UNTUK INDONESIA
Kampus STIE IBMI Medan Dituduh Persulit Mahasiswa
Perguruan tinggi swasta itu menurut para mahasiswa mempersulit mereka untuk menuntaskan kegiatan akademik.
Mahasiswa STIE IBMI sedang menyampaikan keluhannya kepada anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan, di ruang rapat Komisi D, gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan. (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

Medan - Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Institut Bisnis Manajemen Internasional (STIE IBMI) diadukan ke DPRD Sumatera Utara, Rabu 3 Juli 2019.

Perguruan tinggi swasta itu menurut para mahasiswa yang mengadu, mempersulit mereka untuk menuntaskan kegiatan akademik di kampus.

Ones Lawolo, 24 tahun, mahasiwa jurusan Akuntansi di kampus yang terletak di Jalan Perniagaan Baru Nomor 33A-49A Medan tersebut, mengaku dirugikan dengan tindakan pihak kampus yang mengada-ada.

Dengan alasan selalu telat membayar uang kuliah, pihak kampus menekan seluruh nilai mata kuliahnya menjadi 0.00 dan 0.88, untuk semester tujuh.

Anjloknya nilai mata kuliah, membuat Ones diwajibkan memperbaiki seluruh nilainya, dengan syarat wajib membayar uang sebanyak Rp 6 juta per mata kuliah.

"Permasalahan saya, disuruh membersihkan nilai. Saya tidak sanggup membersihkan mata kuliah karena syaratnya membayar Rp 6 juta per mata kuliah. Darimana uang saya kalau seluruh mata kuliah harus saya bayar," ungkap Ones, mahasiswa semester akhir.

Beda lagi dengan Yasofati Gulo yang telah kuliah selama empat tahun, tapi namanya tidak pernah terdaftar dalam pangkalan data Dikti. Akibatnya, masa perkuliahan yang sudah dimulainya sejak tahun 2015 silam, tidak dapat selesai.

"Saya gak bisa tamat ini. Karena sampai sekarang, nama saya saja tidak ada dalam pangkalan data Dikti. Padahal, sejak mulai perkuliahan, saya selalu membayar dan mengikuti setiap kebijakan yang ditetapkan kampus," sambung Yasofati.

Kita desak LLDIKTI agar persoalan ini cepat selesai. Kasihan kawan-kawan mahasiswa

Persoalan lain juga dialami oleh Febrina Nainggolan, mahasiswa yang tamat tahun 2018 silam hingga saat ini belum menerima ijazah kelulusan. Pihak kampus menuding Febri belum menyelesaikan dua mata kuliah.

Febri menolak tudingan itu. Sebab, dia meyakini, tidak mungkin mengikuti prosesi wisuda jika belum memenuhi kewajiban akademiknya.

"Memang, saya dulu pernah cuti dengan alasan kerja. Itu tahun 2017, waktu saya semester 6. Tapi, saya sudah konsultasi dengan pihak kampus, apa saja syaratnya. Saat masuk kembali, saya penuhi semua syaratnya. Saya bayar Rp 500 ribu permata kuliah," ujar Febri.

Sementara, anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan yang menerima keluhan mahasiswa STIE IBM, menyatakan prihatin dengan kondisi tersebut.

Sebagai wakil masyarakat, ia berjanji untuk mendesak Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah I Sumut agar persoalan ini dibereskan, karena menyangkut pendidikan.

Dia juga akan mengomunikasikan hal ini ke Komisi E DPRD Sumut. "Kita desak LLDIKTI agar persoalan ini cepat selesai. Kasihan kawan-kawan mahasiswa. Karena ini masalah pendidikan, saya akan mengomunikasikannya ke Komisi E," tegas Sutrisno.

Sementara itu, Ketua STIE IBMI Siswanto belum berhasil dimintai keterangan terkait keluhan para mahasiswanya.[]

Baca juga:

Berita terkait
0
Suhu Makassar 38,2 Derajat Terpanas di Tahun 2019
BMKG mencatat suhu di kota Makassar mencapai 38,2 derajat celcius, suhu panas ini merupakan pertama dalam sejarah kota Makassar.