagai pasangan kompak.

Tapi menariknya, Ahok malah menghilang. Ke mana dia sebenarnya?

Bisik-bisik menuju bebasnya Ahok, saya mendengar pihak istana pusing tujuh keliling. Karena ada pihak-pihak yang ingin kembali menjadikan Ahok sebagai sasaran tembak mengulang sukses Pilgub DKI 2017.

Ahok sendiri di penjara menyatakan, bahwa ia dan KH Ma'ruf Amin sebagai Cawapresnya Jokowi tidak punya masalah. Malah ia berikrar akan membantu KH Ma'ruf Amin kampanye keliling Indonesia sebagai bukti bahwa di antara mereka tidak ada apa-apa.

Tapi justru itulah yang membuat puyeng kepala.

Pihak istana tahu, bahwa Ahok tanpa kamera dan Ahok di depan kamera bisa menjadi pribadi yang sangat berbeda. Ahok di depan kamera menjadi arogan dan ingin tampil di depan.

Nah, yang ditakutkan Ahok akan kembali slip of tongue atau keseleo lidah saat di depan kamera, sama seperti ketika ia berbicara di Pulau Seribu dengan bahasa "Jangan mau dibohongi dengan surat Al Maidah 51".

Ini akan menjadi pintu gerbang kedua untuk membangun kekuatan demo besar yang dimainkan secara politis untuk mengacaukan Pemilu tahun ini. Dan jika itu terjadi, dampaknya akan sangat mahal.

Memang sampai sekarang, situasi Pilpres jadi terkendali ketika dua musuh bebuyutan, Rizieq Shihab dan Ahok ada di luar negeri. Mereka terpisahkan jauh sehingga tidak lagi memantik api di negeri ini

Karena itulah, pihak istana buru-buru mendekatkan Ahok pada Oesman Sapta Odang atau OSO. OSO menjadi juru bicara tidak resmi untuk "menyingkirkan" Ahok dari pentas Pilpres 2019 supaya jangan ada masalah yang bikin runyam kembali.

Kebetulan Ahok juga sudah mendapat calon istri baru, maka tanpa Ahok sadar ia "diusir" dulu dari Indonesia dengan bulan madu keluar negeri selama yang ia suka. Nanti baru datang sesudah Pilpres selesai dan situasi tenang.

Dengar dengar, Ahok sempat ngambek dengan wacana itu awalnya. Tapi karena Ahok hormat dengan OSO ya ia terima juga tawaran itu, toh menyenangkan. Siapa sih yang gak mau liburan sama istri baru dengan semua fasilitas mewah yang ditawarkan?

Itulah kenapa Ahok tidak terlibat intens dalam Pilpres 2019 ini. Ia sedang menikmati bulan madunya dan Indonesia menjalankan Pemilu dengan tenang. Lawan politik pun kehabisan bahan bakar untuk membangun narasi "penista agama" yang hendak diluncurkan.

Win win solution, bahasa kampungnya.

Memang sampai sekarang, situasi Pilpres jadi terkendali ketika dua musuh bebuyutan, Rizieq Shihab dan Ahok ada di luar negeri. Mereka terpisahkan jauh sehingga tidak lagi memantik api di negeri ini.

Kita memang kehilangan "api" yang biasanya menyala-nyala dan menambah bahan berita untuk Pilpres kali ini. Tapi jelas itu yang terbaik daripada sibuk memadamkan kebakaran yang bisa tak terkendali.

Mungkin Ahok sedang ngopi sambil berjemur di pantai di Eropa atau mengunjungi gereja-gereja tua di Itali. Mungkin juga dia sedang di Hawai sambil menari hula-hula. Semua pasti menyenangkan.

Yang tidak menyenangkan ya situasi si bibib di Saudi. Bayangkan, sudah tiap hari ketemu onta, cuaca panas, kepastian pulang juga semakin jauh apalagi ketika dia membaca survei yang terus menerus memenangkan Jokowi.

"Masak gua harus nunggu 5 tahun lagiii?" Teriakan frustasi terdengar dari sudut di rumah kontrakan kecil di Madinah.

"Rasain lu...," begitu mungkin kikik Ahok sambil menggandeng istri tercinta menikmati kemerdekaannya. Sementara si bibib semakin lama semakin terlupakan namanya.

Membayangkan si bibib tersiksa, rasanya pengen seruput kopi saking menyenangkannya....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: