Oleh: Denny Siregar*

Akhirnya 3 emak-emak yang menyebarkan video kampanye fitnah di Karawang Jawa Barat, ditangkap.

Mereka langsung ditahan di Mapolres Karawang. Ketiga emak ini mengunggah video kampanye fitnah bahwa nanti ketika Jokowi memimpin maka azan akan dihilangkan, marak pernikahan sesama jenis sampai kerudung wanita akan dihilangkan.

Memang jahat sekali kampanye model seperti itu. Ketidakmampuan bersaing sehat, ketakutan akan kalah, menjadikan pendukung Prabowo akhirnya melakukan kampanye-kampanye brutal dalam mengejar ketertinggalan elektabilitasnya. Mereka sudah tidak punya etika dan adab lagi dalam mempromosikan calonnya, tetapi sibuk menghajar lawan politiknya dengan fitnah.

Apa yang terjadi di Karawang, adalah fenomena gunung es kampanye di Jawa Barat yang penuh fitnah.

Waktu di Banten, Jokowi pernah bicara bahwa dari hasil survei, masih ada 6 persen responden percaya bahwa dia adalah PKI. "Ini mengerikan...," kata Jokowi. " 6 persen itu berarti 9 juta orang."

Sudah banyak bantahan yang diberikan terhadap isu PKI itu. Tetapi entah kenapa isu itu bagi 6 persen masyarakat sudah menjadi seperti keimanan. Mereka sangat percaya sekali bahwa Jokowi adalah PKI, meskipun tanpa didasari bukti. Dan dalam keyakinan mereka, mereka tidak akan mungkin memilih PKI karena bertentangan dengan agama.

Bahkan peneliti Sjaiful Mujani Research & Consulting atau SMRC, Sirajuddin Abbas, pada tahun 2017 mengatakan bahwa "isu kebangkitan PKI tidak terjadi secara alamiah, melainkan hasil mobilisasi opini kekuatan politik tertentu, terutama pendukung Prabowo, mesin politik PKS dan Gerindra".

Kita boleh kasihan pada para emak yang ditahan kepolisian karena kampanye fitnah itu, karena mereka adalah ibu rumah tangga yang punya tanggung jawab rumah. Tetapi jika tidak ditangkap, maka akan menjadi satu kepercayaan dari banyak orang bahwa fitnah adalah sesuatu yang biasa dalam kampanye.

Dan jika itu terjadi, maka demokrasi kita akan menjadi demokrasi fitnah, memenangkan pemilu dengan segala cara. Jika dibiarkan, bisa terjadi perang saudara di negara kita.

Jawa Barat adalah PR terbesar. Provinsi yang selama bertahun-tahun menyandang gelar sebagai daerah dengan intoleransi tertinggi, harus dipecahkan masalahnya.

Apa masalahnya? Kemiskinan kebodohan.

Seperti kata Mendagri saat menegur Gubernur Aher waktu hendak membangun masjid sebagai proyek mercusuar di Jawa Barat tahun 2016. "Bayangkan saja, 50 persen penduduk Jawa Barat tidak punya MCK...," kata Mendagri.

Ah, jadi pengen minum kopi. Jawa barat, Jawa barat....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: