Karyawan General Motors Kembali Mogok Kerja

Untuk kesekian kalinya karyawan perusahaan otomotif asal Amerika Serikat General Motors kembali melakukan aksi mogok kerja
Pabrik General Motor (Foto: Yahoo.com)

Jakarta – Para karyawan General Motors (GM) kembali melakukan mogok kerja yang telah berlangsung sejak 16 September 2019. Mereka menggelar aksi di halaman kantor di pabrik manufaktur Flint, Michigan, Amerika Serikat, dengan membawa perlengkapan untuk tinggal seperti makanan ringan, botol air mineral yang ditumpuk di atas meja.

Mereka juga membawa kayu tempat sampah baja untuk membuat api unggun. Mereka juga membawa tenda yang penuh dengan tulisan "The United Auto Workers union (UAW) Strike". Hal yang sama juga terlihat di pabrik Hamtrack yang dapat ditempuh satu jam dari Flint.

Sekitar 49 ribu karyawan melakukan aksi mogok sejak perusahaan otomotif itu mengalami masalah keuangan. “Kami siap berada di sini selama kami dibutuhkan” kata Inspektur Pengendalian Kualitas di pabrik Flint, Bill Brewer seperti yang diberitakan BBC, Senin, 14 Oktober 2019.

Aksi mogok ini merupakan yang ketiga kalinya. General Motors menderita kerugian 90 juta dolar AS atau setara Rp 1,3 triliun setiap kali terjadi mogok buruh. Para karyawan kehilangan uang meskipun Serikat Pekerja (UAW) menyediakan anggaran 250 dolar AS setiap minggu untuk setiap peserta yang mengikuti mogok kerja untuk membantu mereka bertahan hidup.

Stepahine Pink, seorang ibu berusia 31 tahun yang sudah bekerja di pabrik Hamtramck selama empat tahun, mengatakan serikat pekerja telah mengingatkannya untuk menabung sebelum terjadinya aksi pemogokan. “ini sangat sulit bahkan saya harus memakai uang tabungan. Tapi kami harus berjuang untuk menuntut apa yang menurut kami benar” katanya seperti yang dilansir BBC.

Pabrik Hamtramck tempat Stephanie bekerja dijadwalkan akan ditutup pada Januari 2020 mendatang. Serikat Pekerja ialah karyawan membuat konsesi selama krisis keuangan untuk mencegah GM mengalami kebangkrutan. Pada 2009 silam, General Motors mengajukan pailit. Utang yang semakin menggunung dan juga penjuala mobil yang melambat di tengah resesi global menyebabkan perusahaan tersebut berada di ambang kehancuran. Pemerintah Amerika Serikat tidak tinggal diam dan segera mengambil keputusan agar perusahaan dan industri ini tetap berlangsung dengan memberi kucuran dana (bailout) sebesar 40 miliar dolar AS untuk pinjaman sebagai ganti dari 61 persen saham pada perusahaan.

(Dimas Wijanarko)


Berita terkait
Enam Mobil Listrik China Mejeng di Pameran Otomotif
China merupakan pasar kendaraan listrik terbesar di dunia, mencapai 1,2 juta unit kendaraan listrik dan hybrid pada 2018.
Tujuh Museum Wajib Dikunjungi Pencinta Otomotif
Beberapa museum otomotif menjadi salah satu tujuan para pecinta otomotif untuk mengetahui mobil atau sepeda motor legendaris dari masa ke masa.
Lima Kaca Film Terbaik Rekomendasi Pecinta Otomotif
Kaca film efektif untuk menepis gelombang Ultra Violet dan gelombang Infra Red.
0
Biden Ingatkan Rakyat Amerika Terkait Pengorbanan Tentara
Presiden Biden beri penghormatan kepada korban perang AS dengan mengingat pengorbanan mereka untuk kebebasan Amerika