UNTUK INDONESIA
Josh Handani, Pasta Gigi Arang Bambu di Yogyakarta
Josh Handani di Yogyakarta membuat produk ramah lingkungan, pasta gigi arang bambu, sabun dan sampo minyak kelapa, sabun cuci piring daun sirih.
Josh Handani. (Foto: Dok Pribadi)

Yogyakarta - Bongkahan-bongkahan berwarna cokelat kekuningan tertata di atas nampan. Bongkahan itu merupakan sabun berbahan dasar minyak kelapa. Aromanya tak seharum sabun-sabun batangan produksi pabrik, karena dibuat tanpa menggunakan bahan pewangi. Sabun berbahan dasar minyak kelapa itu disebut sabun ramah lingkungan oleh pembuatnya, Josh Handani, 44 tahun.

Sabun itu dibuat di rumahnya di sekitar kawasan desa wisata Kasongan, Kabupaten Bantul, tepatnya Dusun Gesik, Kasongan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Suasana di situ sangat asri. Beberapa pohon besar berdiri tegak di sekitar lokasi. Pepohonan itu seperti meredam cahaya matahari sore yang masih menyengat.

Selama ini Josh dikenal sebagai praktisi holistic minimum waste lifestyle atau gaya hidup yang secara holistik menghasilkan sampah seminimal mungkin, khususnya sampah plastik.

Josh mengatakan berdasarkan data penelitian, jika disambung-sambung, sampah dari sedotan plastik di Indonesia, panjangnya sama dengan jarak dari Jakarta ke Meksiko.

Sampah-sampah tersebut, hanya bisa terurai setelah ratusan tahun. Selain itu, saat menggunakan sedotan plastik, penggunanya juga menelan mikroplastik, yang dampaknya baru akan dirasakan setelah terakumulasi selama 20 hingga 30 tahun.

Ternyata bagus, dan buat sampoan bisa hentikan ketombe saya. Buat cuci muka kok ternyata juga memberi kelembapan kulit. Maka mulai kami pakai sejak awal tahun ini.

Karya Josh HandaniSabun sekaligus sampo yang masih di cetakan, belum dipotong, menggunakan pewarna makanan. (Foto: Dok pribadi Josh Handani)

Josh adalah juga Ketua Forum Komunikasi Komunitas Peduli Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia menuturkan membuang sampah pada tempatnya adalah langkah pertama terkait kepedulian terhadap lingkungan.

Kemudian diikuti dengan memilah sampah dan mengolahnya. Dan level tertinggi dalam mengatasi masalah sampah adalah holistic minimum waste lifestyle, atau meminimalkan produksi sampah, seperti yang ia lakukan.

Ia berusaha semaksimal mungkin untuk hidup tanpa bahan plastik, agar tidak menghasilkan sampah plastik. Termasuk berusaha berhenti menggunakan pasta gigi, sabun, deterjen, dan segala macam yang dibungkus plastik.

Untuk mewujudkan itu semua, Josh berupaya menggunakan segala macam kebutuhan hidup sehari-hari dari bahan ramah lingkungan, meski dia harus memproduksi sendiri barang-barang itu.

"Kepikiran pengen berhenti nyampah dari bungkus pasta gigi, sabun dan sampo juga bungkus sabun cuci piring, selain juga sudah belajar akan bahayanya kandungan bahan kimianya. Maka kami belajar untuk mencari alternatif dengan membuat produksi sendiri yang dipastikan aman dan sehat," urainya, Sabtu, 18 April 2020.

Karya Josh HandaniSabun sekaligus sampo alami bahan minyak kelapa, yang agak kuning pakai pewarna dari daun katu. (Foto: Dok pribadi Josh Handani)

Awalnya Josh memproduksi sedotan dari batang bambu, yang telah dikirim ke beberapa negara, termasuk ke Belanda dan Inggris. Kemudian ia mencoba membuat pasta gigi dari bahan arang bambu.

Salah satu alasan pemilihan arang bambu sebagai bahan utama pasta gigi adalah karena bahan itu food grade, atau tidak berbahaya jika tertelan. Selain itu arang bambu pun mudah diperoleh di daerahnya.

Bahan lain adalah minyak kelapa, pemanis pakai bubuk daun stevia dan pure essential oil dan essence makanan, yang jelas aman jika tertelan.

Setelah berhasil membuat pasta gigi itu, Josh dan keluarganya mulai menggunakan sendiri pada bulan Oktober 2019.

Sabun dan Sampo Minyak Kelapa

Josh mengaku pernah mencoba membuat sabun cair dan sampo berbahan castile soap (sabun cair bahan enzim tumbuh-tumbuhan), tapi ia terkendala pada biaya produksi yang cukup mahal.

"Tapi kok masih mahal bahannya. Lalu partner saya, Filiana Dewi, bikin sampo dari enzim buah, sayur, dibikin sendiri. Pada perjalanan, saya terus mencoba-coba bikin sabun dan sampo karena suda merasa bersalah nyampah dari bungkus-bungkusnya," tuturnya.

Karya Josh HandaniPasta gigi bahan arang bambu food grade dan minyak kelapa. (Foto: Dok Pribadi Josh Handani)

Rasa bersalah itu terus timbul, terlebih Josh mengaku paham bahwa kandungan zat kimia dalam sabun dan samponya juga berdampak buruk bagi kesehatan secara akumulatif.

"Kalau coba-coba bikin sabun sudah agak lama, tapi belum merasa pede. Baru mulai akhir tahun lalu lebih intens, dan awal tahun ini sudah mantap hasil produk sabun yang sekaligus sampo berbahan minyak kelapa," tuturnya.

Setelah berhasil membuat sabun dan sampo, pada awalnya Josh mencoba menggunakannya untuk diri sendiri dan keluarga. Tujuannya untuk mengetes sabun buatannya. Hasilnya cukup menggembirakan, ketombenya hilang setelah menggunakan sampo buatan sendiri.

Sementara, sabun produksinya diklaim mampu melembapkan kulit wajah. Sehingga Josh mulai memproduksi dalam jumlah lebih banyak. Agar bukan hanya dia dan keluarganya yang menggunakan sabun berbahan alami tersebut.

"Ternyata bagus, dan buat sampoan bisa hentikan ketombe saya. Buat cuci muka kok ternyata juga memberi kelembapan kulit. Maka mulai kami pakai sejak awal tahun ini," ujarnya.

Tidak puas dengan keberhasilan memproduksi pasta gigi dan sampo, Josh pun mencari tahu cara membuat sabun cuci piring. Sebab, sepengetahuannya sabun cuci piring berbahan kimia juga berdampak kurang baik terhadap kesehatan.

"Merambah ke sabun cuci piring, karena yang kami pelajari dari berbagai tulisan penelitian, sabun cuci piring kimia ternyata juga berdampak kurang baik bagi kesehatan, maka Filiana Dewi mulai membuat sabun cuci piring alami. Kami sedang uji coba bikin deterjen alami juga," tuturnya.

Karya Josh HandaniSabun cuci piring alami, yang kanan (hijau) dari daun katu dan sirih, yang kekuningan dari lidah buaya. (Foto: Dok Pribadi Josh Handani)

Pemasaran dan Cara Pembuatan

Setelah berhasil memproduksi beberapa jenis kebutuhan mandi dan mencuci tersebut, serta menggunakannya untuk kebutuhan pribadi, Josh pun perlahan meningkatkan produksinya untuk dijual.

Josh dan Dewi memanfaatkan media sosial dan jejaringnya untuk memasarkan produk. Beberapa rekannya yang berasal dari luar negeri dan kebetulan berkunjung pun dititipi beberapa jenis produk.

"Online, Mas, juga kasih sampling ke beberapa teman asing maupun lokal dan syukur pada cocok terus mulai beli. Ini masih awal sekali, tapi makin banyak yang sadar untuk beralih ke yang alami karena alam terjaga," ujar Josh.

Josh juga mengaku berniat memberdayakan warga di sekitar rumahnya untuk memproduksi sabun serta sampo itu secara massal

Terlebih saat ini dampak pandemi Covid-19 membuat sebagian masyarakat terpaksa dirumahkan. Tapi, Josh mengaku terkendala modal untuk mewujudkan hal itu.

"Asal ketemu investornya. Untuk peralatan, laboratorium produksi dan pengembangan lain. Sangat jelas bisa berdayakan masyarakat sekitar yang terdampak Covid-19 karena bisa kerja secara berjarak," kata Josh.

Apalagi secara umum harga barang-barang buatannya memang lebih mahal daripada sabun dan sampo buatan pabrik. "Harga lebih mahal dari umumnya pabrikan meskipun tergantung merek juga sih. Pabrikan produksi sangat massal dan bahan-bahannya juga berbeda."

Selain bahan baku yang harganya cukup mahal, proses pembuatan sabun dan sampo itu juga memakan waktu cukup lama, yakni mencapai tiga pekan sejak proses awal pencampuran bahan hingga pemotongan.

Untuk bahan dasar, Josh menggunakan minyak kelapa produksi warga tetangga desanya, Iye (NaoH), air destilasi, essential oil, serta pewarna makanan jika diperlukan.

"Prosesnya, campur air destilasi dengan lye, tunggu sampai dingin, setelah itu campurkan dengan minyak kelapa, diaduk, mulai agak kental, masukkan essential oil dan warna, aduk sampai pada tahap samponisasi sempurna, lalu pindah ke cetakan. Tunggu 24 sampai 48 jam lalu potong-potong sabun, biarkan selama minimal tiga minggu sabun, sampo, siap dipakai," tuturnya.

"Kenapa kami melakukan ini? Karena bagian dari praktik holistic minimum waste lifestyle, dan coba membuat sistem sendiri supaya enggak selalu bergantung pada hipnosis industri besar yang berdampak kurang baik bagi alam, sosial, dan budaya." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Senyum Kartini di Tengah Muram Pandemi Covid-19
Di tengah muram pandemi Covid-19, senyum terulas di bibir Hilda Agustini, dara berjiwa Kartini yang tak takut bermimpi setinggi bintang di langit.
Kisah Cut Nyak Dhien di Masa Tua, Berakhir Sepi di Negeri Seberang
Kisah Cut Nyak Dhien, wanita perkasa, pahlawan yang sebenarnya dari suatu realita zamannya. Berakhir sepi di negeri seberang.
Listrik Gratis Tiga Bulan Darurat Covid-19
Sariman, Frida, Yuli, warga Yogyakarta menceritakan pengalaman menikmati listrik gratis dan dapat diskon di tengah situasi darurat Covid-19.
0
Jelang Buka Puasa Jalur Perkotaan Cianjur Disekat
Sejumlah polisi di Cianjur lakukan penyekatan di pusat kota Cianjur sebagai upaya untuk menghindari kerumunan warga